Aroma Karsa, Harum Mewanginya Kata-Kata

_thumb60.jpg

 

Dewi Lestari, a.k.a Dee, a.k.a Ibu Suri, a.k.a Maksur, ada dalam jajaran 3 teratas penulis favorite saya. Yang pertama adalah Pramoedya Ananta Toer, disusul di urutan kedua adalah Haruki Murakami, dan Dee menutup daftar singkat ini.

Ketiga penulis tersebut memiliki ciri dan kekuatan masing-masing dalam menuliskan apa yang ada di dalam alam khayal mereka. Pramoedya dengan detailnya yang memukau, pesannya yang sangat kuat, dan cerita yang menggebu-gebu. Membaca karya beliau seakan berada di dalam kereta cepat yang melaju kencang melintasi gunung, lembah, bukit dan lautan. Lain lagi dengan Murakami, yang perhatiannya terhadap kejadian-kejadian kecil tidak kalah memukau, namun gaya bahasa quirky yang menjelaskan adegan demi adegan yang bergantian dengan psabar menjadikan kita seperti berada di dunia lain, di mana waktu berjalan sangat lambat. Lain halnya lagi dengan Dee, ia tak bercerita dengan menjura, tetapi bahasanya yang tampak sederhana memiliki keindahan yang tiada tara. Membaca karya-karyanya, seakan kita ada di dalam setiap tarikan nafas karakter-karakter yang ada di dalamnya. Kita menjadi seperti mereka, manusia biasa dengan kisah yang tak ada dua.

Hal itu pulalah yang terulang kembali saat saya membaca Aroma Karsa. Meski di awal-awal saya ragu untuk mengikuti cerita bersambungnya yang disajikan secara digital (saya tergolong kolot dalam membaca, kertas menurut saya tak dapat menggantikan layar kaca secanggih apapun), tetapi saya tidak menyesali keputusan untuk berkata let’s do this!

Premisenya, seperti yang saya tuliskan di atas tentang kekuatan Dee, sederhana saja sebetulnya. Kisah tentang seorang pemuda miskin bernama Jati yang bertemu dengan perempuan kaya nan cantik bernama Suma, lalu mereka berdua mengalami berbagai konflik. Sekilas tampak seperti kisah sinetron Indosiar atau FTV SCTV ya? Tapi, bagaimana jika kemudian ternyata pemuda tersebut bisa mendeteksi berbagai macam benda hidup maupun mati dengan penciumannya yang bisa mendeteksi hingga senyawa terkecil? Bagaimana jika sang perempuan ternyata memiliki hubungan dengan sebuah bunga sakti dari kerajaan Majapahit? Bagaimana jika 2 ternyata tersebut kalau bertemu ternyata memiliki dampak yang sangat besar bagi umat manusia? Maka, terjadilah sebuah kisah manusia biasa dengan kisah yang tak ada dua.

Bagaimana tak ada dua? Siapa yang terpikir untuk mengangkat penciuman menjadi inti cerita? Membaca cerita tentang pemandangan, atau bahkan peperangan dapat membawa kita membayangkan kejadian-kejadian tersebut. Tapi bagaimana membawa pembaca membayangkan wangi-wangian? Nah disitulah kesaktian Dee terjadi, ia kembali dapat membawa saya untuk mengambil bagian dari nafas para karakter-karakter yang ada. Membaui apa yang Jati cium, mulai dari harumnya parfum hingga bau busuknya mayat. Turut pusing tujuh keliling saat Suma bertemu Jati untuk pertama kali. Turut berlompatan di antara pohon-pohon. Turut berdegup kencang saat membaca sebuah kalimat “Semalaman aku memikirkan kamu.”

Bagian terbaiknya adalah, saya mengalami itu semua dalam sebuah roller coaster ride dimana roller coasternya suka ngadat. Senin roller coasternya nanjak, begitu mau sampai puncak eh dia berhenti alias bersambung, kamis lanjut turunan, tanjakan, berhenti lagi di puncak, begitu terus sampai 18 bab.

Pengalaman yang berbeda dibanding baca buku biasa yang biasanya saya habiskan kurang dari seminggu untuk buku-buku Dee ini semakin sempurna dengan takaran yang pas, tidak seberat KPBJ, sekaligus juga tidak seringan perahu kertas yang saya habiskan dalam 1 malam saja. Semua pas, cerita tentang pribadi masing-masing karakter pas, konflik di antara mereka pas, kisah percintaannya pas sekaligus bikin engap, kisah petualangannya pas, dramanya pas, aksinya pas, apalagi didukung oleh riset yang cukup dalam tapi tidak sampai membuat pusing. Everything are just perfect.

Saya gak akan cerita lebih banyak soal kisahnya karena itu semua harus kalian alami sendiri bagian demi bagian hingga pada saat terakhir yang akan bikin kalian berteriak “Anjiiirrrr!!!! Ini memang karya terbaik seorang Dewi Lestari!!”

 

Advertisements

Ceritanya KOZI

IMG_3572

Sudah lama kepingin menulis cerita tentang KOZI, tentang awal berdirinya, tentang semangat yang ada di dalamnya. Sudah lama juga ragu, karena berasanya belum jadi apa- apa (emang belum sih), karena takut ada kesombongan di dalamnya (hal yang paling bikin gue takut karena sombong itu katanya gak dirasakan sama orang yang melakukan), karena nunggu mood yang pas, dan karena-karena yang lainnya. Dan di ulang tahunnya yang ke-2 ini, gue akhirnya memutuskan untuk menuliskannya, hanya dengan tujuan siapa tau cerita sederhana ini bisa mengisnpirasi segelintir orang, dan supaya mereka yang terlibat saat ini dalam keluarga KOZI bisa semakin merasa memilikinya.

Here we go…

Cerita KOZI ini diawali dari 27 tahun lalu, saat seorang anak manusia bernama Rama lahir di muka bum *bletak!! “Woi, gak usah lebay! Dan gak usah berdusta wahai penulis!”

Ok..ok…

Here we go…again…ceritanya KOZI dari sisi gue *karena ceritanya dia ini bisa dipandang dari berbagai sisi.

Gue sempat menjalani hidup serabutan selama hampir 32 tahun lamanya, hampir selama order baru. Serabutan dalam hal ini ngerjain apa aja yang penting bisa dapet duit buat makan, mulai dari bau asap karena jadi koki rumah makan Batak, terus jadi creative di sebuah Event Organizer yang jarang bikin event, terus jualan kasur yang lebih banyak ghibah bareng enci-enci tokonya daripada jualannya, terus ngundang-ngundang temen dankeluarga terdekat untuk mempresentasikan sebuah bisnis baru yang menawarkan kehidupan yang bebas secara finansial (you know lah ya?), terus nongkrong bareng supir-supir akap di bagian logistic, jadi branch manager asuransi yang nama manager cuma hanya sekedar nama tanpa berhasil jual 1 premi sekalipun, terus keliling kota nyari rumah-rumah buat dijual (nah yang ini lumayan nih duitnya meski easy come easy go), terus jadi bos kecil di sebuah developer perumahan kecil, terus jadi creative lagi di sebuah komunitas ternama bernama iPhonesia (salah satu masa terseru dalam hidup gue), dan lalu kemudian pada akhirnya gue menemukan rumah gue di industri Kopi.

Kenapa gue bilang gue menemukan rumah, dan kenapa mesti gue ceritain juga paragraf panjang di atas? Supaya kalian bisa lebih punya gambaran soal cerita di paragraf berikut. *bertele-tele yeh?

Oke jadi gini, setelah berganti-ganti kerjaan tanpa berhasil menemukan apa yang bener-bener pengen gue kerjain suatu hari sekitar 5 tahun lalu duduklah gue di sebuah kedai kopi kecil di pusat kota Jogja (waktu itu lagi mengadu nasib di sana). Niatnya cuma pengen nyari tempat tenang buat baca buku, dan karena namanya kedai kopi ya masa mesennya es teler kan gak mungkin jadilah gue pesen kopi. Awalnya minum agak ngeri-ngeri sedap karena pada hakekatnya gue suka kopi tapi perut gue sensian, mungkin karena empunya berbintang Pisces. Setiap abis minum kopi pasti mules, perih, keringet dingin, mata berkunang-kunang bagai Bagito Group. Tapi ternyata, setelah habis segelas, perut gue aman-aman aja tuh. Apakah karena itu gue pesen gelas kedua? Tentu saja tidak karena saat itu gue masih seperti orang kebanyakan, pesen satu nongkrongnya jam-jaman. Saat itulah perkenalan pertama kali gue terhadap yang namanya Specialty Coffee.

Sejak saat itu, hampir setiap ada waktu luang gue mampir ke kedai kopi itu. Sampai akhirnya dekat dengan para baristanya, dibikinin latte art yang selalu berbeda-beda di setiap kedatangan gue, mulai dari gambar kelinci di padang rumput sampe kelinci di bulan. Tapi sampai saat itu gue belum tertarik untuk mempelajari lebih lanjut soal kopinya, gue cuma suka banget sama tempatnya yang super cozy, dan pelayanannya yang ramah. Sampai suatu saat ada 2 temen gue dateng ke Jogja gue ajak ke tempat itu, pada saat itulah gue menceritakan khayalan gue bahwasanya suatu saat kalau gue balik ke Bandung lagi gue mau buka tempat kaya keda kopi ini, bakal gue kasih nama KOZI, sebuah kata baru (sok creative), plesetan dari Cozy, bernada ke-Jepang-Jepang-an (karena gue suka Jepang). Dari situlah, untuk beberapa saat khayalan itu hanya jadi khayalan seperti yang umumnya terjadi pada yang namanya khayalan.

Setelah petualangan gue di Jogja berakhir, terdamparlah gue di sebuah kota yang mungkin kalian semua pernah dengar bernama Jakarta. Di kota ini gue kerja bareng temen-temen dari iPhonesia, bikin berbagai kegiatan mulai dari Online Activity hingga Offline Activity seperti jalan-jalan ke Derawan hingga Raja Ampat, gratis. Seru banget! *Cerita jalan-jalan ini gak ada hubungannya sama inti cerita, cuma pengen pamer dikit HAHAHAHAHAHA. (tuh kan, emang bener sombong itu gak dirasain sama yang ngelakuin).

Lanjut…

Nah di iPhonesia ini awalnya kami gak punya kantor, jadi kalau meeting ketemu orang biasanya ya di tempat ngopi yang pada saat itu baru mulai berkembang dan masih bisa dihitung jari. Saat itulah gue mulai merasakan “Kok enaknya kopi bisa beda-beda gini ya dari satu tempat ke tempat lain?”. Mulailah ketertarikan gue sama Kopi turut berkembang juga, dari tadinya ngopi cuma kalau ada urusan kerjaan, sampai ke ngopi karena emang pengen ngopi dan nyobain tempat ngopi baru. Mulai dari duduk jauh dari Bar sampai ngopi di depan baristanya demi dapet icip-icip gratisan dengan mengucapkan kalimat sakti “Kok rasanya beda sama yang kemarin ya?”. Cobain deh ucapin kalimat itu, hampir dipastikan barista yang bertugas akan bergegas membuatkan kamu segelas kopi baru, ini rahasia ya jangan disebari-sebarin. Inilah masa-masa kegilaan gue terhadap kopi bermulai dan bertumbuh, bangun langsung mikir mau ngopi di mana, tidur ngimpiin mau ngopi di mana. Pokoknya mikirnya kopi mulu, kopi, kopi, kopi.

Tanpa disadari, lama kelamaan gue akhirnya punya geng nongkrong ngopi yang terdiri dari beberapa sahabat gue, dan suatu saat tanpa direncanakan pada suatu malam di bilangan Senopati gue dan 2 sahabat gue mencanangkan untuk bikin coffee shop bareng. Saat mikir mau dinamain apa,  gue cetuskanlah “Gue sih pernah pengen bikin namanya KOZI”, dan mereka menimpali dengan “Ya udah itu aja bagus kok”. Moment ini terjadi sekitar 3,5 tahun yang lalu atau sekitar  1,5 tahun sejak nama KOZI muncul pertama kali dan sekitar 1.567.876.729 tahun sejak peristiwa Big Bang.

Singkat cerita (akhirnya..ujar pembaca…), kami bertiga mengajak 2 sahabat kami lainnya yang berdomisili di Bandung, berdebat soal konsep, tempat, nyari investor dll sampai untuk beberapa waktu lamanya gak ada progres apa-apa, typical pengusaha muda yang baru mau mulai usaha hahaha. Singkat cerita lagi, tibalah saat dimana gue merasa gue harus balik ke Bandung untuk nemenin Nyokap yang tinggal sendirian ditambah gue dapet pacar anak Bandung yang akhirnya jadi partner juga di KOZI hihihihi.

Keputusan gue balik ke Bandung mau gak mau bikin rencana bikin KOZI semakin mendesak dengan bahan pertimbangan mau kerja apa nanti? Masa mau kayak dulu lagi cuma kerja sekedar kerja lagi? Mau sampe kapan? Mumpung ada yang gue suka kenapa gak gue seriusin? Bersamaan dengan kembalinya gue di kota Bandung , dimulailah perjalanan sebenarnya dari sebuah KOZI.

Bulan-bulan pertama kami habiskan untuk mencari tempat yang ternyata tidaklah mudah karena tempat haruslah menyewa, dan menyewa haruslah menggunakan uang yang tidak kami punyai. Gimana mau punya uang wong gak ada Investor yang mau berjudi memberikan uangnya kepada kami yang cuma punya modal passion dan semangat. Modal pengalaman? nol… Modal network? 0.5 lah. Akhirnya setelah melihat beberapa tempat strategis dengan sewa mahal yang tidak masuk di kantong kami, salah satu partner kami memberikan kabar “Eh gudang sebelah kantor gue mau dibuka tuh, murah kayaknya sewanya, dan katanya udah ada yang mau ngisi, sisa beberapa spot doang.” Ih kenapa gak ngabarin dari kemarin-kemarin sih? Tanpa banyak ba bi bu kami pun pergi melihat gudang tersebut.

Gudang yang dimaksud adalah sebuah gudang tua di komplek Tentara. Gudang yang ada di tengah-tengah komplek pergudangan yang tidak menarik sama sekali. Gudang yang kosong melompong, lembab, gelap dan gue yakin banyak penunggunya. Gudang yang berbeda, unik, bisa jadi asik, dan murah! Pada hari itu juga, menggunakan uang hasil projekan partner gue yang satunya lagi, kami ngedepein slot di gudang tersebut. Yeaaayy!! Akhirnya kami punya tempaattt!! Setelah itu pasti semuanya bakal berjalan lancar.

IMG_6832

Nggak juga, wong abis itu kami tetep gak punya duit. Itu slot cuma slot kosong bahkan tanpa dinding. Bikin dinding kan butuh duit belum lagi masang listrik, ngisi furniture, beli alat-alat, semua butuh lembaran kampret itu. Dan ternyata tempat itu gak bikin para investor ngelirik juga, siapa juga yang mau modalin buka usaha di gudang syaiton kayak begitu. Cukup pusing sih, tapi gue memutuskan untuk ngikut pusara semesta aja, Dia maunya gimana ta ikutin aja, gue berusaha gak mikirin besok gimana, nantinya  KOZI bakal jadi dibikin apa nggak, gue berusaha untuk melakukan dan memikirkan apa yang bisa gue lakuin hari demi hari aja. Mulailah gue keliling coffee shop di Bandung, kenalan sama para pelaku bisnis kopi, sambil ngumpulin duit buat tabungan kebutuhan KOZI disaat partner-partner gue yang lain nyebar-nyebarin proposal.

Duit mulai terkumpul dikit demi sedikit, 3/4 dinding bata akhirnya bisa terbangun dengan dana seminimal mungkin dimana salah satu pengiritannya yaitu kami memvernis dinding bata sendiri supaya gak bayar tukang yang hasilnya hampir gak keliatan hasilnya malah menghasilkan pemborosan dengan merayakan kelelahan memvernis dengan makan-makan di tempat mahal, geblek emang. Habis dinding berdiri, ngumpulin duit lagi. Gue terima kerjaan jagain stand mobil di IMS, lumayan 10 hari dapet 5 juta yang gue pake buat beli alat-alat. Dapet duit dikit lagi dipakai buat beli bangku bekas madrasah yang murah-murah. Dapet duit dikit lagi dipakai buat ngeberesin 1/4 dinding yang tadinya mau pakai besi-kaca akhirnya pakai jendela bekas supaya lebih murah. Semua pokoknya mesti murah dan kalau bisa dikerjain sendiri. Meja bar yang sampai sekarang goyang-goyang hasil bikinan tangan kami sendiri, meja tengah yang juga goyang-goyang you know lah, drum-drum yang dijadiin tempat duduk itu hasil barteran sama kamera lama gue.

Dan jadilah KOZI 1.0 Gudang selatan yang kalian kenal sekarang, yang tanpa arsitek, yang tanpa desainer interior, yang semuanya serba organik, yang hampir 70% nya terdiri dari barang-barang bekas. Yang pada tanggal 19 Desember 2015, sehari setelah Star Wars Force Awaken tayang di bioskop, 9 bulan setelah ngedepein tempat akhirnya membuka pintunya bagi para penikmat kopi di Bandung.

Dengan alat-alat serba manual, dimulailah perlayaran KOZI di blantika dunia kopi. Gue masih inget masa-masa bikin espresso pake ROK Presso yang bikin keringetan gara-gara ruangan panas tanpa AC yang waktu itu belum mampu kebeli, masih inget nyajiin Cappuccino sambil bilang “Maaf ya latte artnya jelek” karena gue sebagai barista satu-satunya emang belum bisa bikin latte art, masih inget deg-degannya takut gak ada orang yang dateng, masih inget senengnya pas ada orang yang dateng, masih inget obrolan-obrolan kopi yang terjadi di depan bar dengan posisi terbalik dari 1 tahun sebelumnya, masih inget dengan perasaan percaya gak percaya setiap nyalain lampu saat opening dan matiin lampu saat closing, masih inget segala macem cerita pahit dan manis yang terjadi dikarenakan situasi yang serba minim, masih inget ngomong dalem hati “Yes We did it!!”

Tanpa mikirin mau dibawa kemana KOZI ini, dan hanya berlandaskan kecintaan terhadap apa yang dikerjain, mengalirlah kehidupan di dalamnya. Mulai dari akhirnya dapet mesin kopi yang murah dan bisa dicicil, bergabungnya barista pertama yang berasal dari konsumen yang biasanya dateng buat numpang ngegiling kopi, munculnya menu Ayam Geprek yang merupakan makanan favorit kami bersama, terpasangnya AC setelah sekian lama menunggu duit buat naikin daya listrik, bergabungnya salah satu sahabat kami menjadi Barista dan akhirnya menjadi partner usaha, dimulainya Cup of Wishes dimana pengunjung menuliskan harapan-harapannya di gelas putih yang kami pajang di dinding dengan harapan harapan-harapan tersebut tidak menjadi sekedar harapan, bergabungnya salah satu konsumen yang dateng-numpang bikin kopi-pergi tanpa berkata sepatah katapun menjadi Barista juga, berdatangannya teman-teman media yang ingin meliput tentang keunikan KOZI (ternyata feeling kami bahwa gudang tua ini bisa menjadi sesuatu yang menarik betul adanya), datangnya ajakan untuk membuka cabang di Jakarta yang pada saat itu kami iyakan padahal di dalam hati mah gak pede sama sekali wong yang satu ini aja belum tentu jalan bener, bertemunya kami dengan teman-teman baru yang datang dengan segala macam aktivitas mulai dari hanya untuk ngopi, bekerja, membaca buku, atau pacaran dan berantem, hingga pada suatu hari seorang teman yang piawai dalam hal keuangan berkata “Bisnis kopi loe ini udah bagus, umurnya bakal panjang karena industri kopi sendiri bakal sustain, tapi buat loe sendiri gak bisa kalau cuma ngandelin satu, mesti loe lipat gandakan, minimal 5 lah.”

Damn, bener juga. Passion yang selama ini gue kerjain itu ibaratnya kendaraan, bensinnya ya tetep lembaran kampret yang gue ceritain di atas. Karena kalau mau jujur, emang gak gede-gede amat kok hasil dari bisnis kopi ini, apalagi dengan skala kecil kayak KOZI. Ya buat makan sih cukup, tapi kalau buat jalan-jalan ke Eropa, beli mobil mewah, atau sekedar beli tas Balenapalahitu mana cukuppp??!!! Kecuali dari yang kecil-kecil itu sumbernya banyak ya mungkin bisa. Tapi gimana caranya ya? Wong bikin satu aja jungkir balik koprol breuh sikap lilin dijadiin satu. Ya sudahlah, balik ke prinsip live in the present day aja, soal besok atau lusa, we’ll see. *udah kayak anak zaman now blum bahasa Endonesa sama Enggris dicampur-campur?

Ternyata memang semesta bekerja dengan caranya sendiri, yang gak bisa kita duga dan terka. Dan berhati-hatilah dengan apa yang kita pikirin, karena bila itu sesuai dengan berjalannya kehidupan maka satu persatu hal akan terjadi untuk mewujudkan pemikiran tersebut. Dengan catatan, kitanya terus mengerjakan apa yang kita kerjakan dengan sepenuh hati, mulai dari menyeduh kopi dengan penuh perasaan, menyapa konsumen dengan senyuman lebar, mencuci gelas sambil bersenandung, bahkan saat lelah mencapai titik tertinggi kita mengucap Alhamdulillah.

Kemudian suatu waktu, sekonyong-konyong tetangga di KOZI dateng ngajakin mengelola sebuah Rumah di bilangan Dago Atas, sebuah Rumah keren milik pasangan seniman yang dalemannya gak usah diapa-apain juga udah bagus banget dengan lukisan-lukisan keren dan suasana yang sejuk dan nyaman. Dibikinlah proposal untuk kerjasama ini, tanpa menunggu lama ada beberapa Investor yang mau mendanai. Dan pada bulan Maret 2017 lahirlah KOZI 2.0

Setelah itu segalanya tampak berjalan semakin lancar dan cepat, meski pada KOZI 3.0 yang lahir tidak lama kemudian agak berliku jalannya hingga berpindah tempat 2x sebelum menempati tempatnya yang sekarang di Hotel Malaka dan bernama KOZI 3.2

Lalu pada 18 Agustus 2017 terwujudlah ajakan setahun lalu dari seorang teman yang sekarang menjadi sahabat untuk membuka KOZI di Jakarta dengan nama KOZI 3.7 Jeruk Purut, yang kemudian disusul pada 25 November 2017 lahir KOZI 5.0 Bintaro atau dikenal dengan singkatan KOTARO, dan terakhir (sampai tulisan ini dibuat) berjalannya KOZI MOBILE 1.0 yang merupakan buah dari obrolan random pada suatu malam di KOZI 2.0.

Dari 3 orang pegawai, termasuk gue, di awal berdirinya hingga saat ini kami memiliki kurang lebih 30 orang yang menjadi nadi-nadi di tubuh KOZI gak ada satupun rasa yang dapat mewakili perasaan gue selain perasaan bersyukur. Bersyukur karena gue dikelilingi partner bisnis yang punya semangat yang sama, gak mata duitan, bisa dipercaya, bisa diandelin. Bersyukur karena diberi pasangan yang sangat mendukung dan menjadikan mimpi gue mimpinya dia juga. Bersyukur dikasih pekerja-pekerja yang gak itungan, rajin, sabar saat gue ngomel-ngomel, otaknya sengklek, setia, dll. Bersyukur karena diberi investor-investor yang mau percaya pada kami. Bersyukur telah dipertemukan dengan para konsumen yang menjadi pipa-pipa berkah rejeki kami. Dan bersyukur-bersyukur lainnya yang tidak ada ujungnya.

IMG_3560IMG_3562

Hingga saat ini, setelah berbagai hal yang terjadi gue semakin mempercayakan kehidupan gue sepenuhnya tehadap Sang Semesta, mengikuti jalan yang Ia tunjuk hari demi-hari. Jalan yang berawal dari sebuah Passion pribadi, hingga saat ini, saat gue melihat para Barista gue bekerja, baik bagi mimpi-mimpi dirinya sendiri maupun bagi orang-orang yang mereka kasihi, gue menyadari bahwa KOZI saat ini bukan hanya sekedar tentang gue, bukan sekedar tentang lembaran-lembaran kampret, tapi sudah menjadi sebuah kehidupan dimana sudah cukup banyak yang bertumpu kepadanya. Ya, seperti itulah gue harus memandang KOZI saat ini, apa yang setiap harinya gue lakukan akan berdasarkan kepada bagaimana menjaga kehidupan tersebut dapat terus hidup selama mungkin untuk dapat menghidupi sebanyak-banyaknya mahluk hidup.

Gue tahu, bahwa usia 2 bagi bisnis ini adalah usia yang sangatlah muda dan rentan, segala sesuatu yang terjadi di hari ini belum tentu masih ada pada 3 tahun kemudian. Tapi gue juga menyadari bahwa gue memiliki semuanya yang gue butuhin untuk menjalankan hari demi harinya KOZI, mereka-mereka yang kepadanya gue limpahkan rasa syukur gue, dan tentu saja Semesta dengan kekekalan hukum Alamnya yang selalu memberikan hasil akhir yang terbaik bagi seluruh kehidupan di dalamnya.

Akhir kata, selamat ulang tahun yang ke-2 KOZI, terima kasih sudah memberikan banyak sekali pengalaman kehidupan yang berharga, terima kasih sudah menjadi sumber kehidupan yang mudah-mudahan penuh berkah. Semoga hal-hal baik yang sudah terjadi dapat menjadi semakin baik, semoga hal-hal buruk yang pernah muncul dapat muncul kembali dalam bentuk yang lebih baik. Semoga cerita-cerita seru terus bermunculan, seperti cerita tentang KOZI 6.0 Bandung Creative Hub dan KOZI 7.0 Malang yang akan datang.

Sampai ketemu di Tahun depan guys! Makasih udah mau baca tulisan gak sesuai EYD ini. Semoga bahagia beserta kita semua!!

IMG_3561

 

Nyiur Di Pantai

Tersebutlah Nyiur, terlahir di pesisir pantai, memiliki mimpi menggapai angkasa, seperti kedua orang tuanya.
Tersebutlah Pasang, segerombolan ombak buas yang tak henti-henti menghantam pasir pantai, membabat siapapun yang bukan diri mereka.
Tak terhitung berkali banyaknya Nyiur dan teman-temannya terjatuh dan terseret Pasang, berdiri sedikit, terjatuh, hingga basah, kuyup, diiring suara tawa Ombak yang menggelegar di sepanjang pandang.
Tapi Nyiur tetap teguh pada mimpinya, untuk menggapai angkasa seperti kedua orang tuanya. Semakin banyak ia terjatuh semakin kokoh ia, semakin jauh ia diseret, semakin tinggi ia. Ada banyak temannya yang tak kuasa, lenyap terbawa ke tengah lautan sana, tapi Nyiur, tetap menatap angkasa.
Hingga pada suatu hari, Nyiur berhasil menggapai angkasa, seperti kedua orang tuanya. Sekejap ia menebar pandang ke penjuru Dunia yang terbentang di hadapannya lalu Ia pun menatap Pasang di bawah sana yang masih melakukan hal yang sama, menghajar siapapun yang tak sama, tak pergi kemana-mana, di bawah saja untuk selamanya.
*Menjadi nyiur tidaklah mudah, menjadi nyiur berarti menjadi yang lemah di hadapan yang punya kuasa, menjadi nyiur pastinya akan terjatuh, terseret, terluka, menangis. Tetapi seperti nyiur, tetaplah menatap angkasa, karena dengan begitu kita akan menatap dunia, berdiri tegak meninggalkan mereka yang tak kemana-mana.-
-Budaraa, 10/7/17-

Demo Angkot dan Kehidupan

Seorang penulis favorite saya pernah menulis “Hidup itu bagaikan samudera, dan manusia bagaikan pasir. Kita tinggal memilih, untuk melawan ombak lautan, atau menikmati gelombangnya”.

Saya selalu mengingat tulisan tersebut, dan berusaha untuk menerapkannya di setiap sisi kehidupan. Kenapa? Karena memang begitulah adanya.

Dipandang dari segi keagamaan, kita yang ada sekarang ini berawal dari satu proses penciptaan, kemudian menjalani jutaan tahun kehidupan, ribuan peradaban, tak terhitung lagi kehidupan dan kematian. Sebuah proses yang maha, super maha. Bisakah seorang kamu melawannya?

Dipandang dari segi ilmu pengetahuan, kita yang ada sekarang ini berawal dari satu proses ledakan bintang, kemudian menjalani milyaran tahun penyebaran energi yang berubah menjadi bintang, planet, galaksi, tata surya dan seterusnya seterusnya. Dan tahukah kamu bahwa semesta kita sekarang ini masih terus berkembang? Bintang demi bintang masih terus menjauh menuju tiada batas. Bisakah seorang kamu melawan kedahsyatan ini?

Jika kamu merasa ya, hampir bisa dipastikan kamu memandang hidup ini sebagai perjuangan berat. Pergulatan melawan halangan, kemarahan terhadap hambatan. Kamu akan super bahagia saat tujuanmu tercapai, dan super nelangsa saat garis finish itu tak kunjung tiba.

Jika kamu merasa tidak, ada dua kemungkinannya, kamu menjadi seonggok kayu yang terlempar kesana-kesini, atau menjadi plankton yang mengembara ke seluruh samudera. Kenapa begitu? Karena kamu menyadari ada sebuah kekuatan dahsyat yang membuat alam ini berputar, hidup, dan berdetak. Kamu tidak bisa berbuat suatu apapun terhadapnya kecuali mengikuti, menarik nafas sepanjang-panjangnya saat kamu dilemparkan ke langit tinggi, menahan nafas sedalam-dalamnya saat kamu ditenggelamkan ke dasar lautan. Tak ada suka berlebih saat mentari menerpa wajah, tak ada sedih yang terlalu perih saat hanya gelap yang bisa dipandang, karena kamu tau semua itu, keduanya, akan terjadi suka maupun tidak.

Jika kamu menyadarinya, niscaya tidak akan ada demo angkot, tidak akan ada kemarahan mereka terhadap apa yang mereka sebut pesaing. Karena mereka akan mengerti, bahwa apa yang terjadi saat ini dalam kehidupan mereka adalah keinginan dari kehidupan itu sendiri. Yang bisa mereka, dan kita lakukan hanyalah berlaku sebaik-baiknya terhadap apa yang terjadi, berbuat apa yang kita bisa, menerima,dan menikmati sajian yang hanya bisa kita nikmati satu kali saja.

Gitu…

-Budaraa, 090317-

Bahagia dan Alasannya

Di awal kehidupan, kita menikmati kehidupan apa adanya. Tertawa terpingkal melihat teman terpeleset, menangis tersengguk menunggu Ibu yang tak kunjung pulang.

Menjejaki fase yang lebih ramai, kita mulai dikenalkan pada berbagai hal baru mengenai kehidupan, tangis menjadi luka, tawa berarti bahagia. Sayangnya, semua tidak seperti dulu kala, yang mengalir begitu saja. Luka terkadang menjadi pintu bagi sang bahagia untuk menjadi nyata, bahagia terkadang menjelma begitu saja menjadi luka. Kita semua pernah mengalami mencinta begitu dalam hingga saatnya air mata pun tak mampu mengobati perih yang menganga. Kita semua pernah menjadi tokoh cerita yang berpeluh, tersayat, untuk meraih cahaya di depan sana. Hidup menjadi terlalu poranda, air yang muncul dari perut bumi menjadi berbagai cabang, bagai pembuluh yang menghidupi kulit dunia.

Tibalah saat yang lebih sunyi, saat kita mulai lelah terhadap semua hiruk pikuk yang ada. Saat kita memutuskan untuk, bahagia. Saat kita meyakini bahwa untuk meraihnya hanyalah persoalan pikiran, hanyalah tentang sebuah bunyi di dalam benak “Kamu bahagia hanya saat kamu nyatakan kamu bahagia, tak ada yang lainnya.” Saat inilah hidup terasa sangat mudah, sangat indah, tetapi ternyata semu belaka.

Lalu datanglah waktu itu, waktu di mana kita melihat, sebenar-benarnya, tentang apa dan siapa yang ada di sekeliling kita. Tentang apa yang menjadi tempat tanganmu bekerja, tentang siapa yang mendengar patah demi patah kata yang keluar dari bibirmu. Ternyata bahagia bukan tentang dirimu, dan dirimu, tapi tentang aku, dia, kita, dan semua. Untuk mencapainya tidak cukup hanya berkata-kata saja, kita harus berusaha, menempatkan orang-orang yang tepat di sekeliling kita, melakukan sesuatu yang dapat dicintai oleh segenap indera kita. Bahagia bukan soal kata-kata saja, tetapi ia adalah tentang mencipta alasan untuk berbahagia.

Kalau tidak percaya, tanyalah kepada pemungut sampah itu, yang kita pikir ia bisa berbahagia hanya dengan merasa berbahagia. Ia bisa saja bahagia, jika setiap kayuhan yang ia lakukan memiliki arti, bagi istri, dan mungkin anak-anaknya. Jika tidak? Tanya saja kepada orang kaya itu, yang kita pikir ia bisa berbahagia dengan segala yang ada. Ia bisa saja tak berbahagia, jika tak ada satupun dari lembaran uang yang ia punya tak berarti di hadapan sesama manusia. Bahagia tak dapat dibeli, pun ia sangatlah murah untuk diraih, kita cukup menukarnya dengan sebuah alasan.

Kemudian sang akhir dari perjalanan waktu datang juga, ada dari kita yang merasa sia-sia, ada dari kita yang mengucap selamat tinggal dengan tawa, semua hanya karena dua hal; bahagia, dan alasannya. Untuk mereka yang belum menemukannya, carilah, carilah dengan tangis dan tawa seperti yang kita lakukan di awal kehidupan sana. Bagi mereka yang telah meraihnya, selamat! dan jangan lupa bahwa luka masih akan tetap ada, begitupun alasan untuk berbahagia.

-Budaraa, 060317-

 

Bulan dan Mentari

Tau gak? Dulu itu, duluuuuu banget, Bulan dan Matahari tetanggaan sebelahan. Manusia di Bumi selalu bisa ngeliat mereka berbarengan di angkasa. Dengan kompaknya mereka bergantian nerangin Bumi. Kalau siang giliran si Matahari, cahayanya gak sementereng sekarang karena dia pengen si Bulan masih bisa dinikmati oleh semua mahluk hidup. Kalau malem gantian giliran si Bulan, dengan si Matahari setia di sampingnya ngasih bantuan cahaya soalnya si Bulan emang kurang berbakat dalam urusan sinat menyinari ini. 

Kekompakkan mereka ini berlangsung ribuan tahun lamanya. Meski mereka berdua sangat berbeda satu sama lain, yang satu berukuran raksasa dengan cahaya yang menyilaukan yang satu kecil bopeng-bopeng tapi mereka gak peduli. Yang mereka tau cuma mereka diciptain sama yang punya semesta buat ngasih sinar kehidupan buat mahluk lainnya. 

Sampai suatu hari, emang ni mahluk suka bikin onar, ada manusia yang nyeletuk “Ih gue mah gak suka sama si Bulan, apaan tuh die gak punya apa-apa, sinar aja dibantuin sama si Matahari. Nebeng tenar doang bisanya”. Nah, celetukan ini kedengeran sama seorang Satpam yang kebagian shift malem mulu, dia ngebales celetukan itu sambil emosi “Woi! Enak aja lu kalo ngomong! Kalo kagak ada si Bulan gue kagak bisa kerja, gelap cong. Lagian kalo cuma ada si Matahari elu kapan molornya?”. Mereka kemudian cek-cok, adu mulut, gak sampai disitu pertengkaran mereka lanjutin di Twitter, Facebook, Path, dll. Masing-masing akhirnya punya pendukung yang saling ngece, ngerasa pendapatnya paling bener, sampai singkat cerita terjadilah perang Dunia antara pendukung si Matahari VS si Bulan. 

Ngeliat hal itu si Bulan ama si Matahari cuma bisa menatap nanar, kalau Bulan bisa ngomong mungkin dia udah tereak “Woiii!!! Ngapain sih lu pada berantem?!! Gue dan si Matahari kan yang nyiptain sama, dengan tugas masing-masing yang saling ngelengkapin. Gue bedua aja kagak ribut kenape lue pada malah bunuh-bunuhan?”. Tapi sayang mereka gak bisa bicara, walhasil cuma bisa pandang-pandangan dengan sedih. Mereka merasa buat apa mereka ada kalau hanya bikin Manusia menyakiti manusia lainnya.

Perang pun seakan tak akan pernah berhenti. Sudah tidak ada lagi senyum di antara si Matahari dan si Bulan, tanpa disadari mereka semakin menjauh, semakin jarang mereka muncul berbarengan. Hal ini kemudian disadari oleh beberapa manusia yang lagi asik tembak-tembakan. “Eh guys!!!” Ujar mereka, “Lo pada nyadar gak?! Entu si Matahari ama si Bulan kagak pernah barengan lagi. Mukenya kalo gue perhatiin pada sedih gitu. Apa gara-gara kelakuan kita ya?”. “Eh ner uga” ujar yang lainnya menimpali, “waduh ngapain kita sibuk-sibuk berantem buat belain salah satu dari mereka kalau cuma bikin mereka sedih geto. Udah woi jangan perang lagi lah, damai aja damai, lebih asik liat mereka bedua barengan soalnya”

Tapi semua sudah terlambat, luka sudah terlalu dalam tertanam di hati keduanya. Tak pernah lagi mereka muncul bersamaan, kalaupun iya di suatu ujung senja mereka berpapasan hanyalah senyum getir yang menjadi sisa jejak persahabatan mereka yang lalu.

-Noh, mau lo kejadian kayak gini terulang lagi? Damai aja damai sebelum terlambat cui.-

TIME’s Best Photojournalism of 2014

aweseome…

TIME

In 2014, TIME’s commitment to photojournalism remained as strong as ever, as the magazine assigned photographers to stories all across the U.S. and in Afghanistan, Brazil, Burma, Central African Republic, Finland, Gaza, Hong Kong, Iraq, Japan, Jordan, Mexico, the Phillipines, Syria and Ukraine among many other countries.

From the gruesome civil war in Central African Republic to the geopolitical conflict in Ukraine, the devastation in Gaza and the humanitarian crisis in Syria, TIME’s photographers were on the front lines of a particularly violent year, bringing back some of the most compelling images produced over the past 12 months.

There were lighter moments, though, when TIME sent Magnum photographer Alex Majoli on the set of Mad Men, or when Christopher Morris documented this year’s U.S. mid-term elections. And there were moments of hope, as well, when Elinor Carucci of Institute followed the difficult and emotional first days of a premature infant.

View original post 118 more words