Ceritanya KOZI

IMG_3572

Sudah lama kepingin menulis cerita tentang KOZI, tentang awal berdirinya, tentang semangat yang ada di dalamnya. Sudah lama juga ragu, karena berasanya belum jadi apa- apa (emang belum sih), karena takut ada kesombongan di dalamnya (hal yang paling bikin gue takut karena sombong itu katanya gak dirasakan sama orang yang melakukan), karena nunggu mood yang pas, dan karena-karena yang lainnya. Dan di ulang tahunnya yang ke-2 ini, gue akhirnya memutuskan untuk menuliskannya, hanya dengan tujuan siapa tau cerita sederhana ini bisa mengisnpirasi segelintir orang, dan supaya mereka yang terlibat saat ini dalam keluarga KOZI bisa semakin merasa memilikinya.

Here we go…

Cerita KOZI ini diawali dari 27 tahun lalu, saat seorang anak manusia bernama Rama lahir di muka bum *bletak!! “Woi, gak usah lebay! Dan gak usah berdusta wahai penulis!”

Ok..ok…

Here we go…again…ceritanya KOZI dari sisi gue *karena ceritanya dia ini bisa dipandang dari berbagai sisi.

Gue sempat menjalani hidup serabutan selama hampir 32 tahun lamanya, hampir selama order baru. Serabutan dalam hal ini ngerjain apa aja yang penting bisa dapet duit buat makan, mulai dari bau asap karena jadi koki rumah makan Batak, terus jadi creative di sebuah Event Organizer yang jarang bikin event, terus jualan kasur yang lebih banyak ghibah bareng enci-enci tokonya daripada jualannya, terus ngundang-ngundang temen dankeluarga terdekat untuk mempresentasikan sebuah bisnis baru yang menawarkan kehidupan yang bebas secara finansial (you know lah ya?), terus nongkrong bareng supir-supir akap di bagian logistic, jadi branch manager asuransi yang nama manager cuma hanya sekedar nama tanpa berhasil jual 1 premi sekalipun, terus keliling kota nyari rumah-rumah buat dijual (nah yang ini lumayan nih duitnya meski easy come easy go), terus jadi bos kecil di sebuah developer perumahan kecil, terus jadi creative lagi di sebuah komunitas ternama bernama iPhonesia (salah satu masa terseru dalam hidup gue), dan lalu kemudian pada akhirnya gue menemukan rumah gue di industri Kopi.

Kenapa gue bilang gue menemukan rumah, dan kenapa mesti gue ceritain juga paragraf panjang di atas? Supaya kalian bisa lebih punya gambaran soal cerita di paragraf berikut. *bertele-tele yeh?

Oke jadi gini, setelah berganti-ganti kerjaan tanpa berhasil menemukan apa yang bener-bener pengen gue kerjain suatu hari sekitar 5 tahun lalu duduklah gue di sebuah kedai kopi kecil di pusat kota Jogja (waktu itu lagi mengadu nasib di sana). Niatnya cuma pengen nyari tempat tenang buat baca buku, dan karena namanya kedai kopi ya masa mesennya es teler kan gak mungkin jadilah gue pesen kopi. Awalnya minum agak ngeri-ngeri sedap karena pada hakekatnya gue suka kopi tapi perut gue sensian, mungkin karena empunya berbintang Pisces. Setiap abis minum kopi pasti mules, perih, keringet dingin, mata berkunang-kunang bagai Bagito Group. Tapi ternyata, setelah habis segelas, perut gue aman-aman aja tuh. Apakah karena itu gue pesen gelas kedua? Tentu saja tidak karena saat itu gue masih seperti orang kebanyakan, pesen satu nongkrongnya jam-jaman. Saat itulah perkenalan pertama kali gue terhadap yang namanya Specialty Coffee.

Sejak saat itu, hampir setiap ada waktu luang gue mampir ke kedai kopi itu. Sampai akhirnya dekat dengan para baristanya, dibikinin latte art yang selalu berbeda-beda di setiap kedatangan gue, mulai dari gambar kelinci di padang rumput sampe kelinci di bulan. Tapi sampai saat itu gue belum tertarik untuk mempelajari lebih lanjut soal kopinya, gue cuma suka banget sama tempatnya yang super cozy, dan pelayanannya yang ramah. Sampai suatu saat ada 2 temen gue dateng ke Jogja gue ajak ke tempat itu, pada saat itulah gue menceritakan khayalan gue bahwasanya suatu saat kalau gue balik ke Bandung lagi gue mau buka tempat kaya keda kopi ini, bakal gue kasih nama KOZI, sebuah kata baru (sok creative), plesetan dari Cozy, bernada ke-Jepang-Jepang-an (karena gue suka Jepang). Dari situlah, untuk beberapa saat khayalan itu hanya jadi khayalan seperti yang umumnya terjadi pada yang namanya khayalan.

Setelah petualangan gue di Jogja berakhir, terdamparlah gue di sebuah kota yang mungkin kalian semua pernah dengar bernama Jakarta. Di kota ini gue kerja bareng temen-temen dari iPhonesia, bikin berbagai kegiatan mulai dari Online Activity hingga Offline Activity seperti jalan-jalan ke Derawan hingga Raja Ampat, gratis. Seru banget! *Cerita jalan-jalan ini gak ada hubungannya sama inti cerita, cuma pengen pamer dikit HAHAHAHAHAHA. (tuh kan, emang bener sombong itu gak dirasain sama yang ngelakuin).

Lanjut…

Nah di iPhonesia ini awalnya kami gak punya kantor, jadi kalau meeting ketemu orang biasanya ya di tempat ngopi yang pada saat itu baru mulai berkembang dan masih bisa dihitung jari. Saat itulah gue mulai merasakan “Kok enaknya kopi bisa beda-beda gini ya dari satu tempat ke tempat lain?”. Mulailah ketertarikan gue sama Kopi turut berkembang juga, dari tadinya ngopi cuma kalau ada urusan kerjaan, sampai ke ngopi karena emang pengen ngopi dan nyobain tempat ngopi baru. Mulai dari duduk jauh dari Bar sampai ngopi di depan baristanya demi dapet icip-icip gratisan dengan mengucapkan kalimat sakti “Kok rasanya beda sama yang kemarin ya?”. Cobain deh ucapin kalimat itu, hampir dipastikan barista yang bertugas akan bergegas membuatkan kamu segelas kopi baru, ini rahasia ya jangan disebari-sebarin. Inilah masa-masa kegilaan gue terhadap kopi bermulai dan bertumbuh, bangun langsung mikir mau ngopi di mana, tidur ngimpiin mau ngopi di mana. Pokoknya mikirnya kopi mulu, kopi, kopi, kopi.

Tanpa disadari, lama kelamaan gue akhirnya punya geng nongkrong ngopi yang terdiri dari beberapa sahabat gue, dan suatu saat tanpa direncanakan pada suatu malam di bilangan Senopati gue dan 2 sahabat gue mencanangkan untuk bikin coffee shop bareng. Saat mikir mau dinamain apa,  gue cetuskanlah “Gue sih pernah pengen bikin namanya KOZI”, dan mereka menimpali dengan “Ya udah itu aja bagus kok”. Moment ini terjadi sekitar 3,5 tahun yang lalu atau sekitar  1,5 tahun sejak nama KOZI muncul pertama kali dan sekitar 1.567.876.729 tahun sejak peristiwa Big Bang.

Singkat cerita (akhirnya..ujar pembaca…), kami bertiga mengajak 2 sahabat kami lainnya yang berdomisili di Bandung, berdebat soal konsep, tempat, nyari investor dll sampai untuk beberapa waktu lamanya gak ada progres apa-apa, typical pengusaha muda yang baru mau mulai usaha hahaha. Singkat cerita lagi, tibalah saat dimana gue merasa gue harus balik ke Bandung untuk nemenin Nyokap yang tinggal sendirian ditambah gue dapet pacar anak Bandung yang akhirnya jadi partner juga di KOZI hihihihi.

Keputusan gue balik ke Bandung mau gak mau bikin rencana bikin KOZI semakin mendesak dengan bahan pertimbangan mau kerja apa nanti? Masa mau kayak dulu lagi cuma kerja sekedar kerja lagi? Mau sampe kapan? Mumpung ada yang gue suka kenapa gak gue seriusin? Bersamaan dengan kembalinya gue di kota Bandung , dimulailah perjalanan sebenarnya dari sebuah KOZI.

Bulan-bulan pertama kami habiskan untuk mencari tempat yang ternyata tidaklah mudah karena tempat haruslah menyewa, dan menyewa haruslah menggunakan uang yang tidak kami punyai. Gimana mau punya uang wong gak ada Investor yang mau berjudi memberikan uangnya kepada kami yang cuma punya modal passion dan semangat. Modal pengalaman? nol… Modal network? 0.5 lah. Akhirnya setelah melihat beberapa tempat strategis dengan sewa mahal yang tidak masuk di kantong kami, salah satu partner kami memberikan kabar “Eh gudang sebelah kantor gue mau dibuka tuh, murah kayaknya sewanya, dan katanya udah ada yang mau ngisi, sisa beberapa spot doang.” Ih kenapa gak ngabarin dari kemarin-kemarin sih? Tanpa banyak ba bi bu kami pun pergi melihat gudang tersebut.

Gudang yang dimaksud adalah sebuah gudang tua di komplek Tentara. Gudang yang ada di tengah-tengah komplek pergudangan yang tidak menarik sama sekali. Gudang yang kosong melompong, lembab, gelap dan gue yakin banyak penunggunya. Gudang yang berbeda, unik, bisa jadi asik, dan murah! Pada hari itu juga, menggunakan uang hasil projekan partner gue yang satunya lagi, kami ngedepein slot di gudang tersebut. Yeaaayy!! Akhirnya kami punya tempaattt!! Setelah itu pasti semuanya bakal berjalan lancar.

IMG_6832

Nggak juga, wong abis itu kami tetep gak punya duit. Itu slot cuma slot kosong bahkan tanpa dinding. Bikin dinding kan butuh duit belum lagi masang listrik, ngisi furniture, beli alat-alat, semua butuh lembaran kampret itu. Dan ternyata tempat itu gak bikin para investor ngelirik juga, siapa juga yang mau modalin buka usaha di gudang syaiton kayak begitu. Cukup pusing sih, tapi gue memutuskan untuk ngikut pusara semesta aja, Dia maunya gimana ta ikutin aja, gue berusaha gak mikirin besok gimana, nantinya  KOZI bakal jadi dibikin apa nggak, gue berusaha untuk melakukan dan memikirkan apa yang bisa gue lakuin hari demi hari aja. Mulailah gue keliling coffee shop di Bandung, kenalan sama para pelaku bisnis kopi, sambil ngumpulin duit buat tabungan kebutuhan KOZI disaat partner-partner gue yang lain nyebar-nyebarin proposal.

Duit mulai terkumpul dikit demi sedikit, 3/4 dinding bata akhirnya bisa terbangun dengan dana seminimal mungkin dimana salah satu pengiritannya yaitu kami memvernis dinding bata sendiri supaya gak bayar tukang yang hasilnya hampir gak keliatan hasilnya malah menghasilkan pemborosan dengan merayakan kelelahan memvernis dengan makan-makan di tempat mahal, geblek emang. Habis dinding berdiri, ngumpulin duit lagi. Gue terima kerjaan jagain stand mobil di IMS, lumayan 10 hari dapet 5 juta yang gue pake buat beli alat-alat. Dapet duit dikit lagi dipakai buat beli bangku bekas madrasah yang murah-murah. Dapet duit dikit lagi dipakai buat ngeberesin 1/4 dinding yang tadinya mau pakai besi-kaca akhirnya pakai jendela bekas supaya lebih murah. Semua pokoknya mesti murah dan kalau bisa dikerjain sendiri. Meja bar yang sampai sekarang goyang-goyang hasil bikinan tangan kami sendiri, meja tengah yang juga goyang-goyang you know lah, drum-drum yang dijadiin tempat duduk itu hasil barteran sama kamera lama gue.

Dan jadilah KOZI 1.0 Gudang selatan yang kalian kenal sekarang, yang tanpa arsitek, yang tanpa desainer interior, yang semuanya serba organik, yang hampir 70% nya terdiri dari barang-barang bekas. Yang pada tanggal 19 Desember 2015, sehari setelah Star Wars Force Awaken tayang di bioskop, 9 bulan setelah ngedepein tempat akhirnya membuka pintunya bagi para penikmat kopi di Bandung.

Dengan alat-alat serba manual, dimulailah perlayaran KOZI di blantika dunia kopi. Gue masih inget masa-masa bikin espresso pake ROK Presso yang bikin keringetan gara-gara ruangan panas tanpa AC yang waktu itu belum mampu kebeli, masih inget nyajiin Cappuccino sambil bilang “Maaf ya latte artnya jelek” karena gue sebagai barista satu-satunya emang belum bisa bikin latte art, masih inget deg-degannya takut gak ada orang yang dateng, masih inget senengnya pas ada orang yang dateng, masih inget obrolan-obrolan kopi yang terjadi di depan bar dengan posisi terbalik dari 1 tahun sebelumnya, masih inget dengan perasaan percaya gak percaya setiap nyalain lampu saat opening dan matiin lampu saat closing, masih inget segala macem cerita pahit dan manis yang terjadi dikarenakan situasi yang serba minim, masih inget ngomong dalem hati “Yes We did it!!”

Tanpa mikirin mau dibawa kemana KOZI ini, dan hanya berlandaskan kecintaan terhadap apa yang dikerjain, mengalirlah kehidupan di dalamnya. Mulai dari akhirnya dapet mesin kopi yang murah dan bisa dicicil, bergabungnya barista pertama yang berasal dari konsumen yang biasanya dateng buat numpang ngegiling kopi, munculnya menu Ayam Geprek yang merupakan makanan favorit kami bersama, terpasangnya AC setelah sekian lama menunggu duit buat naikin daya listrik, bergabungnya salah satu sahabat kami menjadi Barista dan akhirnya menjadi partner usaha, dimulainya Cup of Wishes dimana pengunjung menuliskan harapan-harapannya di gelas putih yang kami pajang di dinding dengan harapan harapan-harapan tersebut tidak menjadi sekedar harapan, bergabungnya salah satu konsumen yang dateng-numpang bikin kopi-pergi tanpa berkata sepatah katapun menjadi Barista juga, berdatangannya teman-teman media yang ingin meliput tentang keunikan KOZI (ternyata feeling kami bahwa gudang tua ini bisa menjadi sesuatu yang menarik betul adanya), datangnya ajakan untuk membuka cabang di Jakarta yang pada saat itu kami iyakan padahal di dalam hati mah gak pede sama sekali wong yang satu ini aja belum tentu jalan bener, bertemunya kami dengan teman-teman baru yang datang dengan segala macam aktivitas mulai dari hanya untuk ngopi, bekerja, membaca buku, atau pacaran dan berantem, hingga pada suatu hari seorang teman yang piawai dalam hal keuangan berkata “Bisnis kopi loe ini udah bagus, umurnya bakal panjang karena industri kopi sendiri bakal sustain, tapi buat loe sendiri gak bisa kalau cuma ngandelin satu, mesti loe lipat gandakan, minimal 5 lah.”

Damn, bener juga. Passion yang selama ini gue kerjain itu ibaratnya kendaraan, bensinnya ya tetep lembaran kampret yang gue ceritain di atas. Karena kalau mau jujur, emang gak gede-gede amat kok hasil dari bisnis kopi ini, apalagi dengan skala kecil kayak KOZI. Ya buat makan sih cukup, tapi kalau buat jalan-jalan ke Eropa, beli mobil mewah, atau sekedar beli tas Balenapalahitu mana cukuppp??!!! Kecuali dari yang kecil-kecil itu sumbernya banyak ya mungkin bisa. Tapi gimana caranya ya? Wong bikin satu aja jungkir balik koprol breuh sikap lilin dijadiin satu. Ya sudahlah, balik ke prinsip live in the present day aja, soal besok atau lusa, we’ll see. *udah kayak anak zaman now blum bahasa Endonesa sama Enggris dicampur-campur?

Ternyata memang semesta bekerja dengan caranya sendiri, yang gak bisa kita duga dan terka. Dan berhati-hatilah dengan apa yang kita pikirin, karena bila itu sesuai dengan berjalannya kehidupan maka satu persatu hal akan terjadi untuk mewujudkan pemikiran tersebut. Dengan catatan, kitanya terus mengerjakan apa yang kita kerjakan dengan sepenuh hati, mulai dari menyeduh kopi dengan penuh perasaan, menyapa konsumen dengan senyuman lebar, mencuci gelas sambil bersenandung, bahkan saat lelah mencapai titik tertinggi kita mengucap Alhamdulillah.

Kemudian suatu waktu, sekonyong-konyong tetangga di KOZI dateng ngajakin mengelola sebuah Rumah di bilangan Dago Atas, sebuah Rumah keren milik pasangan seniman yang dalemannya gak usah diapa-apain juga udah bagus banget dengan lukisan-lukisan keren dan suasana yang sejuk dan nyaman. Dibikinlah proposal untuk kerjasama ini, tanpa menunggu lama ada beberapa Investor yang mau mendanai. Dan pada bulan Maret 2017 lahirlah KOZI 2.0

Setelah itu segalanya tampak berjalan semakin lancar dan cepat, meski pada KOZI 3.0 yang lahir tidak lama kemudian agak berliku jalannya hingga berpindah tempat 2x sebelum menempati tempatnya yang sekarang di Hotel Malaka dan bernama KOZI 3.2

Lalu pada 18 Agustus 2017 terwujudlah ajakan setahun lalu dari seorang teman yang sekarang menjadi sahabat untuk membuka KOZI di Jakarta dengan nama KOZI 3.7 Jeruk Purut, yang kemudian disusul pada 25 November 2017 lahir KOZI 5.0 Bintaro atau dikenal dengan singkatan KOTARO, dan terakhir (sampai tulisan ini dibuat) berjalannya KOZI MOBILE 1.0 yang merupakan buah dari obrolan random pada suatu malam di KOZI 2.0.

Dari 3 orang pegawai, termasuk gue, di awal berdirinya hingga saat ini kami memiliki kurang lebih 30 orang yang menjadi nadi-nadi di tubuh KOZI gak ada satupun rasa yang dapat mewakili perasaan gue selain perasaan bersyukur. Bersyukur karena gue dikelilingi partner bisnis yang punya semangat yang sama, gak mata duitan, bisa dipercaya, bisa diandelin. Bersyukur karena diberi pasangan yang sangat mendukung dan menjadikan mimpi gue mimpinya dia juga. Bersyukur dikasih pekerja-pekerja yang gak itungan, rajin, sabar saat gue ngomel-ngomel, otaknya sengklek, setia, dll. Bersyukur karena diberi investor-investor yang mau percaya pada kami. Bersyukur telah dipertemukan dengan para konsumen yang menjadi pipa-pipa berkah rejeki kami. Dan bersyukur-bersyukur lainnya yang tidak ada ujungnya.

IMG_3560IMG_3562

Hingga saat ini, setelah berbagai hal yang terjadi gue semakin mempercayakan kehidupan gue sepenuhnya tehadap Sang Semesta, mengikuti jalan yang Ia tunjuk hari demi-hari. Jalan yang berawal dari sebuah Passion pribadi, hingga saat ini, saat gue melihat para Barista gue bekerja, baik bagi mimpi-mimpi dirinya sendiri maupun bagi orang-orang yang mereka kasihi, gue menyadari bahwa KOZI saat ini bukan hanya sekedar tentang gue, bukan sekedar tentang lembaran-lembaran kampret, tapi sudah menjadi sebuah kehidupan dimana sudah cukup banyak yang bertumpu kepadanya. Ya, seperti itulah gue harus memandang KOZI saat ini, apa yang setiap harinya gue lakukan akan berdasarkan kepada bagaimana menjaga kehidupan tersebut dapat terus hidup selama mungkin untuk dapat menghidupi sebanyak-banyaknya mahluk hidup.

Gue tahu, bahwa usia 2 bagi bisnis ini adalah usia yang sangatlah muda dan rentan, segala sesuatu yang terjadi di hari ini belum tentu masih ada pada 3 tahun kemudian. Tapi gue juga menyadari bahwa gue memiliki semuanya yang gue butuhin untuk menjalankan hari demi harinya KOZI, mereka-mereka yang kepadanya gue limpahkan rasa syukur gue, dan tentu saja Semesta dengan kekekalan hukum Alamnya yang selalu memberikan hasil akhir yang terbaik bagi seluruh kehidupan di dalamnya.

Akhir kata, selamat ulang tahun yang ke-2 KOZI, terima kasih sudah memberikan banyak sekali pengalaman kehidupan yang berharga, terima kasih sudah menjadi sumber kehidupan yang mudah-mudahan penuh berkah. Semoga hal-hal baik yang sudah terjadi dapat menjadi semakin baik, semoga hal-hal buruk yang pernah muncul dapat muncul kembali dalam bentuk yang lebih baik. Semoga cerita-cerita seru terus bermunculan, seperti cerita tentang KOZI 6.0 Bandung Creative Hub dan KOZI 7.0 Malang yang akan datang.

Sampai ketemu di Tahun depan guys! Makasih udah mau baca tulisan gak sesuai EYD ini. Semoga bahagia beserta kita semua!!

IMG_3561

 

Advertisements

Mimpimu, Mimpiku.

Manusia adalah pengejar mimpi, karena tanpa mimpi kita masih akan berada di dalam goa, mencatat di dinding kapur, berburu untuk bertahan hidup.

Mimpi adalah tujuan yang membuat kita bergerak maju, kadang berlari, kadang berjalan perlahan. Mimpi memberi alasan atas setiap hembusan dan tarikan nafas, memberikan makna terhadap arti kehidupan.

Mimpilah yang menyatukan manusia, negara-negara bersatu karena mimpi yang sama, berperang karena mimpi yang berbeda.

Mewujudkan mimpi tak bisa sendiri, karena bagaikan susunan DNA, mimpi terdiri dari mimpi-mimpi yang saling mendukung, terjalin satu sama lain dengan satu tujuan.

Masih ingatkah kamu? Pertanyaan tentang mimpimu.

Jawabanmu memberikan alasan untuk mimpiku tetap hidup.

Mimpimu, mimpiku.

 

 

 

 

Patah Hati

Meretas rencana membangun mimpi.

Sempat ada kita menyatu dari dua diri.

Angin berhembus udara tersibak.

Anganpun pupus tak meninggalkan jejak.

Tak ada lagi engkau, apalagi kita.

Tinggallah biru yang meninggalkan tanya.

The Opposite

Kapan saat kita mengerti arti dari sebuah “rumah”?

Saat kita pergi meninggalkan atap tempat hidup bernaung.

Kapan saat kita mengenal arti sebuah kehangatan?

Saat kita menggigil di bawah siraman hujan.

Kapan saat kita merindukan arti sebuah kasih sayang?

Saat kita termenung sendiri tanpa ada seorangpun untuk dipandang.

Sometimes, we need to be in the opposite condition to feel things that we want.

Berada di kejauhan untuk merindukan kedekatan.
Mengalami patah hati untuk merasakan cinta.

Sometimes we need to let go, so she/he can coming back home.

Every bitter things will remind you of the sweeter one. That’s the art of life.

Tahukah kamu?

Tahukah kamu?

Ada suatu malam disaat bintang berhenti bersinar dan rembulan bersembunyi di balik awan.

Itulah saat dimana kamu tersenyum kepada langit malam.

Tahukah kamu?

Ada suatu pagi dimana angin terlalu malu untuk berhembus dan mentari hanya tersipu kemerahan.

Itulah saat dimana kamu menatap embun pagi dengan keindahan matamu.

Tahukah kamu?

Ada suatu hari dimana jantungku melupakan detaknya, dan nafasku membeku.

That will be the day when you say I do.

The World of My Rain

Hujan…selalu datang kapanpun dia mau. Pagi, siang, malam, kadang dengan tanda, kadang tak terasa.

Hujan, terkadang tercurah tanpa henti, terkadang berhenti seperti tak memiliki hati. Tapi, hujan akan selalu ada, hujan akan selalu tiba. Tidak peduli dunia suka atau tidak.

Hujan adalah hasil sebuah perjalanan, dari mata air, menelusuri kegelapan perut bumi, mengarungi lika liku sungai diantara hamparan bebatuan, menyatu di samudra tak terhingga, menguap oleh kejayaan sang surya, untuk kemudian berjatuhan, memberi asa dan kehidupan.

Inilah rasaku, hujan.

-For you, the world of my rain-