Gratia dan Klara part 1

Suara nafas memburu, langkah2 kecil nan cepat, dan gemerisik ilalang membelah pagi.

Wajah gadis cilik itu memerah, ditetesi bulir2 keringat, tampak kecemasan menghiasi parasnya yang manis.

Dari kejauhan sayup2 terdengar suara besi yg dipukul bertalu2. Jantung gadis cilik itu pun berdetak semakin cepat, mengalahkan gerak kaki mungilnya yang sedang berlari.

Pada penghujung nafasnya, sampailah ia di sebuah pelataran.

Sepi, pintu2 di hadapannya tertutup rapat. Berjalan gontai, ia menghampiri pintu ke dua dari kanan. Seraya mengetuk perlahan ia berkata.

“Permisi”

“Silahkan masuk” ujar suara dari dalam ruangan.

Dengan kepala tertunduk, ia memasuki ruangan, terdengar suara lirih dari mulutnya yang mungil

“Maafkan saya Bu Guru”

“Kenapa kamu terlambat Klara?”

Suara lembut Ibu Guru seketika menyejukkan hati Klara, ingatannya kembali ke hari kemarin.

Sore itu Klara baru saja kembali dari bekerja di ladang, ufuk senja menyinari rumah panggungnya dengan penuh kehangatan.

Kelelahan, ia pun langsung menuju kamarnya dan berbaring.

Kamar itu berukuran kecil, hanya ada sebuah kasur kapuk dan meja kecil tempat ia belajar sepulang bekerja di ladang. Di atas meja itu ada sebuah lampu petromak, yg setiap malam menemaninya dalam kegelapan.

Tapi hari itu, Klara melihat sesuatu yang lain di atas meja, sebuah amplop, apakah itu yang ia tunggu2 selama ini?

Lelahnya terlupakan, ia segera bangkit dan meraih amplop putih itu. Memicingkan mata, Klara membaca alamat pengirim yg tertera di belakang. Ia pun melonjak kegirangan, matanya berbinar2. Ini dia, surat dari sang kakak, surat yang selalu ia nantikan.

Ya, setahun terakhir ini Klara memiliki seorang kakak. Klara belum pernah bertemu dengannya, mereka hanya bertemu melalui tulisan2 dalam lembaran kertas putih. Pertemuan2 itu membuat Klara bahagia, cerita2 sang kakak selalu dapat membuat Klara tersenyum, terkadang mengernyitkan dahi karena hal2 baru yang klara tidak mengerti.

Seperti pertemuan kali ini, kakak menceritakan tentang pekerjaannya, membangun rumah yang sangat tinggi. Klara pun terheran2, seperti apakah bentuknya? Rumah panggungnya saja suka bergoyang2, bagaimana kalau ditumpuk2? Apa nggak semakin bergoyang?

Klara memejamkan mata, berusaha membayangkan seperti apa bentuk rumah itu. Tapi sekeras apapun ia berkhayal, tetap ia tidak bisa membayangkan seperti apa wujudnya.

“Ah, aku akan tanyakan ke kakak tentang bentuk sebenarnya dari rumah aneh yang kakak bikin”

Klara berkata dalam hati.

Klara pun menyalakan petromak, mengambil selembar kertas putih dan mulai menulis di atasnya.

“Kakak, aku sangat senang sekali menerima surat kakak. Kak, aku bingung deh….”

Sampai larut malam Klara merangkai kata2 dalam surat itu, hingga akhirnya ia pun tertidur di atas meja. Api petromak yg mulai padam, mengantarkan Klara pada mimpinya, mimpi tentang rumah yang aneh dan lucu bentuknya. Dalam tidur, Klara pun tersenyum.

“Klara, klara, kenapa kamu malah senyum2 sendiri?”

Suara Bu Guru membangunkan Klara dari lamunannnya

“Maaf Bu Guru, saya terlambat bangun”

Gelak tawa teman2nya pun membahana.

“Ya sudah, jangan diulangi lagi ya, ayok cepat ke tempat dudukmu, kita akan memulai pelajaran”

“Terima kasih Bu”

Tersipu2, Klara pun menuju tempat duduknya.

“Kak, suratnya akan aku kirim hari ini, sambil menunggu surat balasan kakak, aku mau membayangkan rumah lucu itu setiap hari”

Klara tertawa kecil.

“Kak, aku ingin ketemu kakak”

Advertisements