Nyiur Di Pantai

Tersebutlah Nyiur, terlahir di pesisir pantai, memiliki mimpi menggapai angkasa, seperti kedua orang tuanya.
Tersebutlah Pasang, segerombolan ombak buas yang tak henti-henti menghantam pasir pantai, membabat siapapun yang bukan diri mereka.
Tak terhitung berkali banyaknya Nyiur dan teman-temannya terjatuh dan terseret Pasang, berdiri sedikit, terjatuh, hingga basah, kuyup, diiring suara tawa Ombak yang menggelegar di sepanjang pandang.
Tapi Nyiur tetap teguh pada mimpinya, untuk menggapai angkasa seperti kedua orang tuanya. Semakin banyak ia terjatuh semakin kokoh ia, semakin jauh ia diseret, semakin tinggi ia. Ada banyak temannya yang tak kuasa, lenyap terbawa ke tengah lautan sana, tapi Nyiur, tetap menatap angkasa.
Hingga pada suatu hari, Nyiur berhasil menggapai angkasa, seperti kedua orang tuanya. Sekejap ia menebar pandang ke penjuru Dunia yang terbentang di hadapannya lalu Ia pun menatap Pasang di bawah sana yang masih melakukan hal yang sama, menghajar siapapun yang tak sama, tak pergi kemana-mana, di bawah saja untuk selamanya.
*Menjadi nyiur tidaklah mudah, menjadi nyiur berarti menjadi yang lemah di hadapan yang punya kuasa, menjadi nyiur pastinya akan terjatuh, terseret, terluka, menangis. Tetapi seperti nyiur, tetaplah menatap angkasa, karena dengan begitu kita akan menatap dunia, berdiri tegak meninggalkan mereka yang tak kemana-mana.-
-Budaraa, 10/7/17-

Demo Angkot dan Kehidupan

Seorang penulis favorite saya pernah menulis “Hidup itu bagaikan samudera, dan manusia bagaikan pasir. Kita tinggal memilih, untuk melawan ombak lautan, atau menikmati gelombangnya”.

Saya selalu mengingat tulisan tersebut, dan berusaha untuk menerapkannya di setiap sisi kehidupan. Kenapa? Karena memang begitulah adanya.

Dipandang dari segi keagamaan, kita yang ada sekarang ini berawal dari satu proses penciptaan, kemudian menjalani jutaan tahun kehidupan, ribuan peradaban, tak terhitung lagi kehidupan dan kematian. Sebuah proses yang maha, super maha. Bisakah seorang kamu melawannya?

Dipandang dari segi ilmu pengetahuan, kita yang ada sekarang ini berawal dari satu proses ledakan bintang, kemudian menjalani milyaran tahun penyebaran energi yang berubah menjadi bintang, planet, galaksi, tata surya dan seterusnya seterusnya. Dan tahukah kamu bahwa semesta kita sekarang ini masih terus berkembang? Bintang demi bintang masih terus menjauh menuju tiada batas. Bisakah seorang kamu melawan kedahsyatan ini?

Jika kamu merasa ya, hampir bisa dipastikan kamu memandang hidup ini sebagai perjuangan berat. Pergulatan melawan halangan, kemarahan terhadap hambatan. Kamu akan super bahagia saat tujuanmu tercapai, dan super nelangsa saat garis finish itu tak kunjung tiba.

Jika kamu merasa tidak, ada dua kemungkinannya, kamu menjadi seonggok kayu yang terlempar kesana-kesini, atau menjadi plankton yang mengembara ke seluruh samudera. Kenapa begitu? Karena kamu menyadari ada sebuah kekuatan dahsyat yang membuat alam ini berputar, hidup, dan berdetak. Kamu tidak bisa berbuat suatu apapun terhadapnya kecuali mengikuti, menarik nafas sepanjang-panjangnya saat kamu dilemparkan ke langit tinggi, menahan nafas sedalam-dalamnya saat kamu ditenggelamkan ke dasar lautan. Tak ada suka berlebih saat mentari menerpa wajah, tak ada sedih yang terlalu perih saat hanya gelap yang bisa dipandang, karena kamu tau semua itu, keduanya, akan terjadi suka maupun tidak.

Jika kamu menyadarinya, niscaya tidak akan ada demo angkot, tidak akan ada kemarahan mereka terhadap apa yang mereka sebut pesaing. Karena mereka akan mengerti, bahwa apa yang terjadi saat ini dalam kehidupan mereka adalah keinginan dari kehidupan itu sendiri. Yang bisa mereka, dan kita lakukan hanyalah berlaku sebaik-baiknya terhadap apa yang terjadi, berbuat apa yang kita bisa, menerima,dan menikmati sajian yang hanya bisa kita nikmati satu kali saja.

Gitu…

-Budaraa, 090317-

Bahagia dan Alasannya

Di awal kehidupan, kita menikmati kehidupan apa adanya. Tertawa terpingkal melihat teman terpeleset, menangis tersengguk menunggu Ibu yang tak kunjung pulang.

Menjejaki fase yang lebih ramai, kita mulai dikenalkan pada berbagai hal baru mengenai kehidupan, tangis menjadi luka, tawa berarti bahagia. Sayangnya, semua tidak seperti dulu kala, yang mengalir begitu saja. Luka terkadang menjadi pintu bagi sang bahagia untuk menjadi nyata, bahagia terkadang menjelma begitu saja menjadi luka. Kita semua pernah mengalami mencinta begitu dalam hingga saatnya air mata pun tak mampu mengobati perih yang menganga. Kita semua pernah menjadi tokoh cerita yang berpeluh, tersayat, untuk meraih cahaya di depan sana. Hidup menjadi terlalu poranda, air yang muncul dari perut bumi menjadi berbagai cabang, bagai pembuluh yang menghidupi kulit dunia.

Tibalah saat yang lebih sunyi, saat kita mulai lelah terhadap semua hiruk pikuk yang ada. Saat kita memutuskan untuk, bahagia. Saat kita meyakini bahwa untuk meraihnya hanyalah persoalan pikiran, hanyalah tentang sebuah bunyi di dalam benak “Kamu bahagia hanya saat kamu nyatakan kamu bahagia, tak ada yang lainnya.” Saat inilah hidup terasa sangat mudah, sangat indah, tetapi ternyata semu belaka.

Lalu datanglah waktu itu, waktu di mana kita melihat, sebenar-benarnya, tentang apa dan siapa yang ada di sekeliling kita. Tentang apa yang menjadi tempat tanganmu bekerja, tentang siapa yang mendengar patah demi patah kata yang keluar dari bibirmu. Ternyata bahagia bukan tentang dirimu, dan dirimu, tapi tentang aku, dia, kita, dan semua. Untuk mencapainya tidak cukup hanya berkata-kata saja, kita harus berusaha, menempatkan orang-orang yang tepat di sekeliling kita, melakukan sesuatu yang dapat dicintai oleh segenap indera kita. Bahagia bukan soal kata-kata saja, tetapi ia adalah tentang mencipta alasan untuk berbahagia.

Kalau tidak percaya, tanyalah kepada pemungut sampah itu, yang kita pikir ia bisa berbahagia hanya dengan merasa berbahagia. Ia bisa saja bahagia, jika setiap kayuhan yang ia lakukan memiliki arti, bagi istri, dan mungkin anak-anaknya. Jika tidak? Tanya saja kepada orang kaya itu, yang kita pikir ia bisa berbahagia dengan segala yang ada. Ia bisa saja tak berbahagia, jika tak ada satupun dari lembaran uang yang ia punya tak berarti di hadapan sesama manusia. Bahagia tak dapat dibeli, pun ia sangatlah murah untuk diraih, kita cukup menukarnya dengan sebuah alasan.

Kemudian sang akhir dari perjalanan waktu datang juga, ada dari kita yang merasa sia-sia, ada dari kita yang mengucap selamat tinggal dengan tawa, semua hanya karena dua hal; bahagia, dan alasannya. Untuk mereka yang belum menemukannya, carilah, carilah dengan tangis dan tawa seperti yang kita lakukan di awal kehidupan sana. Bagi mereka yang telah meraihnya, selamat! dan jangan lupa bahwa luka masih akan tetap ada, begitupun alasan untuk berbahagia.

-Budaraa, 060317-

 

Bulan dan Mentari

Tau gak? Dulu itu, duluuuuu banget, Bulan dan Matahari tetanggaan sebelahan. Manusia di Bumi selalu bisa ngeliat mereka berbarengan di angkasa. Dengan kompaknya mereka bergantian nerangin Bumi. Kalau siang giliran si Matahari, cahayanya gak sementereng sekarang karena dia pengen si Bulan masih bisa dinikmati oleh semua mahluk hidup. Kalau malem gantian giliran si Bulan, dengan si Matahari setia di sampingnya ngasih bantuan cahaya soalnya si Bulan emang kurang berbakat dalam urusan sinat menyinari ini. 

Kekompakkan mereka ini berlangsung ribuan tahun lamanya. Meski mereka berdua sangat berbeda satu sama lain, yang satu berukuran raksasa dengan cahaya yang menyilaukan yang satu kecil bopeng-bopeng tapi mereka gak peduli. Yang mereka tau cuma mereka diciptain sama yang punya semesta buat ngasih sinar kehidupan buat mahluk lainnya. 

Sampai suatu hari, emang ni mahluk suka bikin onar, ada manusia yang nyeletuk “Ih gue mah gak suka sama si Bulan, apaan tuh die gak punya apa-apa, sinar aja dibantuin sama si Matahari. Nebeng tenar doang bisanya”. Nah, celetukan ini kedengeran sama seorang Satpam yang kebagian shift malem mulu, dia ngebales celetukan itu sambil emosi “Woi! Enak aja lu kalo ngomong! Kalo kagak ada si Bulan gue kagak bisa kerja, gelap cong. Lagian kalo cuma ada si Matahari elu kapan molornya?”. Mereka kemudian cek-cok, adu mulut, gak sampai disitu pertengkaran mereka lanjutin di Twitter, Facebook, Path, dll. Masing-masing akhirnya punya pendukung yang saling ngece, ngerasa pendapatnya paling bener, sampai singkat cerita terjadilah perang Dunia antara pendukung si Matahari VS si Bulan. 

Ngeliat hal itu si Bulan ama si Matahari cuma bisa menatap nanar, kalau Bulan bisa ngomong mungkin dia udah tereak “Woiii!!! Ngapain sih lu pada berantem?!! Gue dan si Matahari kan yang nyiptain sama, dengan tugas masing-masing yang saling ngelengkapin. Gue bedua aja kagak ribut kenape lue pada malah bunuh-bunuhan?”. Tapi sayang mereka gak bisa bicara, walhasil cuma bisa pandang-pandangan dengan sedih. Mereka merasa buat apa mereka ada kalau hanya bikin Manusia menyakiti manusia lainnya.

Perang pun seakan tak akan pernah berhenti. Sudah tidak ada lagi senyum di antara si Matahari dan si Bulan, tanpa disadari mereka semakin menjauh, semakin jarang mereka muncul berbarengan. Hal ini kemudian disadari oleh beberapa manusia yang lagi asik tembak-tembakan. “Eh guys!!!” Ujar mereka, “Lo pada nyadar gak?! Entu si Matahari ama si Bulan kagak pernah barengan lagi. Mukenya kalo gue perhatiin pada sedih gitu. Apa gara-gara kelakuan kita ya?”. “Eh ner uga” ujar yang lainnya menimpali, “waduh ngapain kita sibuk-sibuk berantem buat belain salah satu dari mereka kalau cuma bikin mereka sedih geto. Udah woi jangan perang lagi lah, damai aja damai, lebih asik liat mereka bedua barengan soalnya”

Tapi semua sudah terlambat, luka sudah terlalu dalam tertanam di hati keduanya. Tak pernah lagi mereka muncul bersamaan, kalaupun iya di suatu ujung senja mereka berpapasan hanyalah senyum getir yang menjadi sisa jejak persahabatan mereka yang lalu.

-Noh, mau lo kejadian kayak gini terulang lagi? Damai aja damai sebelum terlambat cui.-

TIME’s Best Photojournalism of 2014

aweseome…

TIME

In 2014, TIME’s commitment to photojournalism remained as strong as ever, as the magazine assigned photographers to stories all across the U.S. and in Afghanistan, Brazil, Burma, Central African Republic, Finland, Gaza, Hong Kong, Iraq, Japan, Jordan, Mexico, the Phillipines, Syria and Ukraine among many other countries.

From the gruesome civil war in Central African Republic to the geopolitical conflict in Ukraine, the devastation in Gaza and the humanitarian crisis in Syria, TIME’s photographers were on the front lines of a particularly violent year, bringing back some of the most compelling images produced over the past 12 months.

There were lighter moments, though, when TIME sent Magnum photographer Alex Majoli on the set of Mad Men, or when Christopher Morris documented this year’s U.S. mid-term elections. And there were moments of hope, as well, when Elinor Carucci of Institute followed the difficult and emotional first days of a premature infant.

View original post 118 more words

5 Sekawan Pelesir ke Nepal Part 1, Kathmandu Part 2 (banyak sub partnya macam MLM)

IMG_9484

Zoelcholid pun muncul, mengambil gambar menggunakan kamera Sonynya. Dijepretan kedua dia sudah menghasilkan gambar yang keren, padahal gue, Sangga, dan Adityo Karno udah hampir sejam di jepret-jepret tapi cuma gitu-gitu aja. Kalo dia udah dateng langsung kelar semua kelaaaarrr!!! Bisa-bisanya dia dapet gambar gagak lagi terbang pacaran, kaen rombeng sobek aja dibikin bagus (itu kaen rombeng di atas gue coba 13x jepret gak ada yg bagus), Ngehek emang. *ngomel2 (kalau bingung ini cerita tentang apa dan dimana, baca part sebelumnya mangkanya)

IMG_9498 IMG_9505

Setelah puas jeprat jepret, waktu sarapan pun tiba, Arslan akhirnya bangun dan bergabung bersama kami. Di restaurant dengan pemandangan kota Kathmandu yang disinari sinar lembut mentari pagi kami menikmati makanan khas Nepal (jangan tanya nama makanannya, kalau mau tau baca aja travel story yang lain). Perpaduan kacang polong, kentang rebus, telor rebus, semacam roti canai, dengan cita rasa kare yang kental sangatlah lezat sekaligus mengenyangkan. Kombinasi yang bikin gak bakal makan lagi sampai malem.

IMG_9531

Pukul sembilan kami pun keluar dari hotel, menuju tujuan pertama kami pada petualangan kali ini, Durbar Square. Berbekal petunjuk dari petugas hotel, kami menyusuri jalanan Thamel yang masih bersiap-siap menyambut wisatawan

IMG_9631

Dalam perjalanan kami menyempatkan untuk membeli sim card local demi kelancaran existensi di dunia maya. Dengan 150 ribu rupiah kami mendapatkan 1 buah nomer local dengan data internet 1GB, persyaratannya hanya cukup memperlihatkan passport, memberikan pas photo, dan membubuhkan 2 cap jempol, macam bikin buku nikah. Atau mungkin Adityo Karno yang data-datanya dipakai sebenernya dikawinin sama gadis lokal? Kita liat pas pulang nanti bakal dicegat sama bapak-bapak berkumis tebal mata melotot atau nggak.

IMG_9544 IMG_9613 IMG_9622 Processed with VSCOcam with m5 preset

Jalanan di Kathmandu, terutama di district Thamel tempat kami menyusuri jalan ini adalah surga bagi para street photographer. Bangunan-bangunan tua berwarna-warni, dikombinasikan dengan warna pakaian para penduduknya, ditambah wajah mereka yang eksotis (mungkin seperti inilah orang bule ngeliat muka kita orang Indonesia, eksotis) sangatlah photogenic.

IMG_9556 IMG_9579

Penarik rickshaw (entah nama sebenernya apa) dengan jubah putih panjang, anak-anak dengan mata besar dan senyum manis, para ibu-ibu dengan kain sari berwarna cerah, dan masih banyak object photo lainnya membuat perjalanan kami berlangsung lambat. Sebentar sebentar berhenti untuk mengambil gambar sambil nyaris diseruduk mobil atau motor.

IMG_9553 IMG_9649 IMG_9681 IMG_9849

Yes! Jalanan thamel yang sempit gak membuat para kendaraan dari jenis sepeda genjot, sepeda motor, rickshaw, sampai taxi yang kadang suka berenti sembarangan melambatkan lajunya. Semua gas poll!! Klakson membahana di seantero jagat kota, belok aja gak pake sen dan tedeng aling-aling, apalagi lurus. Loe tau kan metromini kayak gimana? Nah ini dalam bentuk puluhan mobil mungil buatan entah tahun berapa dengan bermodal klakson dan rem yang syukurnya tampak pakem abesss, di jalanan sempit penuh manusia tanpa trotoar!! Gue takjub karena gak melihat satupun kecelakaan, mereka sepertinya dilindungi para dewa-dewi, lah kita para turis apa kabar? Cuma bisa pasrah semoga para dewa di khayangan itu gak pilih kasih.

IMG_9899IMG_9682

Di tengah perjalanan kami sempat kesasar ke sebuah alun-alun kecil yang membuat kami serempak berkata “ini nih Durbar Square yang terkenal? isinya kok cuma tukang sayur yang jualan di trotoar? ini mah di ciroyom Bandung juga banyak” dengan nada sinis dan untungnya bukan. Dan di sinilah Adityo Karno menghilang untuk pertama kali. Ya! Pertama kali! Karena setelah ini dia bakal sering ngilang. Jalan sama dia kayak jalan sama anak SD, gue pikir waktu kecil dulu dia suka ngilang di pasar swalayan.

Setelah beberapa saat gue dan Sangga mencari-cari dia, akhirnya dia nongol sendiri. “Gue salah ngikutin orang, dia pake baju merah, gue pikir dia om Zoel”. Seberapa besar sih kemungkinan ketemu orang yang mirip Zoelcholid di Nepal ini?! Hih, kzl!

IMG_2767 IMG_9717 IMG_9744 IMG_9798 IMG_9996

Kami pun melanjutkan perjalanan, dan menemukan sebuah temple kecil, dengan ratusan merpati di sekelilingnya. Ada yang lagi makan, ada yang mandi, ada yang berterbangan, ada yang ngeceng, ada yang nongkrong, ada yang galau, ada yang baru jadian, ada yang marahan…ini merpati apa anak muda ya? Untung aja gak ada sevel di sini. Ini kah sang Durbar yang dicari? Ternyata bukan juga.

IMG_9823 IMG_9824

Di temple dengan nama super ribet ini (yang gue lupa namanya) Arslan ditempel seorang pengemis. Gak tahan nolak, akhirnya Arslan pun menyerah, dengan bahasa planet campur dewa Arslan bilang bahwa oke gue bakal ngasih duit asal loe mau diphoto, ajaibnya si pengemis tampak ngerti. Dikasihlah sama Arslan NPR 5 lalu diphoto2. Habis itu bukannya terbebas, malah lebih nempel. Ya iyalah!! Cuma dikasih gopek rupiah!!

IMG_9945 IMG_0023 IMG_0031 IMG_0033

Setelah melewati beberapa simpang jalan tanpa lampu merah, berpapasan dengan ribuan orang, beberapa kali hampir kehilangan nyawa, dan mengambil ratusan gambar akhirnya kami tiba di Durbar Square!!

Durbar Square ternyata adalah sebuah alun-alun super besar! Pusat kegiatan penduduk Kathmandu, dimana puluhan pedagang bertebaran menjajakan ribuan jenis cenderamata . Kota ini is all about cenderamata, di sepanjang jalan kenangan, sepanjang mata memandang, semua cenderamata!! Sampe bingung mau beli apa di yang mana. Mungkin cara yang tepat adalah lempar batu sambil merem, dimana batu itu mendarat di situlah cenderamata dibeli.

IMG_9957 IMG_9976

Ribuan orang tumpah ruah di tempat ini, sebagian dari mereka terpusat di sebuah ring tinju yang sedang mempertandingkan partai tinju, bukan partai Kay Pang apalagi partai politik. Tampak seru, tapi kami kan ke sini bukan buat nonton tinju.

IMG_0856

Kami pun berkeliling alun-alun, dan menemukan biksu berwajah warna warni seperti yang banyak ditemukan di Gugel. Gue langsung dengan excited menghampiri untuk mengambil photo, tapi ternyata mereka biksu komersil. 1 photographer yang mau ambil photo mereka harus membayar NPR 100 (sekitar Rp. 12.000), kalau ada photographer lain yang mau nebeng langsung di pelototin sambil ditunjuk-tunjuk.

Di Kathmandu ini gue mempelajari bahwa hampir semua orang punya udang di balik batu. Pedagang hingga anak-anak kecil semuanya ramah, tapi ujung-ujungnya antara nawarin barang atau minta duit. Contohnya seorang pedagang yang dengan super ramah nanya darimana? Oh Indonesia? Saya kenal beberapa orang Indonesia, mereka teman saya, kalian berapa orang? Ada yang dateng lagi? Nanti ajal mereka ke toko saya ya, yuk kamu juga mampir sini, liat2, yuk sini. Persuasif banget!!!

IMG_9964 IMG_9968

Lain lagi dengan 2 anak kecil yang gue temuin di Durbar Square. Awalnya gue minta ijin photo mereka, dan senyum mereka pun langsung dikembangkan. Setelah diphoto mereka dengan ramahnya minta lihat hasil photonya, lalu kami pun selfie, gue tanya nama mereka dan ngasih tau nama mereka. Akrab banget kayaknya, sampe mereka bilang “money…money..”. Kecil-kecil mata duitan. Tapi ya nggak salah juga sih, mereka gak mau gitu aja dieksploitasi sebagai objek wisata, take and give adalah sesuatu yang wajar. Cuma caranya aja yg bikin kita lengah, dan menjadi kaget dibuatnya. Kayak kalau kita udah nyaman sama seorang sahabat terus tau2 ditembak.

IMG_0086 IMG_0109 IMG_0101 IMG_0113

Spot terbaik untuk mengambil photo Durbar Square adalah dari puncak istana 9 lantai. Dari atas bangunan tertinggi di situ kita bisa melihat sekeliling Durbar Square dan kota Kathmandu dengan bangunan-bangunan berbata merah, beautiful! Breath taking! Udah mah napas abis gara-gara naek tangga 9 lantai, ditambah pemandangan yang super keren, abis udah nafas ini.

IMG_0208

Petualangan gue di Durbar Square diakhiri dengan menonton shooting lagu India lengkap dengan jogetnya. Senang sekali hati ini, gak nyangka adegan yang dulu cuma bisa gue lihat di Bioskop (iya gue dulu suka nonton film India, masalah?!) bisa gue saksikan secara live!! Acha…acha….

Processed with VSCOcam with m5 preset IMG_0164IMG_0211

Next stop adalah Swayambunath Temple yang berjarak sekitar 15 menit dari Durbar Square. Menggunakan taxi yang menggunakan tarif borongan sebesar USD 3 kami pun membelah jalanan dan lautan manusia, akhirnya kami merasakan rasanya di dalam mobil maut, halilintar Dufan? Lewat!!

Sesampainya di tujuan, kami disambut monyet-monyet yang jumlahnya lebih banyak daripada Monkey Forest di Ubud, dan kerennya mereka cuekan, gak geragasan. Tapi bukan keberadaan mereka yang membuat tempat ini dikenal juga dengan Monkey Temple, melainkan jumlah tangga menuju puncaknya yang bikin gue ngomel “Monyet!! Banyak amat!!!”

IMG_0224 IMG_0237 IMG_0193

Milyaran tangga akhirnya mau gak mau kami daki, dan kampretnya pos karcis ada menjelang kita sampai di puncak. Jadi orang-orang dengan menghela nafas pasti akan beli karcisnya, daripada turun lagi? Tapi semua perjuangan terbayar begitu melihat kota Kathmandu di kejauhan, apalagi ternyata matahari terbenam dengan indahnya dapat kita nikmati di situ tentunya bareng para monyet yang beberapa dari mereka tampak menggalau.

Hari pertama kami di Nepal pun ditutup dengan menikmati city light dengan angin yang berhembus dingin. Agak mirip dengan pemandangan dari Punclut Bandung, tapi ini Nepal coy!!!

5 Sekawan Pelesir ke Nepal Part 1-Kathmandu.

IMG_9463

Koaaakkk!!! Koaaakkk!!!

Suara puluhan gagak yang gak merdu sama sekali dan berisik (nanti ada yang lebih berisik, ikutin terus aja cerita ini) menyambut kehadiran gue di Roof Top Nepalaya Hotel tempat 5 sekawan menginap. Yak! Kami telah telah tiba di Nepal!! Negara yang baru 1 tahun lalu gue masukin ke bucket list gara-gara bukunya Antonius Wibowo yang berjudul Kembali Ke Titik Nol (very recommended book!).

IMG_9456

Waktu menunjukkan pukul 6.15 waktu Kathmandu, mentari baru saja muncul di ufuk timur (Nepal negara yang sangat cocok buat para sunrise hunter pemalas macam gue). Gue, Sangga, dan Adityo Karno (nama dia kudu lengkap soalnya ada yang manggil Adit ada yang manggil Karno) telah siap mengabadikan sang mentari Nepal dengan gadget masing-masing. Mentari di timur, bulan kesiangan di barat, bangunan-bangunan dengan dinding bata dari ketinggian adalah bahan hunting photo kami pagi itu.

IMG_9420

Kemana 2 sekawan lainnya? Mereka masih tertidur, mungkin kelelahan karena perjalanan malam sebelumnya, mungkin juga karena perbedaan usia…ups…Tapi gimana gak lelah? Kami tiba di bandara Tribhuvan pukul 20 lebih, terlambat 10 menit dari jadwal. Memasuki bandara yang cukup sederhana, kami terkejut dengan pelayanan pengajuan Visa On Arrival yang cukup modern, pengisian dara menggunakan komputer yang dapat men-scan passport untuk pengisian data. Wah keren juga nih, pikir gue. Tapi ternyata kekerenan itu cukup sampai di situ, untuk pembayaran visa 15 hari dengan biaya $ 25 kami harus mengantri panjang, karena setelah itu proses dilakukan dengan cara manual dan cukup beribet. Setelah dilayani oleh petugas imigrasi yang mukanya pada dingin sedingin mantan, barulah mimpi buruk dimulai.

IMG_9424

Proses imigrasi yang cukup memakan waktu (hampir 1 jam) membuat kami bercanda “jangan-jangan bagasi kita udah muter-muter tak berpemilik”. Ternyata, begitu sampai di tempat ngambil bagasi (gue lupa istilahnya) belum tampak sebatang pun bagasi dari pesawat kami. Hanya tampak sebuah koper hitam berkeliling berkali-kali kayak jomblo kehilangan arah. Setelah nyaris 2 jam kami menunggu tanpa kepastian, akhirnya bagasi kami pun muncul satu persatu, sepertinya petugas bandara ngangkut bagasi secara manual, sambil ngopi, makan gorengan, maenan path, marahan sama pacarnya sampe sempet ketiduran.

IMG_9433

Begitu semua bagasi selamat sampai di tangan, kami pun bergerak keluar bandara. Petugas pengecekan bagasi dengan malas memeriksa bagasi kami, bukan meriksa sih, cuma nanya “four?” “Yes four” “oke”….sesimple itu, yang mengingatkan gue pas ngelewatin gerbang pemeriksaan yang suka bunyi-bunyi. Kalau ditempat lain kita bakal diperiksa kalau alatnya bunyi, dipegang-pegang, diraba-raba, kalau di sini, dilirik pun nggak, kayak cinta telah hilang sama sekali, sedih….

Sesampainya di luar, udara cukup dingin menyergap, suhu udara pada saat itu sekitar 17 derajat celcius. Tidak sedingin yang kami kira, long john dan jaket tebal ternyata belum waktunya untuk menunaikan tugas. Kekhawatiran gue satu lagi, yaitu tentang Altitude Mountain Sickness tidak terbukti, gak ada pusing-pusing atau sesek napas, semua berlangsung normal.

Dengan mobil jemputan dari hotel yang mungil bermerek Suzuki (hampir seluruh mobil di Nepal kayaknya antara Suzuki atau Ford, dan semuanya kecil-kecil) kami dengan ugal-ugalan (gue akan ceritain tentang ini nanti) melewati jalanan Kathmandu yang sempit, berkelok-kelok, dan gak mulus. Sekitar pukul 22.30 kami tiba di depan Nepalaya Hotel, hotel di daerah Thamel yang dikenal sebagai surga backpackers.

Setelah melewati gang kecil yang membuat kami meragukan pilihan Sangga sebagai manajer perjalanan, sampailah kami di lobby hotel dan disambut oleh keramahan petugas hotel (ya iyalah masa petugas kamtib). Blablabla pengurusan administrasi check in, kami diantar salah satu petugas ke kamar hotel. Karena kamar kami di lantai 2, 4 orang memutuskan menggunakan lift, gue pake tangga, bukan karena sok sehat, tapi udah gak cukup liftnya, kecil banget! Lucunya, mereka yang naik lift barengan sampenya sama gue yang jalan ahahahaha.

IMG_9438

Barang-barang kami taruh sekenanya di kamar yang ternyata cukup bersih dan terawat, kami pun mencari makan malam ditemani Denise, petugas hotel berumur 17 tahun yang super ramah. Saat kami berkenalan, dia bilang nama gue, Sangga, dan Adityo Karno nama Nepalian banget. Gue bilang, and yours is not. Die cuma ketawa, dasar bocah, gue yakin nama asli dia bukan Denise, tapi Denehi nehi….halah. Saat berjalan menyusuri jalanan Thamel yang sudah gelap dan bernuansa “bronx”, gue pun menemukan…angkringan!! Ni Nepal atau Jogja sih sebenernya? Hampir gue secara spontan mau pesen nasi teri sama teh jahe panas, tapi ternyata yang dijual semacam sosis dan kawan-kawan sejenisnya. Ah kurang menggoda dan tampak gak terlalu mengenyangkan, jadi kami pun melanjutkan hunting makan malam.

IMG_9448

Akhirnya setelah melalui jejeran plang “blabla discotik”, “xyz pub”, “abc bar” dengan gambar perempuan seksi dan para lelaki yang dengan bahasa tubuhnya seperti mengajak masuk ke tempat-tempat nongkrong tersebut yang bahkan gak keliatan pintu masuknya dimana, pilihan makan malam akhirnya jatuh ke hotdog yang segede Gaban pada masa pertumbuhan, alias gak gede-gede amat tapi gak kecil juga. Yang bikin seneng bukan rasanya yang lumayanlah, tapi harganya yang cuma NPR 115 (sekitar 12 rebu perak dalam rupiah). Sambil makan Sangga nawarin rokok ke Denise, are you smoking? Tanya Sangga. Yes, kata Denise. Trus doi ambil sebatang rokok, nyalain, nyedot, trus ngomong “don’t tell anyone at the hotel that I’m smoking”. Kenapa? tanya Sangga. “Nobody knows”. Bahahahahaha…macam anak SMP ngerokok ngumpet-ngumpet.

IMG_9446

Kami pun makan sambil jalan pulang ke hotel, beberapa pemuda Nepal tampak nongkrong di pinggir jalan, ada yang tampak mabuk. Sangga pun bertanya kepada Denise “is this road save?”, “Yes” jawabnya, “until ten”….maksud loeeee?!!!

Malam pertama cukup mengesankan buat kami, memberikan firasat bahwa sepertinya dalam perjalanan kali ini kami akan menemukan berbagai macam pengalaman baru.