Demo Angkot dan Kehidupan

Seorang penulis favorite saya pernah menulis “Hidup itu bagaikan samudera, dan manusia bagaikan pasir. Kita tinggal memilih, untuk melawan ombak lautan, atau menikmati gelombangnya”.

Saya selalu mengingat tulisan tersebut, dan berusaha untuk menerapkannya di setiap sisi kehidupan. Kenapa? Karena memang begitulah adanya.

Dipandang dari segi keagamaan, kita yang ada sekarang ini berawal dari satu proses penciptaan, kemudian menjalani jutaan tahun kehidupan, ribuan peradaban, tak terhitung lagi kehidupan dan kematian. Sebuah proses yang maha, super maha. Bisakah seorang kamu melawannya?

Dipandang dari segi ilmu pengetahuan, kita yang ada sekarang ini berawal dari satu proses ledakan bintang, kemudian menjalani milyaran tahun penyebaran energi yang berubah menjadi bintang, planet, galaksi, tata surya dan seterusnya seterusnya. Dan tahukah kamu bahwa semesta kita sekarang ini masih terus berkembang? Bintang demi bintang masih terus menjauh menuju tiada batas. Bisakah seorang kamu melawan kedahsyatan ini?

Jika kamu merasa ya, hampir bisa dipastikan kamu memandang hidup ini sebagai perjuangan berat. Pergulatan melawan halangan, kemarahan terhadap hambatan. Kamu akan super bahagia saat tujuanmu tercapai, dan super nelangsa saat garis finish itu tak kunjung tiba.

Jika kamu merasa tidak, ada dua kemungkinannya, kamu menjadi seonggok kayu yang terlempar kesana-kesini, atau menjadi plankton yang mengembara ke seluruh samudera. Kenapa begitu? Karena kamu menyadari ada sebuah kekuatan dahsyat yang membuat alam ini berputar, hidup, dan berdetak. Kamu tidak bisa berbuat suatu apapun terhadapnya kecuali mengikuti, menarik nafas sepanjang-panjangnya saat kamu dilemparkan ke langit tinggi, menahan nafas sedalam-dalamnya saat kamu ditenggelamkan ke dasar lautan. Tak ada suka berlebih saat mentari menerpa wajah, tak ada sedih yang terlalu perih saat hanya gelap yang bisa dipandang, karena kamu tau semua itu, keduanya, akan terjadi suka maupun tidak.

Jika kamu menyadarinya, niscaya tidak akan ada demo angkot, tidak akan ada kemarahan mereka terhadap apa yang mereka sebut pesaing. Karena mereka akan mengerti, bahwa apa yang terjadi saat ini dalam kehidupan mereka adalah keinginan dari kehidupan itu sendiri. Yang bisa mereka, dan kita lakukan hanyalah berlaku sebaik-baiknya terhadap apa yang terjadi, berbuat apa yang kita bisa, menerima,dan menikmati sajian yang hanya bisa kita nikmati satu kali saja.

Gitu…

-Budaraa, 090317-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s