Bahagia dan Alasannya

Di awal kehidupan, kita menikmati kehidupan apa adanya. Tertawa terpingkal melihat teman terpeleset, menangis tersengguk menunggu Ibu yang tak kunjung pulang.

Menjejaki fase yang lebih ramai, kita mulai dikenalkan pada berbagai hal baru mengenai kehidupan, tangis menjadi luka, tawa berarti bahagia. Sayangnya, semua tidak seperti dulu kala, yang mengalir begitu saja. Luka terkadang menjadi pintu bagi sang bahagia untuk menjadi nyata, bahagia terkadang menjelma begitu saja menjadi luka. Kita semua pernah mengalami mencinta begitu dalam hingga saatnya air mata pun tak mampu mengobati perih yang menganga. Kita semua pernah menjadi tokoh cerita yang berpeluh, tersayat, untuk meraih cahaya di depan sana. Hidup menjadi terlalu poranda, air yang muncul dari perut bumi menjadi berbagai cabang, bagai pembuluh yang menghidupi kulit dunia.

Tibalah saat yang lebih sunyi, saat kita mulai lelah terhadap semua hiruk pikuk yang ada. Saat kita memutuskan untuk, bahagia. Saat kita meyakini bahwa untuk meraihnya hanyalah persoalan pikiran, hanyalah tentang sebuah bunyi di dalam benak “Kamu bahagia hanya saat kamu nyatakan kamu bahagia, tak ada yang lainnya.” Saat inilah hidup terasa sangat mudah, sangat indah, tetapi ternyata semu belaka.

Lalu datanglah waktu itu, waktu di mana kita melihat, sebenar-benarnya, tentang apa dan siapa yang ada di sekeliling kita. Tentang apa yang menjadi tempat tanganmu bekerja, tentang siapa yang mendengar patah demi patah kata yang keluar dari bibirmu. Ternyata bahagia bukan tentang dirimu, dan dirimu, tapi tentang aku, dia, kita, dan semua. Untuk mencapainya tidak cukup hanya berkata-kata saja, kita harus berusaha, menempatkan orang-orang yang tepat di sekeliling kita, melakukan sesuatu yang dapat dicintai oleh segenap indera kita. Bahagia bukan soal kata-kata saja, tetapi ia adalah tentang mencipta alasan untuk berbahagia.

Kalau tidak percaya, tanyalah kepada pemungut sampah itu, yang kita pikir ia bisa berbahagia hanya dengan merasa berbahagia. Ia bisa saja bahagia, jika setiap kayuhan yang ia lakukan memiliki arti, bagi istri, dan mungkin anak-anaknya. Jika tidak? Tanya saja kepada orang kaya itu, yang kita pikir ia bisa berbahagia dengan segala yang ada. Ia bisa saja tak berbahagia, jika tak ada satupun dari lembaran uang yang ia punya tak berarti di hadapan sesama manusia. Bahagia tak dapat dibeli, pun ia sangatlah murah untuk diraih, kita cukup menukarnya dengan sebuah alasan.

Kemudian sang akhir dari perjalanan waktu datang juga, ada dari kita yang merasa sia-sia, ada dari kita yang mengucap selamat tinggal dengan tawa, semua hanya karena dua hal; bahagia, dan alasannya. Untuk mereka yang belum menemukannya, carilah, carilah dengan tangis dan tawa seperti yang kita lakukan di awal kehidupan sana. Bagi mereka yang telah meraihnya, selamat! dan jangan lupa bahwa luka masih akan tetap ada, begitupun alasan untuk berbahagia.

-Budaraa, 060317-

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s