5 Sekawan Pelesir ke Nepal Part 1, Kathmandu Part 2 (banyak sub partnya macam MLM)

IMG_9484

Zoelcholid pun muncul, mengambil gambar menggunakan kamera Sonynya. Dijepretan kedua dia sudah menghasilkan gambar yang keren, padahal gue, Sangga, dan Adityo Karno udah hampir sejam di jepret-jepret tapi cuma gitu-gitu aja. Kalo dia udah dateng langsung kelar semua kelaaaarrr!!! Bisa-bisanya dia dapet gambar gagak lagi terbang pacaran, kaen rombeng sobek aja dibikin bagus (itu kaen rombeng di atas gue coba 13x jepret gak ada yg bagus), Ngehek emang. *ngomel2 (kalau bingung ini cerita tentang apa dan dimana, baca part sebelumnya mangkanya)

IMG_9498 IMG_9505

Setelah puas jeprat jepret, waktu sarapan pun tiba, Arslan akhirnya bangun dan bergabung bersama kami. Di restaurant dengan pemandangan kota Kathmandu yang disinari sinar lembut mentari pagi kami menikmati makanan khas Nepal (jangan tanya nama makanannya, kalau mau tau baca aja travel story yang lain). Perpaduan kacang polong, kentang rebus, telor rebus, semacam roti canai, dengan cita rasa kare yang kental sangatlah lezat sekaligus mengenyangkan. Kombinasi yang bikin gak bakal makan lagi sampai malem.

IMG_9531

Pukul sembilan kami pun keluar dari hotel, menuju tujuan pertama kami pada petualangan kali ini, Durbar Square. Berbekal petunjuk dari petugas hotel, kami menyusuri jalanan Thamel yang masih bersiap-siap menyambut wisatawan

IMG_9631

Dalam perjalanan kami menyempatkan untuk membeli sim card local demi kelancaran existensi di dunia maya. Dengan 150 ribu rupiah kami mendapatkan 1 buah nomer local dengan data internet 1GB, persyaratannya hanya cukup memperlihatkan passport, memberikan pas photo, dan membubuhkan 2 cap jempol, macam bikin buku nikah. Atau mungkin Adityo Karno yang data-datanya dipakai sebenernya dikawinin sama gadis lokal? Kita liat pas pulang nanti bakal dicegat sama bapak-bapak berkumis tebal mata melotot atau nggak.

IMG_9544 IMG_9613 IMG_9622 Processed with VSCOcam with m5 preset

Jalanan di Kathmandu, terutama di district Thamel tempat kami menyusuri jalan ini adalah surga bagi para street photographer. Bangunan-bangunan tua berwarna-warni, dikombinasikan dengan warna pakaian para penduduknya, ditambah wajah mereka yang eksotis (mungkin seperti inilah orang bule ngeliat muka kita orang Indonesia, eksotis) sangatlah photogenic.

IMG_9556 IMG_9579

Penarik rickshaw (entah nama sebenernya apa) dengan jubah putih panjang, anak-anak dengan mata besar dan senyum manis, para ibu-ibu dengan kain sari berwarna cerah, dan masih banyak object photo lainnya membuat perjalanan kami berlangsung lambat. Sebentar sebentar berhenti untuk mengambil gambar sambil nyaris diseruduk mobil atau motor.

IMG_9553 IMG_9649 IMG_9681 IMG_9849

Yes! Jalanan thamel yang sempit gak membuat para kendaraan dari jenis sepeda genjot, sepeda motor, rickshaw, sampai taxi yang kadang suka berenti sembarangan melambatkan lajunya. Semua gas poll!! Klakson membahana di seantero jagat kota, belok aja gak pake sen dan tedeng aling-aling, apalagi lurus. Loe tau kan metromini kayak gimana? Nah ini dalam bentuk puluhan mobil mungil buatan entah tahun berapa dengan bermodal klakson dan rem yang syukurnya tampak pakem abesss, di jalanan sempit penuh manusia tanpa trotoar!! Gue takjub karena gak melihat satupun kecelakaan, mereka sepertinya dilindungi para dewa-dewi, lah kita para turis apa kabar? Cuma bisa pasrah semoga para dewa di khayangan itu gak pilih kasih.

IMG_9899IMG_9682

Di tengah perjalanan kami sempat kesasar ke sebuah alun-alun kecil yang membuat kami serempak berkata “ini nih Durbar Square yang terkenal? isinya kok cuma tukang sayur yang jualan di trotoar? ini mah di ciroyom Bandung juga banyak” dengan nada sinis dan untungnya bukan. Dan di sinilah Adityo Karno menghilang untuk pertama kali. Ya! Pertama kali! Karena setelah ini dia bakal sering ngilang. Jalan sama dia kayak jalan sama anak SD, gue pikir waktu kecil dulu dia suka ngilang di pasar swalayan.

Setelah beberapa saat gue dan Sangga mencari-cari dia, akhirnya dia nongol sendiri. “Gue salah ngikutin orang, dia pake baju merah, gue pikir dia om Zoel”. Seberapa besar sih kemungkinan ketemu orang yang mirip Zoelcholid di Nepal ini?! Hih, kzl!

IMG_2767 IMG_9717 IMG_9744 IMG_9798 IMG_9996

Kami pun melanjutkan perjalanan, dan menemukan sebuah temple kecil, dengan ratusan merpati di sekelilingnya. Ada yang lagi makan, ada yang mandi, ada yang berterbangan, ada yang ngeceng, ada yang nongkrong, ada yang galau, ada yang baru jadian, ada yang marahan…ini merpati apa anak muda ya? Untung aja gak ada sevel di sini. Ini kah sang Durbar yang dicari? Ternyata bukan juga.

IMG_9823 IMG_9824

Di temple dengan nama super ribet ini (yang gue lupa namanya) Arslan ditempel seorang pengemis. Gak tahan nolak, akhirnya Arslan pun menyerah, dengan bahasa planet campur dewa Arslan bilang bahwa oke gue bakal ngasih duit asal loe mau diphoto, ajaibnya si pengemis tampak ngerti. Dikasihlah sama Arslan NPR 5 lalu diphoto2. Habis itu bukannya terbebas, malah lebih nempel. Ya iyalah!! Cuma dikasih gopek rupiah!!

IMG_9945 IMG_0023 IMG_0031 IMG_0033

Setelah melewati beberapa simpang jalan tanpa lampu merah, berpapasan dengan ribuan orang, beberapa kali hampir kehilangan nyawa, dan mengambil ratusan gambar akhirnya kami tiba di Durbar Square!!

Durbar Square ternyata adalah sebuah alun-alun super besar! Pusat kegiatan penduduk Kathmandu, dimana puluhan pedagang bertebaran menjajakan ribuan jenis cenderamata . Kota ini is all about cenderamata, di sepanjang jalan kenangan, sepanjang mata memandang, semua cenderamata!! Sampe bingung mau beli apa di yang mana. Mungkin cara yang tepat adalah lempar batu sambil merem, dimana batu itu mendarat di situlah cenderamata dibeli.

IMG_9957 IMG_9976

Ribuan orang tumpah ruah di tempat ini, sebagian dari mereka terpusat di sebuah ring tinju yang sedang mempertandingkan partai tinju, bukan partai Kay Pang apalagi partai politik. Tampak seru, tapi kami kan ke sini bukan buat nonton tinju.

IMG_0856

Kami pun berkeliling alun-alun, dan menemukan biksu berwajah warna warni seperti yang banyak ditemukan di Gugel. Gue langsung dengan excited menghampiri untuk mengambil photo, tapi ternyata mereka biksu komersil. 1 photographer yang mau ambil photo mereka harus membayar NPR 100 (sekitar Rp. 12.000), kalau ada photographer lain yang mau nebeng langsung di pelototin sambil ditunjuk-tunjuk.

Di Kathmandu ini gue mempelajari bahwa hampir semua orang punya udang di balik batu. Pedagang hingga anak-anak kecil semuanya ramah, tapi ujung-ujungnya antara nawarin barang atau minta duit. Contohnya seorang pedagang yang dengan super ramah nanya darimana? Oh Indonesia? Saya kenal beberapa orang Indonesia, mereka teman saya, kalian berapa orang? Ada yang dateng lagi? Nanti ajal mereka ke toko saya ya, yuk kamu juga mampir sini, liat2, yuk sini. Persuasif banget!!!

IMG_9964 IMG_9968

Lain lagi dengan 2 anak kecil yang gue temuin di Durbar Square. Awalnya gue minta ijin photo mereka, dan senyum mereka pun langsung dikembangkan. Setelah diphoto mereka dengan ramahnya minta lihat hasil photonya, lalu kami pun selfie, gue tanya nama mereka dan ngasih tau nama mereka. Akrab banget kayaknya, sampe mereka bilang “money…money..”. Kecil-kecil mata duitan. Tapi ya nggak salah juga sih, mereka gak mau gitu aja dieksploitasi sebagai objek wisata, take and give adalah sesuatu yang wajar. Cuma caranya aja yg bikin kita lengah, dan menjadi kaget dibuatnya. Kayak kalau kita udah nyaman sama seorang sahabat terus tau2 ditembak.

IMG_0086 IMG_0109 IMG_0101 IMG_0113

Spot terbaik untuk mengambil photo Durbar Square adalah dari puncak istana 9 lantai. Dari atas bangunan tertinggi di situ kita bisa melihat sekeliling Durbar Square dan kota Kathmandu dengan bangunan-bangunan berbata merah, beautiful! Breath taking! Udah mah napas abis gara-gara naek tangga 9 lantai, ditambah pemandangan yang super keren, abis udah nafas ini.

IMG_0208

Petualangan gue di Durbar Square diakhiri dengan menonton shooting lagu India lengkap dengan jogetnya. Senang sekali hati ini, gak nyangka adegan yang dulu cuma bisa gue lihat di Bioskop (iya gue dulu suka nonton film India, masalah?!) bisa gue saksikan secara live!! Acha…acha….

Processed with VSCOcam with m5 preset IMG_0164IMG_0211

Next stop adalah Swayambunath Temple yang berjarak sekitar 15 menit dari Durbar Square. Menggunakan taxi yang menggunakan tarif borongan sebesar USD 3 kami pun membelah jalanan dan lautan manusia, akhirnya kami merasakan rasanya di dalam mobil maut, halilintar Dufan? Lewat!!

Sesampainya di tujuan, kami disambut monyet-monyet yang jumlahnya lebih banyak daripada Monkey Forest di Ubud, dan kerennya mereka cuekan, gak geragasan. Tapi bukan keberadaan mereka yang membuat tempat ini dikenal juga dengan Monkey Temple, melainkan jumlah tangga menuju puncaknya yang bikin gue ngomel “Monyet!! Banyak amat!!!”

IMG_0224 IMG_0237 IMG_0193

Milyaran tangga akhirnya mau gak mau kami daki, dan kampretnya pos karcis ada menjelang kita sampai di puncak. Jadi orang-orang dengan menghela nafas pasti akan beli karcisnya, daripada turun lagi? Tapi semua perjuangan terbayar begitu melihat kota Kathmandu di kejauhan, apalagi ternyata matahari terbenam dengan indahnya dapat kita nikmati di situ tentunya bareng para monyet yang beberapa dari mereka tampak menggalau.

Hari pertama kami di Nepal pun ditutup dengan menikmati city light dengan angin yang berhembus dingin. Agak mirip dengan pemandangan dari Punclut Bandung, tapi ini Nepal coy!!!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s