Gugur

Keduanya terdiam, bertatapan. Dalam hening masing-masing mereka berharap detik waktu yang kian menuju titik nol berhenti sejenak saja.

“Akhirnya tiba juga”, kesunyian terpecah.

“Ya, akhirnya. Tak bisakah akhir itu tiada?”

“Kuberharap hal yang sama, tapi sang kehidupan berkehendak lain”

“Sungguh berat hal ini bagiku, sejak awal kau hadir, kau memberikanku nafas dan alasan untuk terus hidup”

“Bagiku, kaulah alasanku ada, keberadaanku dikarenakan keberadaanmu”

“Mengapa sesuatu yang ditakdirkan untuk bertemu, juga memiliki takdir sebuah perpisahan?”

“Karena putaran kehidupan terbentuk dari rangkaian kisah perjumpaan dan selamat tinggal”

“Artinya akhir kisah kita adalah awal bagi sebuah cerita yang lain?”

“Ya, bagimu sudah menanti perjumpaan-perjumpaan lain, dan ceritaku akan selalu menjadi bagian dari kisahmu”

…………….

“Terima kasihku untukmu, yang telah setia menemani hari-hariku dalam terang maupun gelap, dalam terik maupun hujan”

“Puji dan syukurku bagimu, untuk segala ketegaranmu, untuk menjadi tambatanku. Selamat tinggal”

Sepucuk daun melayang dari ketinggian, waktunya telah tiba untuk gugur, meninggalkan sang dahan yang menatap dalam diam.

Titik nol telah tiba hari itu, sebuah titik yang menjadi akhir sekaligus awal, sebuah titik yang menjadi pusara kehidupan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s