Sayup Penyesalan

Ketika mataku perlahan terpejam dan kurasakan jantung yang berdetak menjauh, aku tersadar hidupku telah tergerus oleh setiap detak itu.
Saat itu pula aku terhenyak, lampu ini telah hampir padam tanpa sempat menerangi tempat ia seharusnya menyala.
Seketika aku merindukan senyuman, senyuman yang tak pernah aku lihat sebelumnya.
Seketika aku memimpikan kehangatan, kehangatan yang kini telah menjadi dingin yang menusuk raga menembus jiwa.

Andai aku bisa kembali ke masa yang sudah kabur itu.
Saat matahari masih mengangkasa,
Saat bulan berbagi terang dalam kegelapan.

Ingin aku membangunkan diriku yang hanya terpejam,
Berlari menuju ruang tak terbatas bermandikan cahaya

Detak terakhir berakhir sayup,
hilang dikejauhan meninggalkan sesal yang tak terperikan.
                                                             

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s