Sang Bidadari (Reborn)

Bertetes air kurasakan mengalir, melalui dahi, hidung, untuk kemudian terjun bebas dan menghilang ditelan tanah merah yang berdebu.

Dimanakah sang surya? Kudongakkan kepala dan seketika mataku terbutakan olehnya.
Ternyata dia yg pagi tadi masih tersenyum malu-malu sekarang sudah tegap mengangkasa tepat diatas kepalaku.

Dalam kegelapan yg sejenak, terlintas wajah yang menyejukkan duniaku.
Dengan senyumnya yang membuat bunga-bunga tertunduk malu.
Dengan tawanya yang membuat sungai-sungai berhenti mengalir, tertegun.
Dengan rambutnya yang membuat angin ingin terus berhembus lembut.
Bidadariku, dimanakah engkau bercahaya saat ini ?

Sebuah teriakan membuka mataku.
Menghadirkan sosok hitam yang memiliki kerut tak terhitung.
Kubalikkan kedua telapak tanganku, yang menampung ribuan jejak cerita tentang kehidupan.
Kembali sebuah teriakan menggetarkan telinga, menarik diriku dari aliran kisah tak berujung.

Tanpa alas aku berjalan menuju sumber suara tadi.
Huph…
Kuangkat benda yang sudah 20 tahun ini bergantian menemani pundakku
Kuantar dia menuju persinggahan tempat dia menunggu, sebelum ia menuju tempat yang tak pernah kutuju.

Lelah…penat…perih…itulah rasa yang menjadi pengunjung setia di keseharianku.
Tetapi seperti pada kesetiaan mereka, sosok bidadari itu akan selalu muncul bagai tetes hujan di kekeringan yang tak berujung.
Ingin rasanya aku memeluk keceriaanmu, tapi matahari ini masih tinggi.
Tidak mungkin, sayang…

Bintik-bintik peluh silih berganti muncul menemani sisa hariku.
Hingga sang surya terduduk lelah, meredupkan cahayanya dalam lembayung yang terlalu indah.
Dalam sisa jiwa yang mendekati nadir, kuseret langkah yang seakan tak lagi memiliki bayang. Menuju atap dimana para bintang berbagi cerita yang hanya berhenti saat aku terlelap.
Bersama dia tentunya….sang bidadari.
O ya!, bidadari…dimanakah engkau saat ini ?

Tanpa kusadari dua tangan kecil memeluk lembut tubuh renta ini.
Diiringi suara terindah yang muncul sejak 5 tahun lalu. Suara yang selalu membangkitkan kehancuranku, suara yang membantuku berdiri saat aku terkulai, suara yang membuat malam tersenyum tanpa henti.

“Ayah”

Sang Bidadari kembali hadir di hadapanku. Menatap dengan matanya yang secemerlang purnama di langit cerah.
Senyumannya mengajak bibir yang terpecah oleh keringnya dunia ini turut tersenyum.
Sang bidadari kembali hadir di depanku, kuangkat tubuhnya yang mungil, tawanya memecah keheningan yang hampa dan mengisinya dengan warna-warni yang bahkan pelangipun tak sanggup untuk memilikinya.

Aku taruh dia di pundakku, menghapus lelah, penat, dan perih itu.
Dalam tawanya, sang bidadari membisikkan kata yang membuat tubuh renta ini mampu menghadapi dunia.

“Ayah, aku sayang Ayah”

Kembali aku merasakan tetes yang mengalir, bukan dari dahi seperti siang tadi, melainkan sebuah tetes yang memiliki jutaan arti tentang kebahagiaan.

“Ayah sayang kamu bidadariku”

Ia tersenyum, memeluk erat leher yang akan selalu berdiri tegak menopang wajah yang selamanya ingin menyaksikan keindahanmu, wahai bidadariku.

Kami, aku dan bidadari kecilku kembali berjalan menembus kegelapan.
Dengan cahayanya menuntun langkah yang tak lagi goyah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s