Cerita iPhonesia Day Out 3 bareng NISSAN – Day 2

“Tidit tidit, alarmku berbunyi, tidit tidit begitu bunyinya”, yak jam 5 subuh hari ke-2 iPhonesia Day Out 3 tanggal 7 September 2015 gue dibangunkan oleh suara tidit-tidit. Tanpa menunggu 1 detikpun gue langsung beranjak bangun (gak deng, tendangan Rhova sambil ngomong “woi, alarm loe tuh! bangunin peserta” yang bikin gue bangun dengan malas) . Gimana gak malas? udara dingin menyengat, di luar masih gelap, mending ngeringkuk di dalem sleeping bag kayak dua sobat di sebelah gue, Karel dan Sangga, yang dengan enaknya tidur sebelah-sebelahan sambil pegangan tangan dan saut-sautan ngorok (berasa denger chewbacca ngobrol *fans star wars pasti ngerti).

Dengan sedikit memaksakan semangat 45 gue pun keluar tenda. Anak-anak mesti dibangunin nih, pasti masih pada molor lengkap dengan iler masing-masing, pikir gue. Ternyata dugaan gue salah total! Banyak dari mereka yang udah bangun, sebagian sholat di musholla (gue sempet mikir ini anak-anak iPhonesia atau pesantren ya? Soleh dan solehah gitu anaknya), sebagian lagi ada yang mandi meski airnya kayak air kulkas yang dikecewakan berkali-kali (dingin banget mendekati beku), dan ada juga yang cuma duduk-duduk bengong. Suasana perkemahan di pagi itu emang cocok buat duduk bengong, ngelamun, mikirin masa depan, menyesali masa lalu, “Ingat orang tua kamu di rumah!” kalo kata jaman jurit malam dulu.

Pukul 6 lewat dikit, susana perkemahan berubah menjadi surga. Ini gak lebay, sinar mentari yang baru muncul menyelinap melalui sela-sela pohon pinus menghasilkan “rays” yang bener-bener indah, ditambah kabut tipis yang melayang diantaranya membuat seluruh peserta menganga dan segera mengeluarkan gadgetnya untuk mengabadikan pagi yang indah itu. Gak ketinggalan Japra dengan kalimat khasnya “Eh photoin gue!! Photoin gue!!” loncat-loncat minta diphoto, untung masih pada baek mau photoin, kalo nggak bisa-bisa dia dikirain kesurupan. Overall, pagi itu bisa diwakili oleh satu kata, syahdu.

Setelah puas mengabadikan keagungan Sang Maha Kuasa, kamipun menyantap sarapan sebelum lanjut ke kegiatan yang dinanti-nanti, Outbond!

Jantung berdetak kencang, gugup bercampur excited, maklum baru pertama kalinya gue ikutan outbond. Biasanya maen jetski sama terjun payung. Outbond dimulai dengan sesi ice breaking, gue liat-liat sekeliling sih gak ada es dalam bentuk apapun kecuali beberapa hati yang membeku. Mungkin itu yang dimaksud oleh mas-mas Outbond, memecahkan hati yang membeku agar dapat menerima cinta yang baru. Ini bahas tentang apa ya? I’m lost here…please hold my hand…*tambah ngawur…

Prosesi Ice Breaking dimulai dengan beberapa games kecil, seperti game ngitung kelipatan 3 dimana yang dapet nomer 3 mesti menggantinya dengan dor!! Yang salah harus melepas salah satu bagian dari pakaiannya, untung gelang gue banyak, kolor lapis 3, kaos kaki dari model bayi ampe pemaen bola gue pake, amaann. Di game ini ada salah satu peserta yang salah melulu sampai-sampai hampir telanjang, phobia sama kata dor! kayaknya (mungkin dia keseringan ditolak jadi kapok nembak…).

Selain game dor! ada lagi game mencari teman, jadi awalnya masing-masing peserta disuruh mencari pasangan (emangnya gampang hah?! *sedikit curcol) , setelah itu disuruh bikin kelompok 3 orang, trus 4 orang, balik berpasangan lagi, trus kelompok 5 orang, 3 orang, 5, 3, 4, 5, 2, 3 dst seenak jidatnya si mas-mas outbond. Dengan system permainan seperti itu, keluarlah sifat asli para peserta yang gak segan-segan menikung temen sendiri demi keamanan dirinya. Contohnya ada yang nendang temennya cuma gara-gara harus merubah kelompok yang tadinya beranggotakan 5 orang jadi 4 orang, ada juga yang berkhianat pindah ke kelompok lain padahal sudah berikrar gak akan berpisah. Persis kehidupan nyata.

Setelah game melatih otak, pindah-pindah posisi jari gitu deh, yang katanya melatih keseimbangan otak kiri dan kanan (melalui sebuah test online di internet katanya gue 90% make otak kanan, so kacau banget deh di game ini) sampailah kami di team building games. Ada 3 game yang mesti dilakukan: Masukin bola ke pipa, bambu setan (nanti loe akan tau kenapa ni bambu kayak setan), dan mindahin bola *gue lupa nama asli dari permainan-permainan ini.

Untuk melakukan semua permainan di atas, peserta dibagi menjadi 3 kelompok dengan masing-masing beranggotakan kurleb 10 orang. Masing-masing kelompok harus menyelesaikan ketiga tugas dalam waktu tertentu. Pertama kelompok gue harus memasukkan bola yang dibawa oleh sepotong pipa menggunakan untaian tali ke dalam sebuah pipa. Di sini kerjasama sangat diperlukan, masing-masing anggota kelompok harus menarik tali dengan kekuatan yang tepat agar bola tidak jatuh, setelah semua melaksanakan tugasnya, di percobaan pertama kami….gagal. Akhirnya pada kesempatan kedualah kami, gagal lagi. Ketigakali, gagal juga.

Kesal akan kegagalan kami di game pertama, kami pindah ke game kedua: bambu setan. Jadi ceritanya gini, ada sebatang bambu panjang yang harus diturunkan beramai-ramai dari ketinggian setinggi dada hingga mencapai tanah. Nuruninnya hanya menggunakan jari  yang diletakkan dibawah bambu.  Kedengerannya gampang kan? sayangnya gue rasa ini bambu peninggalan Prabu Siliwangi, atau bekes tongkatnya kuntilanak jompo. Susah bener disuruh turun, maunya naek melulu. Bagian kiri turun, bagian kanan naik, kanan turun, kiri naik, atau semuanya naik, ngarep semuanya turun kayak ngarep Dian Sastro jelek, hil yang mustahal kalau kata srimulat.

Saking keselnya sama itu bambu, sampai ada yang ngaji buat ngusir penunggu bambu, ada juga yang mau ngencingin (ah kebelet aja pake alesan), sampai ada yang…nah ini nih yang gue ceritain di awal tulisan part 1…teriak “Bego Lu!” ke temennya sendiri sambil ngeplak tangan temennya itu yang seakan-akan gak mau turun. Maafkan Japra ya Anne, die belom pernah kesambet Jin Bambu kayaknya. Untungnya karena sudah melalui berbagai kegiatan yang mempererat tali persaudaraan mereka gak musuhan, cuma misuhan aja si Anne.

Permainan ketiga adalah memindahkan 3 buah bola dari 1 tempat ke tempat tempat lain. Ini gak seru, so gue skip aja ya. Kita langsung ke Individual game!!

Pertama-tama peserta dibawa untuk mencoba flying fox, menuruni kabel baja di ketinggian…tinggilah pokoknya…melintasi area perkemahan. Ada yang bergaya macam Superman (gak pegangan), tapi Superman kok gendut? Iya itu loe Dio!, ada yang kayak ibu-ibu pergi ke pasar lengkap dengan tas tenteng, ada yang teriak-teriak heboh kayak dikelitikin preman tanah abang, aslik pad absurd semua.

Setelah mendarat dengan selamat menggunakan flying fox, game selanjutnya adalah berjalan meniti seutas kabel baja. Di sini peserta mendapatkan kesempatan untuk mengeluarkan keresean semaksimal mungkin. Kebayang dong pas lagi bertaruh jiwa dan raga melintasi kabel, eh di ujung kiri kanan tu bocah-bocah gendeng pada asik loncat-loncatan, nendang-nendangin kabel supaya kabelnya goyang dengan heboh. Gue dan beberapa panitia juga kena dikerjain, untung kami semua udah tahan sama berbagai guncangan hidup, jadi kabel digoyang doang mah kecil, hidup goyang aja dah biasa, saking biasanya sampe sempet selfie rame-rame ditengah kabel meski ada lutung ngeganggu.

Habis ngelewatin kabel, saatnya rappelling, nurunin dinding terjal sambil loncat-loncat macam kodok. “Kakinya sejajar bahu!! Jangan liat ke bawah!! Pakai telapak kaki!!” Teriak operatornya dengan semangat. Broooo, boro-boro ngedengerin, 5 panca indera cuma terpusat sama 1 hal, buru-buru nyampe!!!. Jadi sedikit banget tuh yang ngikutin instruksi, walhasil gaya turunnya pada aneh bin ajaib, ada yang kayak cicak celeng, yang kudunya lurus ini kiri kanan, kiri kanan. Ada juga yang kayak gajah, brak!! bruk!! pake telapak!! brak!! bruk!!. Aneh-aneh deh pokoknya, tapi yang penting semua selamat dan meski melelahkan tapi menyenangkan.

Rangkaian Outbond selesai sudah, saatnya menuju perkemahan untuk berkemas-kemas. Berat rasanya membereskan barang mengetahui segala keseruan ini akan berakhir. Andai waktu bisa berhenti untuk bisa lebih lama lagi duduk berbincang-bincang bersama para sahabat. Tapi semua kisah pasti memiliki akhir, dan terima kasih padamu Tuhan kisah kali ini berakhir bahagia, persaudaraan semakin erat, keakraban semakin terjalin, banyak keseruan tercipta di sepanjang kisah.

Di hati gue, dan gue yakin para peserta merasakan hal yang sama, gue yakin kita semua akan bertemu lagi di waktu dan tempat yang lain untuk sama-sama berpetualang menciptakan kisah-kisah baru lainnya. Am I Right Guys?!

Advertisements

One comment

  1. aprodianne · September 20, 2014

    mau ikut lagiiii… tapi gk mau sekelompok sama Japrak lagi… :))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s