Bicara Cinta

Mari di hari minggu yang cerah ceria ini kita berbicara cinta. Sebuah topik yang gak pernah ada habisnya untuk dibahas, sebuah hal yang tidak pernah bisa dijabarkan secara pasti apa arti sebenarnya. Yuk kita simak apa arti cinta menurut gue yang sudah belasan kali gagal dalam menjalaninya, so jangan percaya ya sama tulisan di bawah ini.

Cinta, adalah sesuatu yang menurut gue bersifat abstraktif, gak berwujud, tapi ada dan bisa dirasakan. Jadi karena gak berwujud, perasaan cinta itu sendiri seharusnya ditujukan atau disebabkan kepada dan atau oleh hal-hal yang bersifat abstrak juga, seperti halnya air sungai mencari lautan, dunia yang sama. Dengan mengerti konsep dasar ini, kita akan tahu kita ini jatuh cinta apa nggak. Kita ambil contoh dari beberapa kasus di bawah ini:

“Gue jatuh cinta bro!”

“Kenapa?”

“Soalnya dia cantik”

Gue bisa bilang bahwa yang bilang jatuh cinta di atas itu bukan lagi jatuh cinta karena yang dituju adalah fisik dari yang “dicintai”nya, sesuatu yang berwujud nyata, dunia yang berbeda. Jadi bila merasakan sesuatu terhadap bentuk fisik, itu artinya bukan cinta yang dirasakan, melainkan tertarik, suka, atau malah nafsu.

“Bro, gue akhirnya jatuh cinta lagi!”

“O ya? Siapa orangnya?”

“Adalah, Ayu namanya. Dia orangnya baik, suka bantu nenek-nenek nyebrang. Punya hobby yang sama ama gue, sama-sama demen ngupil. Dia juga pinter, pernah juara cerdas cermat sekelurahan”

Nah ini!! Yang namanya hampir deket sama jatuh cinta, hehehehe. Hal-hal yang diceritain seseorang di atas itu sifatnya psikologis, meski memang berwujud abstrak tapi itu bukan yang dicari oleh si cinta. Ibaratnya danau, agak mirip, tapi bukan lautan. Abstrak dalam cinta bukan sembarang abstrak, untuk gampangnya beda dong kualitas abstrak di lukisannya Affandi sama abstrak di lukisan yang suka kita lihat di jalan Braga Bandung misalnya.

Terus apa dong? Bentuk fisik bukan, psikologis juga bukan. Lautan yang dicari si cinta itu seperti apa? Abstrak yang kayak gimana sih yang bisa connect sama si cinta? Gue jawab dengan sok yakin bahwa jawabannya adalah: Jiwa/Soul dan nilai-nilai (value) di dalamnya?

Kamu bisa bilang kamu cinta seseorang bila kamu tertarik dengan jiwanya, dengan nilai-nilai yang ada di dalam dirinya. Jiwalah yang membedakan satu orang dengan orang lainnya. Yang cantik banyak, pergi ke mall, diskotik, cafe-cafe, bertebaran tuh para wanita cantik dan pria ganteng, saking banyaknya sampai kalau kita bikin sistem ranking bakal kebingungan siapa yang bakal ditarok di peringkat pertama. Yang baik juga bejibun, mungkin gak sebanyak yang cantik atau ganteng, tapi tetep banyak. So kalau kita mesti milih salah satu dari mereka pasti bingung, udah milih yang caem, eh ada yang lebih caem, udah milih yang baik eh ada yang kayak Zaenabnya si Doel. Lalu bertemulah si cinta dengan si jiwa yang ia cari-cari selama ini, lalu hal lain menjadi tidak begitu berarti lagi.

Lalu apa sebenarnya jiwa itu? Apa tolak ukurnya? Hmm gak ada ukuran yang pasti, kamu bakal tahu saat kamu menemukannya, karena bagi setiap orang arti dan wujudnya akan berbeda-beda. Wah susah dong? Pastinya, jadi dibikin santai aja. Gak usah si jiwa ini jadi tolak ukur pertama, cinta itu sebuah perjalanan yang biasanya diawali oleh naksir wajahnya, lalu mulai ngobrol-ngobrol terus suka sama pribadinya, lalu jangan berhenti di situ, lanjutkan perjalananmu sampai menemukan si jiwa. Yang pasti, dia ini ada di bagian terdalam dari seorang manusia, dig deep, and your heart wil see it and fall in love.

Ya gitu deh, seperti pembahasan tentang cinta lainnya, pasti ada yang setuju sama gue ada yang nggak. Yang jelas pasti sebagian besar bingung sama apa yang gue tulis, apa sih maksudnya? naon sih maneh? Tenang, gue juga bingung kok, cinta itu sebuah misteri yang gak akan terungkap karena memang terlalu besar untuk dipecahkan hanya melalui kata-kata. At least, for now, I can tell that I’m fallgfjidlhbe *koneksi putus….

Advertisements

8 Mas-mas Gemas di Nepal, Part I

nepal_2117497b

42 hari lagi menjelang keberangkatan 8 Ksatria Madangkara/8 Penjelajah Ketinggian/8 om-om ganteng/8 Pria Jomblo dan merasa Jomblo/8 Mas-mas Gemas (sampai tulisan ini ditulis belum nemu nama yang tepat) menuju NEPAL!

Gue pribadi tadinya mengenal Nepal cuma dari benderanya yang gak kayak bendera negara tapi lebih mirip sama bendera di karnaval atau festival, atau bahkan acara ulang tahun anak tetangga yang baru menginjak umur 5 bulan (iya orang tua jaman sekarang emang suka lebay). Dulu waktu jaman SD pas ulangan mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial gue paling suka kalau ada soal tentang bendera Nepal, hapal banget gue. Asal jangan ditanya siapakah orang super duper creative dibalik bentuk bendera yang unik itu? Eh, menemukan sang penemu bendera kayaknya bisa jadi tema perjalanan ini ya? Kita kasih judul “Finding the Flag Man”.

Selanjutnya gue tahu lebih banyak tentang Nepal dari buku “Titil Nol” karangan Agustinus Wibowo (ini buku wajib baca!! kenapa? baca aja sendiri) yang bercerita tentang Kathmandu sebagai kota surga backpackers, dengan kota tua dan para biksu berwarna-warni nan eksotisnya, dengan pemandangan super gokilnya, dengan kehidupan yang super lambatnya (gue kebayang jogja, versi dinginnya). Sejak membaca buku ini gue menjadi tertarik terhadap negara yang berada di kaki gunung Himalaya ini. Oke, gue masukin ke bucket list, pikir gue saat itu. Entah kapan, pokoknya gue mesti ke sana. Entah kapan karena bener-bener gak kebayang mau ngajak siapa, kesananya gimana, pokoknya pengen aja dulu deh.

Sampailah suatu malam gue dan beberapa teman lagi nyuci mobil bareng. Iya saking kompaknya nyuci mobil aja mesti barengan, Tiba-tiba!! *jeng jeng!! Zoom in zoom out..halah…salah seorang temen gue yang bernama Susangga Sangga (bukan orang sunda) tiba-tiba nyeletuk “Ke Nepal yuk, ada tiket murah nih”. Belum sempat gue mikir sedetikpun atas tawaran tersebut temen gue satu lagi yang bernama Zoelcholid membalas “Ayok, kapan?”. Gokil, temen gue yang satu ini emang super impulsif. “November, cuma 3jutaan nih pp” jawab Sangga. “Berangkat! kita ajakin siapa lagi ya? Loe ikut kan Ram?” sang super impulsif berkata lagi. “Ntar gue mikir-mikir dulu deh” jawab gue. Emang sih pengen banget, tapi kan shock juga kalau belum lama masukin ke bucket list tau-taunya udah mau jalan aja. Kayak baru aja PDKT eh udah langsung diajak nikah.

Setelah berpikir panjang, tentang duit (lagi kere saat itu, saat ini juga sih), tentang apa yang bakal terjadi selama masa penantian (itu ajakan di bulan maret, ada 8 bulan dimana bisa terjadi apapun diantaranya yang bisa bikin rencana perjalanan ini batal seperti kerjaan lain yang nilainya 100 M, maskapai penerbangannya bangkrut, Nepalnya bubar, Himalaya mencair, dapet pacar baru, dan lain-lain. Who knows right?), dan tentang-tentang lainnya akhirnya gue memutuskan “ah bodo amat, beli aja dulu tiketnya. Nanti gimana nanti, karena masa depan kita gak pernah tau, mau beli sekarang berangkat besok aja masih bisa batal. So I decided to go to Nepal!!

Ajak sana-sini buat nyari temen seperjalanan akhirnya terkumpullah 5 orang lain lagi. Ada Acel yang pertanyaannya cuma 1 “ada spa gak?” (metroseksual banget anaknya), ada Arslan (Ganteng, tajir, jomblo karena change focusnya lama *inside joke), ada Adityo Karno (gue yakin sampai sekarang dia gak ngerti kenapa bisa ikutan, impulsif juga anaknya), ada om Budi dan om Indra (temennya Zoelcholid yang katanya Anak Gunung Sejati, sampai sekarang gue belum pernah ketemu mereka)

6 bulan sudah kami lewati penantian ini, tinggal 1 bulan lebih sedikit menuju tanggal keberangkatan. Akhirnya kamipun memutuskan untuk rapat. Selama ini segala sesuatunya hanya melalui whatsapp dan email. Pembicaraan mengenai beli sepatu ini, beli jaket itu, beli tas ono, jalan ke tempat sana, sepedaan nyusur itu ini, terlalu absurd dan perlu diluruskan.

Rapat kemarin malam dimulai dengan itinerary. “Jadi kemana aja kita?” tanya forum. Dijawab oleh Sangga “jadi email gue gak dibaca?!”, anak ini emang detail banget orangnya dan jadi satu-satunya orang yang bener-bener peduli tentang mau ngapain aja selama di Nepal. Yang lain pengennya sih terima beres hihihihi. Ya iyalah yang ngajakin kan mesti yang ngurusin juga.

Rapat berlangsung seru, ada ide mampir ke Bhuttan demi bertemu permaisuri nan cantik jelita yang konon bersama sang Raja gemar berkeliling negeri hanya sekedar untuk menyapa rakyatnya dan mengetahui segala persoalan di negerinya, kayak negeri dongeng ya?. Ada lagi ide mampir ke Ladakh, tempat scene terakhir di film Three Idiots yang super keren diambil. Bhuttan akhirnya kami drop karena informasi yang gue dapet salah. Katanya bisa lewat jalan darat cuma 3 jam, ternyata berbatasan pun nggak, kalau mau ke Bhuttan dari Nepal mesti lewat India, yang artinya entah berapa lama. Mesti naik pesawat yang harganya sekitar 3 juta pp ditambah selama di Bhuttan wajib mengambil paket wisata sebesar minimal $250 per hari dimana $60 nya diperuntukkan untuk kesejahteraan rakyat Bhuttan seperti sekolah, infrastukrur, dll. Keren ya Bhuttan ini? Ladakh pun belum dipustuskan, karena perjalanan darat menuju ke sana memakan waktu belasan jam dengan jarak 1000++ KM. Bisa juga pakai pesawat ke Delhi, lalu naik pesawat lagi ke Leh.

Akhirnya diputuskan option A tetap jelajah Nepal dengan kota-kota tujuan Kathmandu, Bhaktapur, Pokara, dan Sarangkot. Dengan kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan seperti city tour, paragliding, trekking selama 3 hari tersusunlah budget sebesar $728 include penginapan, makan dan transport.

Ah, we are getting close!! See you Lake Phewa, see you Devi’s Fall, see you Peace Pagoda, see you Durbar Square, see you sunrise at Sarangkot!! *sambil baca itinerary.

And see you all dengan cerita-cerita selama perjalanan kami di NEPAL!!

Sedikit cerita tentangmu

Suatu hari aku bertemu dengannya, seorang wanita sederhana nan bersahaja.
Tak tampak hias berlebih, melainkan tawa yang menghias wajahnya.

Setelah lama aku mengenalnya, tak kusangka derita tak terkira telah hadir dalam dirinya.
Mengapa kau tampak bahagia?, tanyaku pada suatu senja.

Sangat mudah bagiku untuk selalu gundah, sangat banyak alasan bagiku untuk mengumbar tangisan. Tapi pilihanku untuk terus maju, meninggalkan masa lalu, demi anak-anak dan keluargaku, memupuk harapan demi masa depan, jawabnya.

Terkagum aku mendengarnya, tak ada paksa dibalik matanya, hanya ketulusan nan menawan.

Aku tahu dia hanya manusia, tetes air mata terkadang menemani harinya. Seperti suatu hari aku melihatnya, lelah tampak seperti menjajah. Tapi dia manusia luar biasa, tak memerlukan waktu lama untuk kembali tertawa.

Banyak pelajaran kuambil darinya, tentang bertahan dalam kehidupan, tentang keluarga dan berbagai artinya, tentang asa yang mengapus lara.

Teruslah bertahan wahai wanita kesayangan Tuhan, berkat tak akan ragu menghampirimu. Lindungan-Nya akan seperti air di musim penghujan, tak akan malu menyirami harimu.

Teruslah menjadi wanita biasa, yang tak menyadari ia sebenarnya perkasa.

Teruslah menjadi wanita penuh tawa, yang membawa bahagia ke dalam dunia.

Tetap semangat!!

Gugur

Keduanya terdiam, bertatapan. Dalam hening masing-masing mereka berharap detik waktu yang kian menuju titik nol berhenti sejenak saja.

“Akhirnya tiba juga”, kesunyian terpecah.

“Ya, akhirnya. Tak bisakah akhir itu tiada?”

“Kuberharap hal yang sama, tapi sang kehidupan berkehendak lain”

“Sungguh berat hal ini bagiku, sejak awal kau hadir, kau memberikanku nafas dan alasan untuk terus hidup”

“Bagiku, kaulah alasanku ada, keberadaanku dikarenakan keberadaanmu”

“Mengapa sesuatu yang ditakdirkan untuk bertemu, juga memiliki takdir sebuah perpisahan?”

“Karena putaran kehidupan terbentuk dari rangkaian kisah perjumpaan dan selamat tinggal”

“Artinya akhir kisah kita adalah awal bagi sebuah cerita yang lain?”

“Ya, bagimu sudah menanti perjumpaan-perjumpaan lain, dan ceritaku akan selalu menjadi bagian dari kisahmu”

…………….

“Terima kasihku untukmu, yang telah setia menemani hari-hariku dalam terang maupun gelap, dalam terik maupun hujan”

“Puji dan syukurku bagimu, untuk segala ketegaranmu, untuk menjadi tambatanku. Selamat tinggal”

Sepucuk daun melayang dari ketinggian, waktunya telah tiba untuk gugur, meninggalkan sang dahan yang menatap dalam diam.

Titik nol telah tiba hari itu, sebuah titik yang menjadi akhir sekaligus awal, sebuah titik yang menjadi pusara kehidupan.

Cerita iPhonesia Day Out 3 bareng NISSAN – Day 2

“Tidit tidit, alarmku berbunyi, tidit tidit begitu bunyinya”, yak jam 5 subuh hari ke-2 iPhonesia Day Out 3 tanggal 7 September 2015 gue dibangunkan oleh suara tidit-tidit. Tanpa menunggu 1 detikpun gue langsung beranjak bangun (gak deng, tendangan Rhova sambil ngomong “woi, alarm loe tuh! bangunin peserta” yang bikin gue bangun dengan malas) . Gimana gak malas? udara dingin menyengat, di luar masih gelap, mending ngeringkuk di dalem sleeping bag kayak dua sobat di sebelah gue, Karel dan Sangga, yang dengan enaknya tidur sebelah-sebelahan sambil pegangan tangan dan saut-sautan ngorok (berasa denger chewbacca ngobrol *fans star wars pasti ngerti).

Dengan sedikit memaksakan semangat 45 gue pun keluar tenda. Anak-anak mesti dibangunin nih, pasti masih pada molor lengkap dengan iler masing-masing, pikir gue. Ternyata dugaan gue salah total! Banyak dari mereka yang udah bangun, sebagian sholat di musholla (gue sempet mikir ini anak-anak iPhonesia atau pesantren ya? Soleh dan solehah gitu anaknya), sebagian lagi ada yang mandi meski airnya kayak air kulkas yang dikecewakan berkali-kali (dingin banget mendekati beku), dan ada juga yang cuma duduk-duduk bengong. Suasana perkemahan di pagi itu emang cocok buat duduk bengong, ngelamun, mikirin masa depan, menyesali masa lalu, “Ingat orang tua kamu di rumah!” kalo kata jaman jurit malam dulu.

Pukul 6 lewat dikit, susana perkemahan berubah menjadi surga. Ini gak lebay, sinar mentari yang baru muncul menyelinap melalui sela-sela pohon pinus menghasilkan “rays” yang bener-bener indah, ditambah kabut tipis yang melayang diantaranya membuat seluruh peserta menganga dan segera mengeluarkan gadgetnya untuk mengabadikan pagi yang indah itu. Gak ketinggalan Japra dengan kalimat khasnya “Eh photoin gue!! Photoin gue!!” loncat-loncat minta diphoto, untung masih pada baek mau photoin, kalo nggak bisa-bisa dia dikirain kesurupan. Overall, pagi itu bisa diwakili oleh satu kata, syahdu.

Setelah puas mengabadikan keagungan Sang Maha Kuasa, kamipun menyantap sarapan sebelum lanjut ke kegiatan yang dinanti-nanti, Outbond!

Jantung berdetak kencang, gugup bercampur excited, maklum baru pertama kalinya gue ikutan outbond. Biasanya maen jetski sama terjun payung. Outbond dimulai dengan sesi ice breaking, gue liat-liat sekeliling sih gak ada es dalam bentuk apapun kecuali beberapa hati yang membeku. Mungkin itu yang dimaksud oleh mas-mas Outbond, memecahkan hati yang membeku agar dapat menerima cinta yang baru. Ini bahas tentang apa ya? I’m lost here…please hold my hand…*tambah ngawur…

Prosesi Ice Breaking dimulai dengan beberapa games kecil, seperti game ngitung kelipatan 3 dimana yang dapet nomer 3 mesti menggantinya dengan dor!! Yang salah harus melepas salah satu bagian dari pakaiannya, untung gelang gue banyak, kolor lapis 3, kaos kaki dari model bayi ampe pemaen bola gue pake, amaann. Di game ini ada salah satu peserta yang salah melulu sampai-sampai hampir telanjang, phobia sama kata dor! kayaknya (mungkin dia keseringan ditolak jadi kapok nembak…).

Selain game dor! ada lagi game mencari teman, jadi awalnya masing-masing peserta disuruh mencari pasangan (emangnya gampang hah?! *sedikit curcol) , setelah itu disuruh bikin kelompok 3 orang, trus 4 orang, balik berpasangan lagi, trus kelompok 5 orang, 3 orang, 5, 3, 4, 5, 2, 3 dst seenak jidatnya si mas-mas outbond. Dengan system permainan seperti itu, keluarlah sifat asli para peserta yang gak segan-segan menikung temen sendiri demi keamanan dirinya. Contohnya ada yang nendang temennya cuma gara-gara harus merubah kelompok yang tadinya beranggotakan 5 orang jadi 4 orang, ada juga yang berkhianat pindah ke kelompok lain padahal sudah berikrar gak akan berpisah. Persis kehidupan nyata.

Setelah game melatih otak, pindah-pindah posisi jari gitu deh, yang katanya melatih keseimbangan otak kiri dan kanan (melalui sebuah test online di internet katanya gue 90% make otak kanan, so kacau banget deh di game ini) sampailah kami di team building games. Ada 3 game yang mesti dilakukan: Masukin bola ke pipa, bambu setan (nanti loe akan tau kenapa ni bambu kayak setan), dan mindahin bola *gue lupa nama asli dari permainan-permainan ini.

Untuk melakukan semua permainan di atas, peserta dibagi menjadi 3 kelompok dengan masing-masing beranggotakan kurleb 10 orang. Masing-masing kelompok harus menyelesaikan ketiga tugas dalam waktu tertentu. Pertama kelompok gue harus memasukkan bola yang dibawa oleh sepotong pipa menggunakan untaian tali ke dalam sebuah pipa. Di sini kerjasama sangat diperlukan, masing-masing anggota kelompok harus menarik tali dengan kekuatan yang tepat agar bola tidak jatuh, setelah semua melaksanakan tugasnya, di percobaan pertama kami….gagal. Akhirnya pada kesempatan kedualah kami, gagal lagi. Ketigakali, gagal juga.

Kesal akan kegagalan kami di game pertama, kami pindah ke game kedua: bambu setan. Jadi ceritanya gini, ada sebatang bambu panjang yang harus diturunkan beramai-ramai dari ketinggian setinggi dada hingga mencapai tanah. Nuruninnya hanya menggunakan jari  yang diletakkan dibawah bambu.  Kedengerannya gampang kan? sayangnya gue rasa ini bambu peninggalan Prabu Siliwangi, atau bekes tongkatnya kuntilanak jompo. Susah bener disuruh turun, maunya naek melulu. Bagian kiri turun, bagian kanan naik, kanan turun, kiri naik, atau semuanya naik, ngarep semuanya turun kayak ngarep Dian Sastro jelek, hil yang mustahal kalau kata srimulat.

Saking keselnya sama itu bambu, sampai ada yang ngaji buat ngusir penunggu bambu, ada juga yang mau ngencingin (ah kebelet aja pake alesan), sampai ada yang…nah ini nih yang gue ceritain di awal tulisan part 1…teriak “Bego Lu!” ke temennya sendiri sambil ngeplak tangan temennya itu yang seakan-akan gak mau turun. Maafkan Japra ya Anne, die belom pernah kesambet Jin Bambu kayaknya. Untungnya karena sudah melalui berbagai kegiatan yang mempererat tali persaudaraan mereka gak musuhan, cuma misuhan aja si Anne.

Permainan ketiga adalah memindahkan 3 buah bola dari 1 tempat ke tempat tempat lain. Ini gak seru, so gue skip aja ya. Kita langsung ke Individual game!!

Pertama-tama peserta dibawa untuk mencoba flying fox, menuruni kabel baja di ketinggian…tinggilah pokoknya…melintasi area perkemahan. Ada yang bergaya macam Superman (gak pegangan), tapi Superman kok gendut? Iya itu loe Dio!, ada yang kayak ibu-ibu pergi ke pasar lengkap dengan tas tenteng, ada yang teriak-teriak heboh kayak dikelitikin preman tanah abang, aslik pad absurd semua.

Setelah mendarat dengan selamat menggunakan flying fox, game selanjutnya adalah berjalan meniti seutas kabel baja. Di sini peserta mendapatkan kesempatan untuk mengeluarkan keresean semaksimal mungkin. Kebayang dong pas lagi bertaruh jiwa dan raga melintasi kabel, eh di ujung kiri kanan tu bocah-bocah gendeng pada asik loncat-loncatan, nendang-nendangin kabel supaya kabelnya goyang dengan heboh. Gue dan beberapa panitia juga kena dikerjain, untung kami semua udah tahan sama berbagai guncangan hidup, jadi kabel digoyang doang mah kecil, hidup goyang aja dah biasa, saking biasanya sampe sempet selfie rame-rame ditengah kabel meski ada lutung ngeganggu.

Habis ngelewatin kabel, saatnya rappelling, nurunin dinding terjal sambil loncat-loncat macam kodok. “Kakinya sejajar bahu!! Jangan liat ke bawah!! Pakai telapak kaki!!” Teriak operatornya dengan semangat. Broooo, boro-boro ngedengerin, 5 panca indera cuma terpusat sama 1 hal, buru-buru nyampe!!!. Jadi sedikit banget tuh yang ngikutin instruksi, walhasil gaya turunnya pada aneh bin ajaib, ada yang kayak cicak celeng, yang kudunya lurus ini kiri kanan, kiri kanan. Ada juga yang kayak gajah, brak!! bruk!! pake telapak!! brak!! bruk!!. Aneh-aneh deh pokoknya, tapi yang penting semua selamat dan meski melelahkan tapi menyenangkan.

Rangkaian Outbond selesai sudah, saatnya menuju perkemahan untuk berkemas-kemas. Berat rasanya membereskan barang mengetahui segala keseruan ini akan berakhir. Andai waktu bisa berhenti untuk bisa lebih lama lagi duduk berbincang-bincang bersama para sahabat. Tapi semua kisah pasti memiliki akhir, dan terima kasih padamu Tuhan kisah kali ini berakhir bahagia, persaudaraan semakin erat, keakraban semakin terjalin, banyak keseruan tercipta di sepanjang kisah.

Di hati gue, dan gue yakin para peserta merasakan hal yang sama, gue yakin kita semua akan bertemu lagi di waktu dan tempat yang lain untuk sama-sama berpetualang menciptakan kisah-kisah baru lainnya. Am I Right Guys?!

Sang Bidadari (Reborn)

Bertetes air kurasakan mengalir, melalui dahi, hidung, untuk kemudian terjun bebas dan menghilang ditelan tanah merah yang berdebu.

Dimanakah sang surya? Kudongakkan kepala dan seketika mataku terbutakan olehnya.
Ternyata dia yg pagi tadi masih tersenyum malu-malu sekarang sudah tegap mengangkasa tepat diatas kepalaku.

Dalam kegelapan yg sejenak, terlintas wajah yang menyejukkan duniaku.
Dengan senyumnya yang membuat bunga-bunga tertunduk malu.
Dengan tawanya yang membuat sungai-sungai berhenti mengalir, tertegun.
Dengan rambutnya yang membuat angin ingin terus berhembus lembut.
Bidadariku, dimanakah engkau bercahaya saat ini ?

Sebuah teriakan membuka mataku.
Menghadirkan sosok hitam yang memiliki kerut tak terhitung.
Kubalikkan kedua telapak tanganku, yang menampung ribuan jejak cerita tentang kehidupan.
Kembali sebuah teriakan menggetarkan telinga, menarik diriku dari aliran kisah tak berujung.

Tanpa alas aku berjalan menuju sumber suara tadi.
Huph…
Kuangkat benda yang sudah 20 tahun ini bergantian menemani pundakku
Kuantar dia menuju persinggahan tempat dia menunggu, sebelum ia menuju tempat yang tak pernah kutuju.

Lelah…penat…perih…itulah rasa yang menjadi pengunjung setia di keseharianku.
Tetapi seperti pada kesetiaan mereka, sosok bidadari itu akan selalu muncul bagai tetes hujan di kekeringan yang tak berujung.
Ingin rasanya aku memeluk keceriaanmu, tapi matahari ini masih tinggi.
Tidak mungkin, sayang…

Bintik-bintik peluh silih berganti muncul menemani sisa hariku.
Hingga sang surya terduduk lelah, meredupkan cahayanya dalam lembayung yang terlalu indah.
Dalam sisa jiwa yang mendekati nadir, kuseret langkah yang seakan tak lagi memiliki bayang. Menuju atap dimana para bintang berbagi cerita yang hanya berhenti saat aku terlelap.
Bersama dia tentunya….sang bidadari.
O ya!, bidadari…dimanakah engkau saat ini ?

Tanpa kusadari dua tangan kecil memeluk lembut tubuh renta ini.
Diiringi suara terindah yang muncul sejak 5 tahun lalu. Suara yang selalu membangkitkan kehancuranku, suara yang membantuku berdiri saat aku terkulai, suara yang membuat malam tersenyum tanpa henti.

“Ayah”

Sang Bidadari kembali hadir di hadapanku. Menatap dengan matanya yang secemerlang purnama di langit cerah.
Senyumannya mengajak bibir yang terpecah oleh keringnya dunia ini turut tersenyum.
Sang bidadari kembali hadir di depanku, kuangkat tubuhnya yang mungil, tawanya memecah keheningan yang hampa dan mengisinya dengan warna-warni yang bahkan pelangipun tak sanggup untuk memilikinya.

Aku taruh dia di pundakku, menghapus lelah, penat, dan perih itu.
Dalam tawanya, sang bidadari membisikkan kata yang membuat tubuh renta ini mampu menghadapi dunia.

“Ayah, aku sayang Ayah”

Kembali aku merasakan tetes yang mengalir, bukan dari dahi seperti siang tadi, melainkan sebuah tetes yang memiliki jutaan arti tentang kebahagiaan.

“Ayah sayang kamu bidadariku”

Ia tersenyum, memeluk erat leher yang akan selalu berdiri tegak menopang wajah yang selamanya ingin menyaksikan keindahanmu, wahai bidadariku.

Kami, aku dan bidadari kecilku kembali berjalan menembus kegelapan.
Dengan cahayanya menuntun langkah yang tak lagi goyah.

Sayup Penyesalan

Ketika mataku perlahan terpejam dan kurasakan jantung yang berdetak menjauh, aku tersadar hidupku telah tergerus oleh setiap detak itu.
Saat itu pula aku terhenyak, lampu ini telah hampir padam tanpa sempat menerangi tempat ia seharusnya menyala.
Seketika aku merindukan senyuman, senyuman yang tak pernah aku lihat sebelumnya.
Seketika aku memimpikan kehangatan, kehangatan yang kini telah menjadi dingin yang menusuk raga menembus jiwa.

Andai aku bisa kembali ke masa yang sudah kabur itu.
Saat matahari masih mengangkasa,
Saat bulan berbagi terang dalam kegelapan.

Ingin aku membangunkan diriku yang hanya terpejam,
Berlari menuju ruang tak terbatas bermandikan cahaya

Detak terakhir berakhir sayup,
hilang dikejauhan meninggalkan sesal yang tak terperikan.