The True Beauty

“Kau sepertinya datang dari jauh” ucap sebatang bunga kepada seekor kupu-kupu yang baru saja hinggap di kelopaknya.

“Ya, aku datang dari negeri di seberang sana” jawab sang kupu-kupu.

“Seperti apakah negeri seberang itu? Selama hidupku, hanya padang rumput ini yang kulihat” sang bunga bertanya.

“Negeri seberang penuh dengan bunga, keindahan mereka tak terkalahkan, bahkan permaisuri Raja pun tertunduk malu melihatnya. Jumlah mereka mengalahkan bintang-bintang di malam hari” jelas sang kupu-kupu.

“Kalau yang engkau katakan itu benar, lalu mengapa engkau jauh-jauh terbang ke sini? Apa yang engkau cari?” sang bunga bertanya lagi.

“Aku mencari keindahan yang lain. Bukan keindahan yang memabukkan, bukan keindahan yang membosankan.” jawab sang kupu-kupu tegas.

“Kalau keindahan yang kau ceritakan mengalahkan permaisuri Raja dan melebihi jumlah bintang-bintang, mengapa kau sebut semua itu membosankan? Bukankah itu artinya keindahan dalam tingkatnya yang paling tinggi?” tanya sang bunga tak dapat menutupi keheranannya.

“Keindahan yang mereka miliki membuat mereka lupa akan arti keindahan itu sendiri. Yang mereka pikirkan setiap hari adalah bagaimana untuk menjadi lebih indah dari yang lain, menjadi yang paling agung. Mereka melupakan sang mentari, mereka meniadakan sang embun, mereka menutup mata akan kehadiran sang tanah. Mereka lupa akan keindahan yang sejati” jelas sang kupu-kupu panjang lebar.

“Keindahan yang sejati? Apakah itu?” tanya sang kupu-kupu tak mengerti.

“Keindahan sejati adalah saat dimana keindahan itu tak menyadari keindahannya sendiri. Ia memberikan apa yg ia miliki, tanpa merasa perlu untuk dipuja, tanpa merasa ingin untuk dipuji. Ia memberi senyum kepada sang mentari, ia memberi pelukan kepada sang embun, ia tak pernah lupa menyapa sang tanah. Ia membahagiakan tanpa merasa kebahagiannya sendiri yang paling utama” sang kupu-kupu menjelaskan lagi sembari tersenyum.

“Apakah ada keindahan seperti itu?” sang bunga bertanya tak percaya.

“Ada” jawab sang kupu-kupu mantap

“Apakah kau telah menemukannya?” tanya sang bunga lagi.

“Ya” jawab sang kupu-kupu sambil tersenyum lagi.

“O ya? Dimana?” sang bunga bertanya tak sabaran.

“Di hadapanku sekarang ini” jawab sang kupu-kupu sambil tetap tersenyum.

“Aku? Kau main-main, apalah artinya diriku? hanya sebatang bunga di tengah padang rumput, tak ada yang pernah mengatakan aku indah” sang bunga berkata mengerutkan kelopaknya.

“Lihatlah sekelilingmu, rerumputan tumbuh subur dengan hijaunya yang cemerlang, dengarkan burung-burung tak hentinya bernyanyi gembira, tengoklah sang mentari yang terus tersenyum kepadamu sepanjang hari. Lihatlah dirimu, yang memberikan keindahan ke sekelilingmu. Lihatlah dirimu,yang membuatku menghentikan pencarianku, yang membuktikan bahwa engkau ada, keindahan sejati” tutup sang kupu-kupu.

Sang bunga hanya terdiam mendengar semua itu, masih tak percaya akan ucapan sang kupu-kupu, tetap tak merasa memiliki hal yang membuat sang kupu-kupu hinggap di kelopaknya.

“Aku hanyalah aku, menjalani takdir yang diberikan kepadaku, tak lebih dari bunga yang lain, tak dapat aku membuat sang permaisuri menunduk malu, aku hanyalah sebutir pasir diantara bintang-bintang.” ucap sang bunga dalam hati, tanpa menyadari semua itulah yang menjadikannya indah, yang selama ini dicari oleh sang kupu-kupu dalam perjalanannya menyebrangi lautan, melintasi pegunungan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s