Dua Manusia, Satu Dunia.

IMG_3104

Dua manusia bercakap-cakap tanpa suara di balik selembar kaca yang memisahkan antara aku dan mereka. Entah apa yang mereka perbincangkan, mereka terkadang seperti tertawa, menggerak-gerakkan kedua lengan mereka. Mungkin tentang layangan seperti yang aku dan temanku temukan pagi tadi, yang sore nanti sebelum matahari terbenam akan aku terbangkan di lapangan kosong dekat rel kereta itu.

Sesekali mereka mengangkat sebuah cangkir dan meminum isi di dalamnya, entah apa cairan itu, kulihat berwarna cokelat dan membuat mereka tersenyum. Mungkin seperti minuman yang biasa kuminum saat berkumpul dengan abangku dan teman-temannya di ujung gang sana. Rasanya panas di tenggorokan, kata orang berbahaya, tapi bisa membuatku bahagia.

Dua-tiga kali percakapan itu terhenti, mereka menatap sebuah kotak bercahaya, bergeming melupakan sekeliling. Entah apa yang mereka lihat, mungkin sebuah foto Ibu yang mereka sayangi, seperti yang selalu kulakukan setiap malam menjelang tidur. Melepas rindu kepada Ibuku, yang kata Bapak sedang berada di surga. Entah bagaimana aku ke sana, mengunjungi Ibu, mungkin mereka tahu.

Seorang dari mereka menolehkan kepalanya ke arahku, matanya memandang mataku. Ada sesuatu yang membuatku merasa hangat, entah apa. Dia tersenyum, jangan percaya orang kota, kata Kakek yang tinggal di lapak seberang. Kabarnya dahulu ia seorang tuan tanah, entah kenapa ia tidak tinggal di tanahnya sendiri. Aku berlari, meninggalkan kaca dan dunia di dalamnya, dunia yang apakah sama dengan duniaku? Entah, yang kutahu aku ingin tetap tinggal di lapakku sendiri.

*
Di situ, di balik selembar kaca yang memisahkan antara ruangan nyaman berpendingin tempatku berada dengan dunia yang terik dan pengap di luar sana, berdiri seorang bocah. Rambut berwarna kemerahan hampir menutupi matanya, mata yang meyisakan sedikit kilat dibalik lelah. Kami berpandangan, kulihat diriku dalam dirinya, diriku dari puluhan tahun yang lalu. Tak terasa aku tersenyum, hatiku berkata sapalah ia, dirimu. Belum sempat sebuah katapun terucap, ia telah berlari, pakaian lusuh yang tampak kebesaran berkibar-kibar diterpa angin, kakinya yang telanjang melintasi aspal panas seakan tak lagi memiliki rasa.

Tubuhnya yang mungil semakin menjauh, lalu menghilang dalam titik di ujung sana. Ia seperti masa laluku, yang terkadang kulupakan, seperti menghilang tapi sebenarnya hanya bersembunyi menanti waktu untuk menunjukkan muka. Mungkin sudah saatnya bagiku untuk berhenti berlari, mungkin disinilah aku harus berhenti, memalingkan wajah bukan hanya ke depan, dan mengulurkan tangan.

Ya, akan kucari ia, bocah dari masa lalu yang berambut kemerahan menutupi mata. Mungkin ia ada di lapangan kosong dekat rel kereta, bermain layangan ditemani mentari terbenam. Akan kugenggam tangan mungilnya, menyatukan dunia kami berdua.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s