Mimpi? Nyata?

“Siang, pak.Boleh aku turut beristirahat disini? Aku baru saja datang dari negeri sana,”tanyaku kepada seorang petani yang sedang beristirahat di gubuk tepian sawah itu.

Hari itu sangat cerah, sama sekali tak membekas hujan deras tadi pagi.Sawah menguning, kontras dengan hijaunya pegunungan yang berjejer gagah bagaikan tembok raksasa yang melindungi surga bumi nan asri ini.Batang padi merunduk, tak kuasa menahan bulir-bulir padi nan ranum.Air mengalir dari sungai di kejauhan sana.Jernih, menyegarkan.Membawa kesuburan tanpa henti.Kemakmuran nan damai menjadi latar belakang percakapan kami siang itu.

Mengusap peluh yang membasahi sekujur tubuhnya, Pak Tani menjawab, “Negeri yang mana nak ? Negeri di mana para penguasa saling berebut kuasa dan gemilang harta?”

Aku hanya diam, menatap matanya yang lelah tapi penuh kilatan semangat dan harapan, menanti lanjutan kalimatnya.

“Negeri di mana mereka berbaku hantam, mengorbankan malu, menggadaikan harga diri, menghancurkan tanah tempat mereka berpijak?”

Sejenak dia menghela nafas, kemudian menghirup kopi hitam yang sedari tadi wanginya merayu hidungku.

“Iya pak,” singkat jawabku.Sedikit panas hati dan telinga ini mendengarnya. Tapi sudahlah, ocehan seorang petani tak ada guna untuk didengar.

“Ahahahaha, sudah kuduga. Tapi nak, sebenar-benarnya aku tak peduli.Biarkanlah mereka membuat neraka di negeri itu, asalkan apinya tidak menjilat surga ini,” lanjutnya lagi tanpa kutanya. ”Selama kami masih bisa mengolah bumi nan subur ini, mengisi penuh lumbung-lumbung, memberikan seuntai perhiasan bagi istri-istri kami, menyematkan kain pada anak-anak gadis kami, dan menyajikan keceriaan bagi putra-putra kami, kami tidak akan peduli dengan sosok dunia yang lain,” ujarnya panjang lebar.

“Surga yang telah diberikan oleh Sang Luhur, inilah dunia kami. Kami rawat, kami jaga, dengan penuh penghormatan dari segenap jiwa raga kami. Setiap tetes keringat yang jatuh di tanah, menjadi pengikat batin kami dengan Sang Luhur, yang tak akan terputus oleh hal apapun.”Ucapan pak Tani itu membuatku tertegun.Jujur saja, aku tak mengharapkan perkataan yang sedemikan berapi-api dan penuh berisi makna dari seorang petani, yang sebelumnya aku anggap remeh; hanya sebuah guratan halus di telapak kehidupan.

Aku tersadar dari kekagumanku saat dia mengulurkan tangannya yang kekar, menghitam oleh sengatan mentari yang aku yakin bagaikan siraman hujan di tanah tandus baginya. Ia menawarkan sebatang rokok kepadaku, yang kutolak dengan gelengan kepala.

Ya Tuhan, baru kali ini aku tak kuasa untuk berkata-kata. Aku datang dari dunia yang ia sebut neraka.Lidahku telah terbiasa bertarung dengan kebenaran, terlatih untuk menebar kebohongan. Tak ada kalimat yang tak bisa kulawan, tak ada perkataan yang tak bisa kuhancurkan. Tapi kali ini mulutku terkunci rapat, lidahku mendadak layu.Sebuah kehidupan, yang tak pernah kujumpai sepanjang hayatku, sekonyong2 terbentang di hadapanku, berdiri tegak dengan gagahnya, tak mampu kulawan, bahkan tak mampu kupandang dengan mata duniawiku. Semua ini terjadi hanya karena ucapan seorang petani, sosok kecil dengan perkataannya yang seluas samudera.

Setelah aku berhasil menguasai diri, aku pun bertanya, “Tapi bagaimana kalau api neraka itu pada akhirnya menjalar kesini? Membumihanguskan surga tempatmu berteduh, mengeringkan sungai tempatmu berbasuh, menggantikan Sang Luhur dengan Sang Bala?”

“Ahahahahahahaha,” dia menjawabnya dengan tawa yang renyah.Membahana mengisi relung-relung jarak diantara batang padi yang tertiup angin, bergoyang seperti sedang turut menertawakanku.

“Hal itu tidak mungkin, anakku,” ujarnya dengan penuh percaya diri. “Sudah ratusan tahun kami hidup di tanah ini.Sejak jiwa pertama kami yang dilahirkan langsung oleh Sang Luhur, hingga lahir jiwa-jiwa baru yang menempati 4 penjuru mata angin di taman surgawi ini. Tak pernah sekalipun kami hancur. SurgaNya terlalu agung untuk disentuh tangan-tangan kotor, terlalu besar untuk dijangkau keserakahan, dan terlalu putih untuk dikotori kebencian. Sang Luhur menjaga tanah ini, karena disinilah Dia mencurahkan segenap kasihnya, merangkul semua yang selalu tersenyum kepadaNya, lantas menebarkan harum kebahagiaan keseluruh penjuru.”

Akupun tersenyum.Sudah mulai kurasakan harum itu, meresap melalui seluruh bagian tubuhku, mengisi kekosongan yang bahkan tidak kusadari keberadaannya.Melihatku tersenyum, Pak Tani menepuk pundakku.”Beristirahatlah kau, nak!Disini, kau tak perlu lagi bertarung karena kami dan semua wujud di sekelilingmu adalah sahabatmu.”

Setelah mengucapkan itu, dia pun beranjak.Kembali ke padang nan hijau menguning, melanjutkan percakapan tanpa kata dengan Sang Luhur.Aku, masih dengan senyumanku, perlahan merebahkan diri, membiarkan sapuan angin membelai wajahku yang tak pernah merasakan kelembutan.Memasrahkan diri dalam alunan gemericik sungai bernada damai yang tak pernah menyentuh telingaku.

“Mas.”

Sebuah kalimat disertai guncangan ditubuh membangunkanku dari tidur.Perlahan kubuka mataku.Samar kulihat sesosok tubuh bercaping sedang berdiri dihadapanku.”Ah, Pak Tani sedang berusaha membangunkanku,” pikirku dalam hati.

Kutegakkan tubuhku.Dan seiring kesadaranku yang mulai pulih, aku pun bertanya, “Sudah sel…..”

Penglihatanku yang mulai turut pulih membuatku tercekat.Yang berdiri di hadapanku ini bukanlah Pak Tani, melainkan sesosok lelaki bercaping dan bertelanjang dada, memperlihatkan tulang2nya yang menonjol. Lengan kekar itu tak ada, digantikan sebuah lengan yang kurus kecil, tak lebih besar dibandingkan pacul yang ia tenteng di pundaknya.

Tersentak, aku melayangkan pandang melewati sosok di depanku ini.Matakupun terpaku pada sebentang tanah kering yang memerah oleh pantulan cahaya senja.Tak ada warna hijau maupun kuning disitu. Di kejauhan sana, tampak seonggok tanah yang membukit, sedang tertelan oleh gelapnya sang malam.Tak ada lagi kegagahan disitu, bahkan tidak sisa-sisanya. Kucari gemericik air, hanya suara kesunyian yang aku dengar.Keterkejutanku melontarkan berbagai pertanyaan dalam hatiku.

“Pak?” tanyaku.

“Di manakah Pak Tani?”

“Di manakah Sang Luhur?”

“Apakah mereka sudah meninggalkan tempat ini?”

“Di manakah aku?”

“Kenapa aku terbangun di tempat seperti ini?”

Sayup-sayup kudengar sosok bercaping tadi menjawab,

“Ayo, nak, hari sudah senja.Lanjutkan istirahatmu di surau kami.Kamu terlalu lelah.Perjalanan dari negeri sana memang melelahkan”

Sejenak aku tertegun, untuk kembali melanjutkan tanya,

“Apakah aku sedang bermimpi?”

“Pak Tani, bangunkan aku!”

-Manakah mimpi ? Manakah nyata ? Tengoklah dari dunia dimana engkau hidup-

*ditulis oleh @ramaraia diedit oleh @wawanwicaksono

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s