Satu Salaman Seribu Kisah

Tanganku menyentuh tangannya, bersalaman. Seperti adegan di film Back To The Future, kurasakan kejut listrik yang membawa kami ke masa yang telah lalu.

Lama kutatap foto di dinding abu-abu yang menjadi pembatas antara tangga dan ruangan kantorku.

“Lucu juga” tak sadar kata itu terucap.

Hari pertamaku di kantor baru, sepertinya pilihanku tepat memilih pekerjaan ini.

“Siapa ini?” tanyaku ke rekan kerjaku, yang dari raut wajahnya tampak sudah seribu tahun di ruangan itu.

“Dia dulu kerja di sini, tapi baru saja keluar minggu lalu” jawabnya acuh tak acuh.

Ah, harapan itu menghilang secepat dia datang.

Seminggu kulalui hari-hari di kantor itu tanpa gairah, entah kenapa foto itu telah membuatku berharap terlalu tinggi.

Senin, hari paling menyebalkan dalam dunia manusia pekerja. Kulangkahkan kaki dengan gontai melewati pintu kantor yang seakan menatap sinis.

Saat itulah kulihat foto itu menjelma menjadi nyata, senyum yang biasanya hanya terdiam sekarang menjadi hidup. Hari itu dia kembali bekerja di kantor lamanya.

Sejak saat itu hari-hariku menjadi berbeda, “nine to five” seperti tak pernah cukup, “twelve to twelve” tanpa dibayar pun aku mau.

Seiring waktu kami mulai dekat. Pulang kantor tidak sekali dua kali kuantarkan dia ke kostannya menggunakan motor bebek hitam kebanggaanku. Jam makan siang menjadi waktu dimana seperti hanya kami berdua yang bekerja di kantor itu.

Tiga bulan lamanya kami dekat, sampai di suatu malam kuberanikan diri menyatakan perasaanku kepadanya.

“Sejak hari itu, saat kutatap foto di tangga itu, aku jatuh cinta. Dari hanya angan di siang hari bolong, menjelma menjadi asa yang membangun rasa. Maukah kamu menjadi senyum dalam hari-hariku untuk sepanjang masa?”

“Akupun…” tak sempat ia menyelesaikan jawabannya, ada sebuah suara memotong.

“Mas, antriannya panjang nih, salamannya lama amat” ujar suara di sampingku.

Gelombang listrik kembali mengejutkanku, seperti saat ia membawa kami pergi, tetapi kali ini membawa kami, kembali ke pelaminan ini. Ia yang baru saja menjadi istri dari suami di sampingnya, tersenyum, senyum yang sama dengan senyum yang ada di foto itu, senyum yang telah membuatku jatuh cinta, senyum yang menceritakan seribu kisah dari masa lalu.

The True Beauty

“Kau sepertinya datang dari jauh” ucap sebatang bunga kepada seekor kupu-kupu yang baru saja hinggap di kelopaknya.

“Ya, aku datang dari negeri di seberang sana” jawab sang kupu-kupu.

“Seperti apakah negeri seberang itu? Selama hidupku, hanya padang rumput ini yang kulihat” sang bunga bertanya.

“Negeri seberang penuh dengan bunga, keindahan mereka tak terkalahkan, bahkan permaisuri Raja pun tertunduk malu melihatnya. Jumlah mereka mengalahkan bintang-bintang di malam hari” jelas sang kupu-kupu.

“Kalau yang engkau katakan itu benar, lalu mengapa engkau jauh-jauh terbang ke sini? Apa yang engkau cari?” sang bunga bertanya lagi.

“Aku mencari keindahan yang lain. Bukan keindahan yang memabukkan, bukan keindahan yang membosankan.” jawab sang kupu-kupu tegas.

“Kalau keindahan yang kau ceritakan mengalahkan permaisuri Raja dan melebihi jumlah bintang-bintang, mengapa kau sebut semua itu membosankan? Bukankah itu artinya keindahan dalam tingkatnya yang paling tinggi?” tanya sang bunga tak dapat menutupi keheranannya.

“Keindahan yang mereka miliki membuat mereka lupa akan arti keindahan itu sendiri. Yang mereka pikirkan setiap hari adalah bagaimana untuk menjadi lebih indah dari yang lain, menjadi yang paling agung. Mereka melupakan sang mentari, mereka meniadakan sang embun, mereka menutup mata akan kehadiran sang tanah. Mereka lupa akan keindahan yang sejati” jelas sang kupu-kupu panjang lebar.

“Keindahan yang sejati? Apakah itu?” tanya sang kupu-kupu tak mengerti.

“Keindahan sejati adalah saat dimana keindahan itu tak menyadari keindahannya sendiri. Ia memberikan apa yg ia miliki, tanpa merasa perlu untuk dipuja, tanpa merasa ingin untuk dipuji. Ia memberi senyum kepada sang mentari, ia memberi pelukan kepada sang embun, ia tak pernah lupa menyapa sang tanah. Ia membahagiakan tanpa merasa kebahagiannya sendiri yang paling utama” sang kupu-kupu menjelaskan lagi sembari tersenyum.

“Apakah ada keindahan seperti itu?” sang bunga bertanya tak percaya.

“Ada” jawab sang kupu-kupu mantap

“Apakah kau telah menemukannya?” tanya sang bunga lagi.

“Ya” jawab sang kupu-kupu sambil tersenyum lagi.

“O ya? Dimana?” sang bunga bertanya tak sabaran.

“Di hadapanku sekarang ini” jawab sang kupu-kupu sambil tetap tersenyum.

“Aku? Kau main-main, apalah artinya diriku? hanya sebatang bunga di tengah padang rumput, tak ada yang pernah mengatakan aku indah” sang bunga berkata mengerutkan kelopaknya.

“Lihatlah sekelilingmu, rerumputan tumbuh subur dengan hijaunya yang cemerlang, dengarkan burung-burung tak hentinya bernyanyi gembira, tengoklah sang mentari yang terus tersenyum kepadamu sepanjang hari. Lihatlah dirimu, yang memberikan keindahan ke sekelilingmu. Lihatlah dirimu,yang membuatku menghentikan pencarianku, yang membuktikan bahwa engkau ada, keindahan sejati” tutup sang kupu-kupu.

Sang bunga hanya terdiam mendengar semua itu, masih tak percaya akan ucapan sang kupu-kupu, tetap tak merasa memiliki hal yang membuat sang kupu-kupu hinggap di kelopaknya.

“Aku hanyalah aku, menjalani takdir yang diberikan kepadaku, tak lebih dari bunga yang lain, tak dapat aku membuat sang permaisuri menunduk malu, aku hanyalah sebutir pasir diantara bintang-bintang.” ucap sang bunga dalam hati, tanpa menyadari semua itulah yang menjadikannya indah, yang selama ini dicari oleh sang kupu-kupu dalam perjalanannya menyebrangi lautan, melintasi pegunungan.

Dua Manusia, Satu Dunia.

IMG_3104

Dua manusia bercakap-cakap tanpa suara di balik selembar kaca yang memisahkan antara aku dan mereka. Entah apa yang mereka perbincangkan, mereka terkadang seperti tertawa, menggerak-gerakkan kedua lengan mereka. Mungkin tentang layangan seperti yang aku dan temanku temukan pagi tadi, yang sore nanti sebelum matahari terbenam akan aku terbangkan di lapangan kosong dekat rel kereta itu.

Sesekali mereka mengangkat sebuah cangkir dan meminum isi di dalamnya, entah apa cairan itu, kulihat berwarna cokelat dan membuat mereka tersenyum. Mungkin seperti minuman yang biasa kuminum saat berkumpul dengan abangku dan teman-temannya di ujung gang sana. Rasanya panas di tenggorokan, kata orang berbahaya, tapi bisa membuatku bahagia.

Dua-tiga kali percakapan itu terhenti, mereka menatap sebuah kotak bercahaya, bergeming melupakan sekeliling. Entah apa yang mereka lihat, mungkin sebuah foto Ibu yang mereka sayangi, seperti yang selalu kulakukan setiap malam menjelang tidur. Melepas rindu kepada Ibuku, yang kata Bapak sedang berada di surga. Entah bagaimana aku ke sana, mengunjungi Ibu, mungkin mereka tahu.

Seorang dari mereka menolehkan kepalanya ke arahku, matanya memandang mataku. Ada sesuatu yang membuatku merasa hangat, entah apa. Dia tersenyum, jangan percaya orang kota, kata Kakek yang tinggal di lapak seberang. Kabarnya dahulu ia seorang tuan tanah, entah kenapa ia tidak tinggal di tanahnya sendiri. Aku berlari, meninggalkan kaca dan dunia di dalamnya, dunia yang apakah sama dengan duniaku? Entah, yang kutahu aku ingin tetap tinggal di lapakku sendiri.

*
Di situ, di balik selembar kaca yang memisahkan antara ruangan nyaman berpendingin tempatku berada dengan dunia yang terik dan pengap di luar sana, berdiri seorang bocah. Rambut berwarna kemerahan hampir menutupi matanya, mata yang meyisakan sedikit kilat dibalik lelah. Kami berpandangan, kulihat diriku dalam dirinya, diriku dari puluhan tahun yang lalu. Tak terasa aku tersenyum, hatiku berkata sapalah ia, dirimu. Belum sempat sebuah katapun terucap, ia telah berlari, pakaian lusuh yang tampak kebesaran berkibar-kibar diterpa angin, kakinya yang telanjang melintasi aspal panas seakan tak lagi memiliki rasa.

Tubuhnya yang mungil semakin menjauh, lalu menghilang dalam titik di ujung sana. Ia seperti masa laluku, yang terkadang kulupakan, seperti menghilang tapi sebenarnya hanya bersembunyi menanti waktu untuk menunjukkan muka. Mungkin sudah saatnya bagiku untuk berhenti berlari, mungkin disinilah aku harus berhenti, memalingkan wajah bukan hanya ke depan, dan mengulurkan tangan.

Ya, akan kucari ia, bocah dari masa lalu yang berambut kemerahan menutupi mata. Mungkin ia ada di lapangan kosong dekat rel kereta, bermain layangan ditemani mentari terbenam. Akan kugenggam tangan mungilnya, menyatukan dunia kami berdua.

Mimpi? Nyata?

“Siang, pak.Boleh aku turut beristirahat disini? Aku baru saja datang dari negeri sana,”tanyaku kepada seorang petani yang sedang beristirahat di gubuk tepian sawah itu.

Hari itu sangat cerah, sama sekali tak membekas hujan deras tadi pagi.Sawah menguning, kontras dengan hijaunya pegunungan yang berjejer gagah bagaikan tembok raksasa yang melindungi surga bumi nan asri ini.Batang padi merunduk, tak kuasa menahan bulir-bulir padi nan ranum.Air mengalir dari sungai di kejauhan sana.Jernih, menyegarkan.Membawa kesuburan tanpa henti.Kemakmuran nan damai menjadi latar belakang percakapan kami siang itu.

Mengusap peluh yang membasahi sekujur tubuhnya, Pak Tani menjawab, “Negeri yang mana nak ? Negeri di mana para penguasa saling berebut kuasa dan gemilang harta?”

Aku hanya diam, menatap matanya yang lelah tapi penuh kilatan semangat dan harapan, menanti lanjutan kalimatnya.

“Negeri di mana mereka berbaku hantam, mengorbankan malu, menggadaikan harga diri, menghancurkan tanah tempat mereka berpijak?”

Sejenak dia menghela nafas, kemudian menghirup kopi hitam yang sedari tadi wanginya merayu hidungku.

“Iya pak,” singkat jawabku.Sedikit panas hati dan telinga ini mendengarnya. Tapi sudahlah, ocehan seorang petani tak ada guna untuk didengar.

“Ahahahaha, sudah kuduga. Tapi nak, sebenar-benarnya aku tak peduli.Biarkanlah mereka membuat neraka di negeri itu, asalkan apinya tidak menjilat surga ini,” lanjutnya lagi tanpa kutanya. ”Selama kami masih bisa mengolah bumi nan subur ini, mengisi penuh lumbung-lumbung, memberikan seuntai perhiasan bagi istri-istri kami, menyematkan kain pada anak-anak gadis kami, dan menyajikan keceriaan bagi putra-putra kami, kami tidak akan peduli dengan sosok dunia yang lain,” ujarnya panjang lebar.

“Surga yang telah diberikan oleh Sang Luhur, inilah dunia kami. Kami rawat, kami jaga, dengan penuh penghormatan dari segenap jiwa raga kami. Setiap tetes keringat yang jatuh di tanah, menjadi pengikat batin kami dengan Sang Luhur, yang tak akan terputus oleh hal apapun.”Ucapan pak Tani itu membuatku tertegun.Jujur saja, aku tak mengharapkan perkataan yang sedemikan berapi-api dan penuh berisi makna dari seorang petani, yang sebelumnya aku anggap remeh; hanya sebuah guratan halus di telapak kehidupan.

Aku tersadar dari kekagumanku saat dia mengulurkan tangannya yang kekar, menghitam oleh sengatan mentari yang aku yakin bagaikan siraman hujan di tanah tandus baginya. Ia menawarkan sebatang rokok kepadaku, yang kutolak dengan gelengan kepala.

Ya Tuhan, baru kali ini aku tak kuasa untuk berkata-kata. Aku datang dari dunia yang ia sebut neraka.Lidahku telah terbiasa bertarung dengan kebenaran, terlatih untuk menebar kebohongan. Tak ada kalimat yang tak bisa kulawan, tak ada perkataan yang tak bisa kuhancurkan. Tapi kali ini mulutku terkunci rapat, lidahku mendadak layu.Sebuah kehidupan, yang tak pernah kujumpai sepanjang hayatku, sekonyong2 terbentang di hadapanku, berdiri tegak dengan gagahnya, tak mampu kulawan, bahkan tak mampu kupandang dengan mata duniawiku. Semua ini terjadi hanya karena ucapan seorang petani, sosok kecil dengan perkataannya yang seluas samudera.

Setelah aku berhasil menguasai diri, aku pun bertanya, “Tapi bagaimana kalau api neraka itu pada akhirnya menjalar kesini? Membumihanguskan surga tempatmu berteduh, mengeringkan sungai tempatmu berbasuh, menggantikan Sang Luhur dengan Sang Bala?”

“Ahahahahahahaha,” dia menjawabnya dengan tawa yang renyah.Membahana mengisi relung-relung jarak diantara batang padi yang tertiup angin, bergoyang seperti sedang turut menertawakanku.

“Hal itu tidak mungkin, anakku,” ujarnya dengan penuh percaya diri. “Sudah ratusan tahun kami hidup di tanah ini.Sejak jiwa pertama kami yang dilahirkan langsung oleh Sang Luhur, hingga lahir jiwa-jiwa baru yang menempati 4 penjuru mata angin di taman surgawi ini. Tak pernah sekalipun kami hancur. SurgaNya terlalu agung untuk disentuh tangan-tangan kotor, terlalu besar untuk dijangkau keserakahan, dan terlalu putih untuk dikotori kebencian. Sang Luhur menjaga tanah ini, karena disinilah Dia mencurahkan segenap kasihnya, merangkul semua yang selalu tersenyum kepadaNya, lantas menebarkan harum kebahagiaan keseluruh penjuru.”

Akupun tersenyum.Sudah mulai kurasakan harum itu, meresap melalui seluruh bagian tubuhku, mengisi kekosongan yang bahkan tidak kusadari keberadaannya.Melihatku tersenyum, Pak Tani menepuk pundakku.”Beristirahatlah kau, nak!Disini, kau tak perlu lagi bertarung karena kami dan semua wujud di sekelilingmu adalah sahabatmu.”

Setelah mengucapkan itu, dia pun beranjak.Kembali ke padang nan hijau menguning, melanjutkan percakapan tanpa kata dengan Sang Luhur.Aku, masih dengan senyumanku, perlahan merebahkan diri, membiarkan sapuan angin membelai wajahku yang tak pernah merasakan kelembutan.Memasrahkan diri dalam alunan gemericik sungai bernada damai yang tak pernah menyentuh telingaku.

“Mas.”

Sebuah kalimat disertai guncangan ditubuh membangunkanku dari tidur.Perlahan kubuka mataku.Samar kulihat sesosok tubuh bercaping sedang berdiri dihadapanku.”Ah, Pak Tani sedang berusaha membangunkanku,” pikirku dalam hati.

Kutegakkan tubuhku.Dan seiring kesadaranku yang mulai pulih, aku pun bertanya, “Sudah sel…..”

Penglihatanku yang mulai turut pulih membuatku tercekat.Yang berdiri di hadapanku ini bukanlah Pak Tani, melainkan sesosok lelaki bercaping dan bertelanjang dada, memperlihatkan tulang2nya yang menonjol. Lengan kekar itu tak ada, digantikan sebuah lengan yang kurus kecil, tak lebih besar dibandingkan pacul yang ia tenteng di pundaknya.

Tersentak, aku melayangkan pandang melewati sosok di depanku ini.Matakupun terpaku pada sebentang tanah kering yang memerah oleh pantulan cahaya senja.Tak ada warna hijau maupun kuning disitu. Di kejauhan sana, tampak seonggok tanah yang membukit, sedang tertelan oleh gelapnya sang malam.Tak ada lagi kegagahan disitu, bahkan tidak sisa-sisanya. Kucari gemericik air, hanya suara kesunyian yang aku dengar.Keterkejutanku melontarkan berbagai pertanyaan dalam hatiku.

“Pak?” tanyaku.

“Di manakah Pak Tani?”

“Di manakah Sang Luhur?”

“Apakah mereka sudah meninggalkan tempat ini?”

“Di manakah aku?”

“Kenapa aku terbangun di tempat seperti ini?”

Sayup-sayup kudengar sosok bercaping tadi menjawab,

“Ayo, nak, hari sudah senja.Lanjutkan istirahatmu di surau kami.Kamu terlalu lelah.Perjalanan dari negeri sana memang melelahkan”

Sejenak aku tertegun, untuk kembali melanjutkan tanya,

“Apakah aku sedang bermimpi?”

“Pak Tani, bangunkan aku!”

-Manakah mimpi ? Manakah nyata ? Tengoklah dari dunia dimana engkau hidup-

*ditulis oleh @ramaraia diedit oleh @wawanwicaksono

Love You Mom.

Garis-garis di wajahnya bagaikan jejak kehidupan, berkelok-kelok, meninggalkan guratan dalam yang bercerita tentang ribuan kisah.

“Hidup harus selalu menjadi orang benar, dan hatimu tau caranya” ujarnya suatu hari.

Deretan gigi mulai tanggal bersembunyi di balik senyumannnya, senyuman yang tak pernah tanggal meski tangis menjadi pilihan.

“Aku bahagia selama kamu bahagia” ucapnya suatu ketika.

Dapat kurasakan keriput di tangannya, tangan yang selalu berusaha memberi, baik di saat tak ada sisa bagi dirinya.

“Memberi itu tidak harus selalu disaat memiliki, karena yang membutuhkan selalu ada” nasehatnya suatu waktu.

Di hadapanku berdiri ia, sesosok wanita, seorang pejuang, yang telah melintasi ratusan gunung dan laut kehidupan bersenjatakan kesabaran, kasih sayang, dan keyakinan atas kebenaran.

Tak ada kata maaf yang cukup untuk masa-masa dimana aku tak ada bagimu.
Tak ada kata cinta yang cukup agung untuk memenuhi hatimu yang begitu besar.

Selamat ulang tahun Mama.
Semoga engkau diberi umur panjang, dan dapat merasakan kebahagiaan yang ingin kuberikan.
Semoga engkau selalu diberkati kesehatan, sehingga kita bisa selalu tersenyum bersama.

Terima kasih atas semua kasih yang telah engkau berikan, yang aku tahu tak akan pernah bisa aku kembalikan dalam jumlah yang sama.
Terima kasih atas semua tuntunan, yang selama ini telah menjadi petunjuk kehidupanku.
Terima kasih telah menjadi seorang Ibu yang luar biasa, bila ada kehidupan lain setelah ini, tak akan ragu aku memilihmu sebagai ibuku,

Selamat ulang tahun Mama.

I Love You.

One Fine Day

“Aku suka sekali kota ini, sejuk, orangnya ramah, dan yang paling penting makanannya enak-enak” ucapnya, tersenyum sambil menatap mataku dengan matanya yang berkilat jenaka.

Seharusnya, seperti yang diajarkan pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam waktu sekolah dulu, otak mengirimkan sinyal, melalui syaraf, menggerakkan otot, menterjemahkan pikiran ke dalam suatu gerakan. Kalau dalam sebuah pembicaraan, otak menerima rangsangan kalimat dari lawan bicara, memprosesnya, kemudian memunculkan jawaban sesuai dengan yang dirasakaan saat itu, berujung pada pita suara dan mulut berkolaborasi mengeluarkan kata-kata dalam bentuk suara yang persis sama dengan perintah si otak. Tapi apa yang terjadi?

“Aku sih suka semua kota, selama di situ ada kamu”

Ini isi otakku.

“Iya aku juga”

Ini yang keluar dari mulutku

Lagi-lagi, pelajaran Ilmu Pasti menjadi tidak pasti setiap aku berhadapan dengannya. Alih-alih mengucapkan kalimat romantis yang diperintahkan otak, mulutku selalu mendadak jadi pemberontak, persis ABG yang broken home.

“Kamu kenapa sih? Daritadi jawabnya pendek-pendek melulu. Nggak suka ya jalan-jalan dadakan gini? Emang sih biasanya kamu rencanain ini itu dulu sebelum ngelakuin segala sesuatu. Tapi sesekali “having adventure” kan asik, be spontaneous, keluar dari pakem, menikmati hal yang tak terduga, tanpa perlu khawatir ada yang gak sesuai dengan rencana”

Balasnya panjang lebar, tidak memperdulikan pandangan penumpang di angkot yang penuh sesak. Seperti itulah dia, berjiwa bebas, lepas, “sakarep dewek” kalau kata orang jawa. Mungkin itulah yang membuatku kagum kepada dirinya, bagai seekor kura-kura melihat burung yang terbang bebas di angkasa sana.

-Bersambung-