Nyanyian Rindu

Pukul tiga, bukan senja, melainkan di penghujung sang malam. Sudah 1 jam kutengadahkan pandang, menghitung bintang di padang semesta. Di hitungan yang entah keberapa, aku ingat sebuah cerita, tentang cinta dan segala likunya.

Cerita ini aku dengar, di tengah rerumputan yang luas terhampar. Di bawah jutaan pendar cahaya di atas kepala, Kakek, begitu kupanggil namanya, memulai sebuah kisah yang bagaikan nyata, begini katanya:

“Dahulu kala, malam selalu gelap gulita, tak ada terang di atas sana. Manusia saling bersatu, tanpa tahu artinya rasa, apalagi cinta. Ribuan tahun mereka bersama dalam sebuah aturan alam yang biasa.”

“Sampailah suatu ketika, seorang raja menjadi rakyat jelata. Dia meninggalkan tahta, mencari sesuatu yang entah apa. Istana dari logam mulia, selimut berbahan sutera, puluhan wanita berparas jelita, tak kunjung juga membuatnya bahagia.”

“Maka untuk melepas dahaga, sang raja turun ke bawah sana, berharap sesuatu yang tak tahu apa. Berjalan ia melintasi hutan, mendayung ia mengarungi lautan. Ketika malam datang menggantikan siang, sampailah ia di sebuah desa. Desa itu gelap gulita, bahkan sebuah pelita pun tak ada. Bertanya ia dalam hatinya, apakah ada kehidupan di dalam sana?”

“Perlahan langkahnya menjejaki jalan, setapak demi setapak, hingga tiba di sebuah petak. Berhentilah ia sejenak, berharap ada yang bergerak. Tapi hanya sunyi yang menemani, menyatu dengan bisu yang membuat ragu.”

“Sang rajapun menutup mata, memikirkan langkah apa yang selanjutnya. Perhitungan menjadi lamunan, ketika sebuah nyanyian membuyarkan angan.”

“Ia tetap memejamkan mata, memastikan sang suara adalah nyata. Ketika ia memastikan itu ada, perlahan ia membuka mata. Tampak sebuah cahaya di kejauhan sana, menyingkap ruang yang terasa hampa.”

“Berjalan ia menuju cahaya, berharap jawaban akan sebuah pertanyaan. Seratusan langkah, sampailah ia di hadapan seorang gadis nan rupawan. Berpendar cahaya dari wajahnya, menimbulkan getar dalam tubuh sang raja. Sang gadis tetap bersila, dan bernyanyi seakan tak tahu apa.”

“Wahai gadis jelita, siapakah engkau yang lebih indah dari sebuah mahkota?” Tanya sang raja”

“Aku peri cahaya, dari kerajaan di atas sana. Dan siapakah engkau wahai pemuda gagah perkasa?”

“Aku seorang rakyat jelata, dari kerajaan di seberang sana. Peri cahaya, kalau boleh aku bertanya, nyanyian tentang apa yang kau senandungkan?”

“Inilah lagu tentang rindu, bercerita tentang cinta”

“Rindu? Cinta? Apakah itu?” Tanya sang raja

“Dahulu kerajaanku penuh dengan cahaya, tetapi sekarang gelap gulita. Cinta yang dahulu selalu ada, sekarang menjadi tiada.”

“Tapi peri cahaya, apakah arti cinta? Aku sungguh tak mengerti”

“Cinta adalah sebuah rasa, yang membuatmu bahagia tak terhingga. Tetapi cinta menimbulkan rindu, bila dua cinta tak sedang bersatu. Rindu itu yang membuat rajaku pilu, saat sang permaisuri dipanggil sang dewi, dan tak pernah kembali.”

“Sang raja menjadi terluka, dihantam pilu yang terus memalu. Setiap ia melihat cinta, dirinya semakin tak berdaya, cahaya pun mulai menghilang dari dirinya. Sehingga suatu ketika, cinta dilarang ada di seluruh penjuru dunia, dengan harap sang raja kembali tertawa, dan cahaya kembali ada”

“Tapi apa daya, cahaya ada karena cinta, cinta ada karena cahaya, bila salah satu tiada, hanyalah gelap gulita yang menjadi nyata. Kini tinggallah aku yang memiliki sedikit cahaya, karna ku lari dari kerajaanku sendiri.”

“Cahaya ini pun sebentar lagi mati, karena cinta tak bisa sendiri. Maka kukidungkan sebuah nyanyi rindu, akan dua cinta yang bersatu”

“Cerita yang luar biasa peri cahaya, tapi aku tetap tak mengerti.” Sahut sang raja.

“Kau memang tak akan mengerti, bila rasa itu tak pernah hadir di hati. Bawalah batu ini ke kerajaanmu, berikanlah kepada ia yang sedang merindu. Hanya inilah jalan satu-satunya, agar kerajaanku kembali bercahaya. Ke seluruh penjuru dunia aku telah mencari, cinta diantara manusia. Tapi sampai cahaya ini menjelang mati, tak kudapat apa yang kucari”

“Seperti apa manusia yang memiliki cinta? Apa yang akan terjadi pada batu ini bila ditangan yang sedang merindu?”

“Kau akan tahu, bila takdir menginginkan cinta hadir. Bawalah, sudah saatnya aku pergi, kembali ke asalku yang sedang membeku”

“Apakah kita akan bertemu lagi?”

“Mungkin bila saatnya nanti”

“Sebuah cahaya sangat terang menyilaukan mata sang raja. Perlahan ia membuka mata, mendapatkan dirinya terduduk di dinding sebuah gubuk. Matahari telah bangkit dari peraduannya, apakah mimpi atau nyata? Sebuah batu di dalam saku, menjadi jawab atas semua ragu”

“Sang raja pun memutuskan kembali ke kerajaan. Ia kerahkan semua kekuatan, mencari cinta di seorang manusia”

“Seluruh penjuru kerajaan memberikan berita kegagalan, bahwa cinta yang dicari tak memiliki tuan. Setiap malam tanpa keberhasilan, sang raja memandang langit dalam kegelapan. Ia berharap dalam gelap, ada sekejap cahaya sang peri”

“Hari berganti hari, bulan berganti bulan, sang raja selalu memimpikan nyanyian, tentang rindu dan cinta. Setiap ia melihat ke atas langit malam, hanya gelap yang semakin pekat yang ia dapat, akan tetapi setiap ia memejamkan mata, tampak di hadapannya sang peri cahaya. Ia sungguh tak mengerti apa yang sedang terjadi.”

“Hingga tibalah malam itu, sang raja teringat akan batu. Ia genggam, dalam diam ia membiarkan matanya terpejam. Perlahan ia senandungkan nyanyian tentang cinta dan kerinduan, yang pernah ia dengarkan di malam yang tak terlupakan.”

“Batu di telapak tangan mulai menyala dalam kegelapan, untuk kemudian melesatkan cahaya ke langit sana. Malam itu sang raja melantunkan seratus nyanyian, mengirimkan seratus cahaya ke kerajaan sana.”

“Seratus menjadi seribu, seribu menjadi jutaan, setiap malam sang raja tak henti bernyanyi, tentang cinta yang timbul di hati, tentang kerinduan yang tak tertahan.”

“Malam tak lagi kelam, jutaan cahaya berpendar di kejauhan. Seluruh kerajaan dihiasi senyuman, atas keindahan yang terlupakan.”

“Cinta kembali ada, diantara manusia dan kerajaan cahaya. Nyanyian cinta dan rindu tak lagi hanya dinyanyikan sang raja, seluruh dunia turut bernyanyi, turut berbahagia bersama sang raja, yang akhirnya melepas dahaga akan sebuah rasa”

“Hingga saat ini, nyanyian itu terus berkumandang, dihantarkan angin, melewati padang ilalang, menyebrangi lautan hingga daratan.”

“Ingatlah setiap kau menengadah ke langit sana, keindahan yang ada adalah karena cinta dan rindu, tak terhitung jumlahnya, akan selalu ada selama kau tak takut akan pilu”

Cinta ada karena cahaya, cahaya ada karena cinta. Ku akan merindukanmu wahai peri cahaya, selalu. Sampai ketemu esok malam, bintangku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s