Lembaran Kosong

Lembaran kosong, teronggok hampa dihadapanku. Pena di sela-sela ibu jari dan telunjuk tanganku siap menghiasi kehampaan itu dengan guratan-guratannya. Tapi sepertinya ada sesuatu yang terputus antara otak dan syaraf penggerak tubuhku.

Terlampau banyak cerita, membebani jaringan halus yang menjembatani jiwa, nyawa, dan tubuh fana ini, sepertinya sudah tak sanggup untuk menahan.

Harus kukurangi berat ini, tapi yang mana? Sedih? Bahagia? Benderang? Pekat? Tangis? Tawa? Mereka bilang, “Senanglah, karena itu penggagas hidup”. Tapi, tahukah kalian tanpa kehadiran sang nestapa?

Ah hidup, beribu tanya, sepenggal jawab. Mempertanyakannya hanyalah menambah seribu lagi. Untuk apa? Ya, untuk apa? Seribu lagi.

Lembaran kosong, tetap tanpa jejak sang tinta. Kubiarkan sajalah, pada saatnya jaringan itu akan menguat, tanpa perlu memilih satu atau dua untuk dimusnahkan. Tak juga perlu untuk bertanya, sang waktu akan tiba, seperti penjuru hidup yang terus menambah makna. Seribu, tak ada jika aku menerima.

Advertisements

2 comments

  1. Margaretha W · July 30, 2014

    Niceee..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s