Arti sebuah keluarga.

Di sini, di tengah sebuah taman kota nan sunyi, yang sejenak melupakan hiruk pikuk kehidupan sebuah kota besar, ditemani nyanyian burung saling bersahutan, gue menikmati hari kemenangan yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.

Kesunyian, kali ini terasa asing buat gue setelah 4 tahun terakhir gue merayakan hari lebaran bersama berbagai macam keluarga. Untuk pertama kalinya dalam 4 tahun gue memutuskan untuk berlebaran di Bandung, bersama Ibu yang tidak merayakan.

It was such a mixed feeling. Bahagia bisa meminta maaf kepada Ibu secara langsung sesaat setelah menunaikan ibadah shalat ied, tapi di saat bersamaan ada sesuatu yang terasa hilang. Tak ada canda tawa, tak ada senda gurau, tak ada denting suara sendok mengenai dasar piring berisi ketupat dan kawanannya. Kemana semua itu hilang?

Masih dalam keheningan di hari kemenangan ini, gue teringat barisan motor yang berjejer memenuhi jalan raya, dengan tumpukan tas di bagian depan, dan anak kecil di tengah2 ibu yang sedang memeluk erat sang ayah yang mengendalikan kendaraan, membawa mereka ke kampung halaman. Saat itu gue bertanya dalam hati, apa sih yang mereka cari? apa yang mereka perjuangkan? Mempertaruhkan nyawa, bersahabat dengan debu jalanan, bermandikan keringat dan terik matahari. Untuk apa?

Sesuatu yang hilang dalam diri gue memberi jawaban dari semua pertanyaan di atas. Keluarga, ya, keluarga pasti mempunyai arti penting bagi mereka, karena itu mereka rela mengorbankan apapun demi untuk bersamanya. Pepatah bijak dari para tetua, senyum manis dari para anak kecil, lontaran candaan dari sepupu, dan kemeriahan lain yang mungkin hanya 1 kali dalam setahun dapat mereka nikmati. Mereka merindukan yang gue rindukan.

Bagi kalian yang sedang merayakan lebaran bersama keluarga, nikmati semua sampai ke tetes opor terakhir, sampai ke kata maaf terakhir, sampai ke salam dan peluk yang hangat dan membekas. Nikmati semua berkah itu, karena kemenangan memang paling tepat dirayakan bersama mereka yang tersenyum bersama kalian, yang merasakan rindu seperti yang kalian rasakan.

Dan buat gue, tidak ada sesal atas pilihan untuk merasakan lebaran yang berbeda. Karena kesunyian membawa rindu akan keramaian, memberi arti lebih terhadap arti sebuah keluarga.

Happy Ied Mubarak 1435 H, mohon maaf lahir batin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s