Kopi dan Engkau

“Kenapa sih kamu suka kopi?”, tanyanya di suatu pagi dimana mentari baru saja terjaga, menghangatkan bumi yang baru saja disiram hujan semalaman. Pagi dimana aku dan dia akhirnya bisa bertemu setelah sekian banyak janji yang terlanggar oleh kesibukan masing-masing.

Tak langsung menjawab, kusesap aroma kopi yang pekat memabukkan. Kupandang sejenak hasil seni sang barista di permukaan cangkir kopi hangatku sebelum kutatap matanya, mata yang selalu berhasil membawaku ke dimensi lain.

“Kopi itu seperti kehidupan”, dalam keadaan diantara dua dunia aku berhasil merubah getaran di pita suraku.

“Pahitnya mengingatkanku akan cobaan dan rintangan, menyesakkan tapi membuatku terjaga, menyadarkanku akan sebuah realita.”

Aku terdiam sejenak, menyaksikan dia mengangguk-anggukkan kepalanya, tampak sekali keinginannya untuk mengerti.

“Seperti halnya realita, kopi tidak melulu mengenai rasa pahit, tetapi ia juga memiliki manis, tidak dominan, tapi melengkapi”, kulanjutkan permainan filosofiku, senang melihatnya tampak kebingungan. Karena hanya di saat seperti inilah aku merasa bisa membawanya ke dimensiku.

“Terus apalagi?” Tanyanya tidak sabar menungguku menghirup isi cangkir.

“Seperti juga sebuah cerita kehidupan, kopi memiliki karakternya masing-masing, ceritanya sendiri-sendiri. Ada yang asam, ada yang memiliki rasa buah-buahan, ada yang kuat, ada yang lembut.”

“Secangkir kopi melalui berbagai proses, mulai dari pemetikkan, pembakaran, penggilingan, berbagai tempaan yang merubahnya dari hanya sebuah biji menjadi sebuah kenikmatan. Seperti halnya setiap manusia, melalui berbagai macam hal yang menjadikannya lebih berarti.”

“Kamu tuh selalu bikin aku bingung dengan segala bahasamu yang njelimet.”

“Coba kasih penjelasan yang lebih sederhana, yang aku bisa ngerti.” ucapnya lagi sambil menatapku dalam-dalam.

Kunikmati pandangan itu sejenak sebelum kuambil nafas panjang dan berkata

“Kopi itu kamu.”

“Hah? Maksudnya?” Tanyanya tanpa bisa menyembunyikan keheranannya.

“Ceritaku tentangmu adalah tentang kopi. Kekagumanmu yang diam-diam seperti saat aku menyendiri di pojok coffe house ini, menikmati secangkir kopi dalam diam dan sunyi.”

Tak menghiraukan matanya yang melebar kulanjutkan kalimat yang sudah sedari lama tersimpan di sudut khayalku.

“Seperti halnya kopi, kamu sederhana sekaligus kompleks, perpaduan yang addictive. Menyelami rasa kopi seperti menyelami dirimu, sebuah samudera tak berujung yang menyimpan sejuta cerita, membuat sebuah kata bosan tak lagi memiliki arti.”

Melihatnya hanya terdiam, kuakhiri penjelasanku,

“Kopi selalu meninggalkan rasa pahit di akhir setiap teguk, rasa yang sama ketika melihatmu memilihnya, bersanding dengannya yang beruntung kau pilih sebagai tokoh utama dalam buku kehidupanmu. Pahit yang menusuk tapi menyempurnakan sebuah rasa.”

Mata indah itu tampak basah, bagai embun pagi yang membasahi hijau di luar sana.

“Kenapa kamu baru bilang ini sekarang?”, tanyanya lirih.

“Tidak semua orang bisa langsung menyadari kenikmatan secangkir kopi, seperti halnya diriku”

“Jadi itu semua yang bikin kamu mencintai kopi?”, tanyanya lagi dalam getar.

“Ya, kopi adalah pengganti tokoh utama dalam ceritaku. Kopi adalah pengganti dirimu”

Keheningan melingkupi ruang mungil itu, meninggalkan suara burung bercengkrama sayup di kejauhan.

Dalam diam diapun beranjak pergi, lupa untuk sekedar mengucap sepatah kata.

Memang hanya kopi dan sunyi yang menjadi teman sempurnaku saat ini, sampai saatnya kutemukan cerita lain salam secangkir kopi yang berbeda. Kopi yang menyimpan misteri rasa tentang kehidupan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s