Orchestriansis Coffeenitixs Humannensil – Sebuah Kolaborasi Abstrak

Bitter Sweet Symphony, sebuah judul lagu yang paling tepat menggambarkan Kopi buat gue, Cappuccino to be exact.

I can tell I’m a coffee lover. Gue sangat menikmati saat-saat cairan berwarna cokelat itu menyentuh ujung lidah, diawali rasa pahit yang menusuk, diakhiri manis yang lembut seperti sebuah orkestra yang menghentak di awal pertunjukan dan diakhiri oleh irama teratur yang menghanyutkan jiwa para penikmatnya tepat sebelum gedung pertunjukkan dihujani standing ovation.

Tapi seperti halnya sebuah pertunjukkan musik, tidak semua kopi layak mendapatkan standing ovation. Membutuhkan sebuah perpaduan rasa yang tepat untuk menghasilkan sebuah rangkaian sensasi yang membuat lidah ini menari mengikuti setiap ketukannya.

Seperti juga halnya penikmat musik, penikmat kopi juga memiliki perbedaan selera. Ada yang menyukai perpaduan rasa masam dan ringan, ada yang seperti gue, rasa pahit yang dominan menghentak kuat dan masam yang hanya menjadi sebuah bagian kecil tapi menjadi penyempurna seperti halnya karya-karya Hans Zimmer dalam film Transformer.

Selera gue menjadikan sebuah coffee shop mungil di kota Bandung bernama Yellow Truck berada dalam urutan pertama dalam list pertunjukkan yang wajib gue hadiri setiap gue menginjakkan kaki di Parisnya Jawa.

Mereka yang duduk bersama saling bersenda gurau menghadirkan suara-suara pengisi layaknya choir yang bersahutan, lalu ada mereka yang tengah berdua bagai berduet, dan ada yang tengah duduk sendiri seperti pemeran utama yang memegang kunci jalannya cerita. Dan kopi-kopi yang disesap adalah musik penuntun alur cerita. Tak pernah membosankan.

Sore itu, secangkir cappuccino – seperti biasanya – menemani gue bersama sebuah buku yang sedari tadi pelan-pelan berpindah halaman. Gue seruput si cappuccino sambil mengedarkan pandangan berkeliling. Lumayan banyak cerita yang gue liat dari pojokan sempit ini. Dinamika yang kembali memancing konduktor otak gue menghetakkan ketukan memulai orkestranya. what a life, and what a world.

Dunia, adalah sebuah orchestra yang maha besar, terdiri dari kumpulan nada kehidupan yang melebihi 8 tangga nada dasar, terdiri dari harmoni yang terbentuk oleh ribuan melody. Dan saat itu di hadapan gue, dibalik halaman buku yang mulai terlantarkan , gue memperhatikan beberapa pasang nada yang ditautkan oleh garis fana bernama kopi.

Seperti halnya sebuah nada do re mi yang terdefinisikan berbeda oleh ketukan-ketukan yang tak seragam, berpagutan penuh kemesraaan dalam sebuah derak napas penuh emosi dari pertunjukan music di brodaway sana, begitu pula jiwa-jiwa bernada manusia dengan ketukan rasa dan citra masing-masing menjadikan garis fana itu mengikat dengan berbagai bentuknya. Sebuah pahit bagi sebuah nada, memiliki arti tajam bagi nada yang lain, sebuah asam di penghujung pertunjukan, menjadi awalan bagi penikmat lainnya. Kepekatan menjadi penuh arti bagi dia yang bernada rendah dan gelap, tapi menjadi suatu ketukan yang menekan bagi mereka yang selalu bernada riang. What a music we have there. Music of world, world of coffee, and human.

Gue ambil contoh. Sekumpulan orang yang ada persis diseberang meja gue saat itu. Anggap mereka adalah para sahabat yang tengah mencoba mengulang apa yang pernah mereka punya dalam kemasan nostalgia. Mereka datang dengan berbagai rupa dan latar hidup berbeda. Kalau dalam rentetenan nada dalam partitur sang konduktor, merekalah pecahan suara dari berbagai instrument yang kemudian harus melantun bersama melengkapi melodi. Mereka wajib ber-harmoni agar semua tampak indah. Fana? Mungkin saja. Masalah rasa? Itu urusan mereka masing-masing. Tapi terkadang gue berpikir, apakah mereka para instrument yang kemudian harus mengeluarkan nada, saling jujur satu sama lain? Atau karna memang suatu keharusan berharmoni agak terdengar indah? Satu terlepas, maka terdengar sumbang. Persis dengan dunia yang saat ini tengah menopang gue bernafas. Harus ada susunan keteraturan agar sesuatu bisa berjalan selayaknya. Itu keharusan. Kembali pada para sahabat yang saling bergantian menyesap kopi di depan gue. Interpretasi pribadi tentang cita rasa pasti berbeda. Apa yang ada di benak masing-masing pasti berbeda. Tapi apa yang gue lihat, hangat. Mereka mengatur peran mereka membagi nada dengan tawa. Pahit, asam, ataupun manis berpadu untuk sebuah cita rasa. Seperti hidup, seperti manusia untuk sesama.

Blaaarrr!!! Khayalan gue terbubarkan oleh cairan panas kehitaman yang jatuh mengenai paha gue, lagi-lagi, kopi berhasil mengembalikan gue ke dunia nyata.

 

*kolaborasi super ngaco bersama Sangga_Ugals

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s