Mendadak Nulis II – Absurd Life

Jumpa kembali bersama gue di mendadak nulis….halah…

Kalau yang pertama tiba-tiba aja mendadak pengen nulis, kalau sekarang kayaknya karena keracunan angkringan. Dan namanya juga keracunan, pasti hasil tulisannya yaaaaa gitu…

So here I am, di sebuah kantor yang mungil, yang dulunya merupakan sebuah rumah bagi seorang mobil (eits jgn protes, namanya jg keracunan). Di depan gue, teman sejawat (bukan secawat loh ya) lagi menggenggam sebatang telpon yang ia tempelkan di kuping kirinya. Gue bertanya2, sedang main game apakah dia? Tapi mendengar suara lembut yang dia ucapkan, sepertinya di lagi ngaji. Hmmm, berhubung gue ngerti apa yang dia omongin, kayaknya bukan ngaji juga sih (ngaku gue gak ngerti bahasa arab). So, kemungkinan terakhir dia lagi nelpon, nelpon siapa? dari tingkat kelembutan suaranya, kemungkinan besar dia lagi nelpon sales bedak bayi. Aslik gak nyambung banget kan? Ya namanya juga keracunan (tulisan yang mengulang-ngulang tentang sesuatu hal apalagi dalam 1 paragraf itu membosankan loh)

Oke biar gak…duh temen gue baru aja udahan telpnya eh nelpon lagi, masih tetep lembut, berarti masih sama sales yang sama…ngebosenin kita bicara topik lain. Lah itu tadi kenapa balik lagi? Yah namanya juga……kedistraksi (belajar untuk tidak mengulang topik keracunan) (lah itu ngulang lagi?))

Merem, narik nafas, itung 1 s/d 10…1…2…3…4…dst…10.. okeh dah focus lagi, mari kita lanjutkan racauannya.

Oke biar gak bosen, kita bicara topik lain. Jadi tadi kan di depan gue temen sejawat gue lagi nelpon, nah di belakang gue AC nyemprot dengan semangatnya, dingin beut, kadang bahkan sering bikin masuk angin (ati2 banget nih biar gak nyeritain itu2 lagi, meski jadinya bahasan super gak penting, Emang ada yg penting di tulisan ini? Ada!! nih di bawah…)

Mungkin ada di antara kalian yang bertanya, ngangkring di mana kok bisa keracunan? Gak ada? Abis baca kalimat pertama di paragraf ini pasti kalian nanya, wong baca kalimat pertanyaan, jadi pasti ada yang nanya *textception. Back to topic, kayak ada aja topiknya dari tadi, saat gue ngangkring tadi tiba-tiba waktu gue seakan “berhenti”, gue seakan-akan terdiam dalam sebuah ruangan hampa, kisah-kisah manusia berkelebatan di sekeliling gue (kisah2 temen gue di path sih sebenernya, biar lebay aja dibikin kisah-kisah manusia). Ada yang lagi menyongsong kehidupan baru, ada yang lagi berkaca-kaca membaca sebuah beca *maksa biar rhyming*, ada yang lagi ketawa2 krn postingan lucu, macem-macem. Saat itu, dengan bala-bala berbumbu kacang, di lengan kiri, ikut terdiam, gue merasa tertinggal. Gue merasa kisah kehidupan mereka bergerak begitu cepat, berkelebatan meninggalkan gue, yang bahkan bala2 aja masih terdiam sedari tadi. Lalu gue mikir, itu baru beberapa gelintir manusia yg ada di path, sedangkan di dunia ini ada milyaran kisah kehidupan yang terus bergerak setiap detiknya, ada yang bersenggolan, ada yang bersisian, ada juga yang terpisah jarak dan waktu, membentuk sebuah pintalan raksasa, pintalan kehidupan, yang terus membesar dan membesar tanpa ada kata berhenti, tanpa ada kata tak cukup lagi. Nah, karena kebayang pintalan super raksasa itu, gue jadi mikir gue sebesar apa di pintalan itu? Mungkin hanya sebesar biji jagung, atau bahkan lebih kecil lagi. Apakah bila gue gak ada, akan mempengaruhi bentuk dari pintalan itu? Kemungkinan besar sih nggak. Dunia akan terus berputar-dan berputar, dengan atau tanpa adanya gue di sana.

So apa artinya keberadaan gue? Gue mikirrr….mikirrrr….gak nemu jawabannya apa, gue malah kepikiran hal yang lain. Kalau semua mikir kayak gue, kalau semua manusia yang bagaikan biji jagung itu berpikir hal yang sama kayak gue, mempertanyakan eksistensi, maka mereka gak akan punya alasan lagi untuk terus bercerita, membuat kisah-kisah baru dalam kehidupan, berkejaran dengan kisah-kisah sahabatnya, keluarganya, kenalannya, teman penanya (macam di majalah bobo), dan milyaran biji jagung lainnya. Saat alasan tak ada, dunia akan berhenti memintal, dunia akan berhenti, dunia akan diam, untuk kemudian mati. 

Akibat pemikiran itu, gue sampai pada kesimpulan. Gue hidup untuk menjalani kisah, bersama dengan kisah-kisah biji jagung lainnya membentuk sebuah kisah raksasa dalam pintalan hidup, gue hidup untuk menjaga dunia tetap hidup. So, wahai kamu para biji jagung, teruslah bergerak, teruslah menorehkan rangkaian kata dalam lembaran hidupmu, karena itulah alasanmu ada, bersama-sama menjaga kehidupan. 

Dengan senyum simpul seperti cowok sampul (karena gue bukan gadis), waktu gue yang tadinya diam mulai berjalan dalam sebuah ketukan nada nan harmoni (gue gak ngerti ini artinya apa, tapi kayak keren aja gitu buat ditulis), dan sang bala2 pun bergerak memasuki rongga mulut, untuk kemudian hilang mengakhiri kisah kehidupannya yang begitu singkat. 

Aslik absurd banget ya tulisan gue kali ini? Yah namanya juga keracunan…..

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s