How I Met My Wife – The One with a High School Love

Cerita ini sambungan dari tulisan How I Met My Wife sebelumnya (ada di bawah, scroll2 aja), tapi gue tulis terpisah karena cerita ini special, karena cerita ini tentang jatuh cinta, tsaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhh…….

===

Here We go….

Hari itu hari yang indah, hari pertama di tahun ajaran baru, bunga-bunga baru bermunculan dari balik gerbang sekolah, rok bahan berwarna abu-abu yang masih licin karena bagai baru keluar dari tukang jahit, senyuman bergigi putih dari wajah-wajah semu kemerahan, dan yang paling penting, kecantikan baru. Semuanya bersatu padu dengan sempurna, memberi perasaan bahagia bagi para senior.

Yak, sebagai senior, sebagai kakak tertua, wajar kiranya gue menikmati segala kebaruan itu. Saat dimana gue bisa ngeceng, tanpa perlu takut kecengan gue dikeceng kakak kelas, saat dimana gue bisa jalan sambil ngangkat sedikit dagu di hadapan para junior yang memandang dengan pandangan kagum sedikit takut itu. Walau meski semuanya mungkin cuma ada dalam dunia khayalan gue, but at that time, itulah dunia nyata buat gue hahahaha.

Setelah masa-masa kelas 2 gue dihabiskan dalam masa kesendirian, alias kejombloan, dimana kegiatan gue sehari-harinya hanyalah pergi sekolah, main basket, main basket, main basket, tidur, dan main basket. Di penghujung kelas ini gue memutuskan untuk melupakan basket, supaya tangan gue bisa memegang hal lain selain bola basket, tangan pujaan hati contohnya. “Oke”, gue ngomong dalam hati, “gue mulai screening ah, at least cari 5 kandidat dulu, habis itu seleksi, biar gak salah milih “

Mata gue pun melihat jauh ke kelas seberang, mau memulai proses screening, ketika….

Dunia seakan berhenti, suara-suara perlahan menjadi semakin terdengar pelan…

Damn, rencana screening gue digagalkan oleh sesosok cewek berlesung pipit, berambut pendek, bersepatu hitam, berkaos kaki putih. Cute abis, dan gue pun akhirnya menghabiskan 5 menit sisa waktu istirahat ngeliatin dia makan jajanan dari balik jeruji kawat yang memisahkan antara gue, lapangan basket, dan dia.

Kriiiinggg!!! bel tanda waktu istirahat berakhir berteriak-teriak di seluruh penjuru sekolah, menyadarkan gue, bahwa gue lupa jajan, dan lapar, dan habis itu ulangan matematik. Argghhh, tapi gak ada alasan buat menyesal, karena saat itu hanya ada alasan untuk bersyukur, yaitu ngeliat dia yang ngegepin gue yang lagi ngeliatin dia, trus ngasih senyum sebelum dia masuk kelas. Dan gue pun dengan suksesnya melupakan rumus-rumus matematik yang gue hapalin tadi pagi dengan senyum berlesung pipitnya, walhasil jangan ditanya nilai ulangan gue.

Setelah hari itu, dimulailah ritual liat-liatan pas jam istirahat. Gue diujung lapangan basket, dia di ujung satunya lagi, apapun kegiatannya, gue ama dia selalu meluangkan waktu buat colongan saling ngeliat, terus dia senyum, terus lesung pipitnya keliatan, terus gue deg2an. Begitu terus selama beberapa hari. Gak usah nanya kenapa gak gue samperin, gue gak berani. kenapa gak berani? Soalnya gue gak pernah ngerasain perasaan gue saat itu sebelumnya. Jadi gue mesti gimana dgn perasaan itu, totally no clue.

Seperti apa kelanjutan ceritanya? Apa yang akhirnya gue lakukan? Stay tune ya, pada saatnya gue akan lanjutin ceritanya.

Advertisements

Orchestriansis Coffeenitixs Humannensil – Sebuah Kolaborasi Abstrak

Bitter Sweet Symphony, sebuah judul lagu yang paling tepat menggambarkan Kopi buat gue, Cappuccino to be exact.

I can tell I’m a coffee lover. Gue sangat menikmati saat-saat cairan berwarna cokelat itu menyentuh ujung lidah, diawali rasa pahit yang menusuk, diakhiri manis yang lembut seperti sebuah orkestra yang menghentak di awal pertunjukan dan diakhiri oleh irama teratur yang menghanyutkan jiwa para penikmatnya tepat sebelum gedung pertunjukkan dihujani standing ovation.

Tapi seperti halnya sebuah pertunjukkan musik, tidak semua kopi layak mendapatkan standing ovation. Membutuhkan sebuah perpaduan rasa yang tepat untuk menghasilkan sebuah rangkaian sensasi yang membuat lidah ini menari mengikuti setiap ketukannya.

Seperti juga halnya penikmat musik, penikmat kopi juga memiliki perbedaan selera. Ada yang menyukai perpaduan rasa masam dan ringan, ada yang seperti gue, rasa pahit yang dominan menghentak kuat dan masam yang hanya menjadi sebuah bagian kecil tapi menjadi penyempurna seperti halnya karya-karya Hans Zimmer dalam film Transformer.

Selera gue menjadikan sebuah coffee shop mungil di kota Bandung bernama Yellow Truck berada dalam urutan pertama dalam list pertunjukkan yang wajib gue hadiri setiap gue menginjakkan kaki di Parisnya Jawa.

Mereka yang duduk bersama saling bersenda gurau menghadirkan suara-suara pengisi layaknya choir yang bersahutan, lalu ada mereka yang tengah berdua bagai berduet, dan ada yang tengah duduk sendiri seperti pemeran utama yang memegang kunci jalannya cerita. Dan kopi-kopi yang disesap adalah musik penuntun alur cerita. Tak pernah membosankan.

Sore itu, secangkir cappuccino – seperti biasanya – menemani gue bersama sebuah buku yang sedari tadi pelan-pelan berpindah halaman. Gue seruput si cappuccino sambil mengedarkan pandangan berkeliling. Lumayan banyak cerita yang gue liat dari pojokan sempit ini. Dinamika yang kembali memancing konduktor otak gue menghetakkan ketukan memulai orkestranya. what a life, and what a world.

Dunia, adalah sebuah orchestra yang maha besar, terdiri dari kumpulan nada kehidupan yang melebihi 8 tangga nada dasar, terdiri dari harmoni yang terbentuk oleh ribuan melody. Dan saat itu di hadapan gue, dibalik halaman buku yang mulai terlantarkan , gue memperhatikan beberapa pasang nada yang ditautkan oleh garis fana bernama kopi.

Seperti halnya sebuah nada do re mi yang terdefinisikan berbeda oleh ketukan-ketukan yang tak seragam, berpagutan penuh kemesraaan dalam sebuah derak napas penuh emosi dari pertunjukan music di brodaway sana, begitu pula jiwa-jiwa bernada manusia dengan ketukan rasa dan citra masing-masing menjadikan garis fana itu mengikat dengan berbagai bentuknya. Sebuah pahit bagi sebuah nada, memiliki arti tajam bagi nada yang lain, sebuah asam di penghujung pertunjukan, menjadi awalan bagi penikmat lainnya. Kepekatan menjadi penuh arti bagi dia yang bernada rendah dan gelap, tapi menjadi suatu ketukan yang menekan bagi mereka yang selalu bernada riang. What a music we have there. Music of world, world of coffee, and human.

Gue ambil contoh. Sekumpulan orang yang ada persis diseberang meja gue saat itu. Anggap mereka adalah para sahabat yang tengah mencoba mengulang apa yang pernah mereka punya dalam kemasan nostalgia. Mereka datang dengan berbagai rupa dan latar hidup berbeda. Kalau dalam rentetenan nada dalam partitur sang konduktor, merekalah pecahan suara dari berbagai instrument yang kemudian harus melantun bersama melengkapi melodi. Mereka wajib ber-harmoni agar semua tampak indah. Fana? Mungkin saja. Masalah rasa? Itu urusan mereka masing-masing. Tapi terkadang gue berpikir, apakah mereka para instrument yang kemudian harus mengeluarkan nada, saling jujur satu sama lain? Atau karna memang suatu keharusan berharmoni agak terdengar indah? Satu terlepas, maka terdengar sumbang. Persis dengan dunia yang saat ini tengah menopang gue bernafas. Harus ada susunan keteraturan agar sesuatu bisa berjalan selayaknya. Itu keharusan. Kembali pada para sahabat yang saling bergantian menyesap kopi di depan gue. Interpretasi pribadi tentang cita rasa pasti berbeda. Apa yang ada di benak masing-masing pasti berbeda. Tapi apa yang gue lihat, hangat. Mereka mengatur peran mereka membagi nada dengan tawa. Pahit, asam, ataupun manis berpadu untuk sebuah cita rasa. Seperti hidup, seperti manusia untuk sesama.

Blaaarrr!!! Khayalan gue terbubarkan oleh cairan panas kehitaman yang jatuh mengenai paha gue, lagi-lagi, kopi berhasil mengembalikan gue ke dunia nyata.

 

*kolaborasi super ngaco bersama Sangga_Ugals

 

Mendadak Nulis II – Absurd Life

Jumpa kembali bersama gue di mendadak nulis….halah…

Kalau yang pertama tiba-tiba aja mendadak pengen nulis, kalau sekarang kayaknya karena keracunan angkringan. Dan namanya juga keracunan, pasti hasil tulisannya yaaaaa gitu…

So here I am, di sebuah kantor yang mungil, yang dulunya merupakan sebuah rumah bagi seorang mobil (eits jgn protes, namanya jg keracunan). Di depan gue, teman sejawat (bukan secawat loh ya) lagi menggenggam sebatang telpon yang ia tempelkan di kuping kirinya. Gue bertanya2, sedang main game apakah dia? Tapi mendengar suara lembut yang dia ucapkan, sepertinya di lagi ngaji. Hmmm, berhubung gue ngerti apa yang dia omongin, kayaknya bukan ngaji juga sih (ngaku gue gak ngerti bahasa arab). So, kemungkinan terakhir dia lagi nelpon, nelpon siapa? dari tingkat kelembutan suaranya, kemungkinan besar dia lagi nelpon sales bedak bayi. Aslik gak nyambung banget kan? Ya namanya juga keracunan (tulisan yang mengulang-ngulang tentang sesuatu hal apalagi dalam 1 paragraf itu membosankan loh)

Oke biar gak…duh temen gue baru aja udahan telpnya eh nelpon lagi, masih tetep lembut, berarti masih sama sales yang sama…ngebosenin kita bicara topik lain. Lah itu tadi kenapa balik lagi? Yah namanya juga……kedistraksi (belajar untuk tidak mengulang topik keracunan) (lah itu ngulang lagi?))

Merem, narik nafas, itung 1 s/d 10…1…2…3…4…dst…10.. okeh dah focus lagi, mari kita lanjutkan racauannya.

Oke biar gak bosen, kita bicara topik lain. Jadi tadi kan di depan gue temen sejawat gue lagi nelpon, nah di belakang gue AC nyemprot dengan semangatnya, dingin beut, kadang bahkan sering bikin masuk angin (ati2 banget nih biar gak nyeritain itu2 lagi, meski jadinya bahasan super gak penting, Emang ada yg penting di tulisan ini? Ada!! nih di bawah…)

Mungkin ada di antara kalian yang bertanya, ngangkring di mana kok bisa keracunan? Gak ada? Abis baca kalimat pertama di paragraf ini pasti kalian nanya, wong baca kalimat pertanyaan, jadi pasti ada yang nanya *textception. Back to topic, kayak ada aja topiknya dari tadi, saat gue ngangkring tadi tiba-tiba waktu gue seakan “berhenti”, gue seakan-akan terdiam dalam sebuah ruangan hampa, kisah-kisah manusia berkelebatan di sekeliling gue (kisah2 temen gue di path sih sebenernya, biar lebay aja dibikin kisah-kisah manusia). Ada yang lagi menyongsong kehidupan baru, ada yang lagi berkaca-kaca membaca sebuah beca *maksa biar rhyming*, ada yang lagi ketawa2 krn postingan lucu, macem-macem. Saat itu, dengan bala-bala berbumbu kacang, di lengan kiri, ikut terdiam, gue merasa tertinggal. Gue merasa kisah kehidupan mereka bergerak begitu cepat, berkelebatan meninggalkan gue, yang bahkan bala2 aja masih terdiam sedari tadi. Lalu gue mikir, itu baru beberapa gelintir manusia yg ada di path, sedangkan di dunia ini ada milyaran kisah kehidupan yang terus bergerak setiap detiknya, ada yang bersenggolan, ada yang bersisian, ada juga yang terpisah jarak dan waktu, membentuk sebuah pintalan raksasa, pintalan kehidupan, yang terus membesar dan membesar tanpa ada kata berhenti, tanpa ada kata tak cukup lagi. Nah, karena kebayang pintalan super raksasa itu, gue jadi mikir gue sebesar apa di pintalan itu? Mungkin hanya sebesar biji jagung, atau bahkan lebih kecil lagi. Apakah bila gue gak ada, akan mempengaruhi bentuk dari pintalan itu? Kemungkinan besar sih nggak. Dunia akan terus berputar-dan berputar, dengan atau tanpa adanya gue di sana.

So apa artinya keberadaan gue? Gue mikirrr….mikirrrr….gak nemu jawabannya apa, gue malah kepikiran hal yang lain. Kalau semua mikir kayak gue, kalau semua manusia yang bagaikan biji jagung itu berpikir hal yang sama kayak gue, mempertanyakan eksistensi, maka mereka gak akan punya alasan lagi untuk terus bercerita, membuat kisah-kisah baru dalam kehidupan, berkejaran dengan kisah-kisah sahabatnya, keluarganya, kenalannya, teman penanya (macam di majalah bobo), dan milyaran biji jagung lainnya. Saat alasan tak ada, dunia akan berhenti memintal, dunia akan berhenti, dunia akan diam, untuk kemudian mati. 

Akibat pemikiran itu, gue sampai pada kesimpulan. Gue hidup untuk menjalani kisah, bersama dengan kisah-kisah biji jagung lainnya membentuk sebuah kisah raksasa dalam pintalan hidup, gue hidup untuk menjaga dunia tetap hidup. So, wahai kamu para biji jagung, teruslah bergerak, teruslah menorehkan rangkaian kata dalam lembaran hidupmu, karena itulah alasanmu ada, bersama-sama menjaga kehidupan. 

Dengan senyum simpul seperti cowok sampul (karena gue bukan gadis), waktu gue yang tadinya diam mulai berjalan dalam sebuah ketukan nada nan harmoni (gue gak ngerti ini artinya apa, tapi kayak keren aja gitu buat ditulis), dan sang bala2 pun bergerak memasuki rongga mulut, untuk kemudian hilang mengakhiri kisah kehidupannya yang begitu singkat. 

Aslik absurd banget ya tulisan gue kali ini? Yah namanya juga keracunan…..