Mendadak Nulis

Di sini, di bagian luar atau bisa disebut teras dari sebuah cafe yang lagi ngehitz di kota bandung, ditemani kopi papua wamena yang diseduh dengan cara “Siphon” di sisi kiri dari laptop yang lagi gue pakai ngetik ini, mendadak gue pengen nulis. Nulis tentang apa? entah, so mari kita meracau aja. 

Di kiri belakang gue lagi ada ibu-ibu sama remaja wanita lagi ngobrol sambil ketawa-ketawa, mereka tampak sangat menikmati suasana. Yang jadi pusat perhatian gue, gak pusat-pusat dan perhatian banget sih, sang remaja cewek asik menghisap sebatang rokok, not that I’m an anti smoker, karena gue juga bekas perokok (baru 1 minggu berenti sih), bukan juga karena dia seorang cewek dimana kalau gue melihat dari gendernya bisa-bisa gue dianggap mendeskriminasikan salah satu gender, tapi lebih karena masih muda kok udah ngerokok? Lah iyalah masa udah tua baru ngerokok? Kan biasanya orang-orang ngerokok karena dipengaruhi pergaulannya di masa muda. Ngomong-ngomong soal rokok, jadi keingetan omongan yang gue denger 1 minggu lalu; “Kak, temenku mulai ngerokok, diajakin temen-temennya, aku juga diajakin ngerokok, aku gak mau, biar aja diejekin banci, aku tetep gak mau” Statement penuh prinsip dari seorang anak berumur 10 tahun. Feeling gue semakin kuat bahwa someday dia akan jadi orang hebat. 

Siapa anak itu? Dia bernama panggilan Imar, nama lengkapnya gue lupa. Gue pertama kali ketemu dia di depan kostan, gue mau berangkat kerja, dia lagi kerja. Yes, dia kerja, jadi pemulung sampah. Dengan karung plastik yang terlalu besar buat badannya, tanpa sendal, dan sebatang tongkat untukk mengambil sampah di tangan mungilnya dia duduk bersama 3 kawannya di depan pintu gerbang kostan. Saat itu sekitar jam 8 pagi, masih masuk waktu sarapan bagi Indonesia bagian barat, so gue ajak mereka sarapan di circle K sebelah. Jadilah pop mie panas teman kami dalam obrolan kecil dan sederhana pagi itu. Mulai dari obrolan tentang kenapa mereka gak sekolah, standard, yang ternyata jawabannya adalah…lagi liburan kenaikan kelas, gak jadi dramatis hahahaha. Lalu perbincangan tentang tempat tinggal mereka di lapak pemulung di belakang komplek tempat kostan gue berada, next time gue akan cerita tentang tempat itu.

Diakhiri dengan obrolan singkat tentang impian mereka, ada yang bermimpi menjadi polisi, ada yang ingin menjadi pemain sepak bola, ada juga yang gak punya impian, pertemuan pagi itu telah menjadi salah satu cerita bergaris bawah dalam buku kehidupan gue. Mereka, yang bagi sebagian besar dari kita hanyalah bagaikan sebuah garis dalam telapak tangan, ada, dekat, tapi kadang tidak dipedulikan, ternyata berbahagia dengan cara mereka, bersuka dengan cara pandang mereka, tanpa keluhan sedikitpun keluar dari bibir mungil mereka.

Lain kali gue akan bercerita lebih banyak tentang mereka. Kenapa nanti? Karena sekarang mood nulis gue mulai ilang hahahaha…

Yah gitu deh racauan gue di sabtu siang ini, see you next time, mau ngabisin kopi dulu, sambil merhatiin ibu-ibu sexy 2 anak yang lagi sibuk sama pathnya….

Advertisements

2 comments

  1. travellingwithkeishinta · June 3, 2014

    jadi ceritanya dah berhenti merokok niih Om…. ciyehhhhhhh…. tinggal latihan lari pagi aja dong….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s