Entah sudah keberapa kalinya dia melirik jam tangan mungil merah jambu yang melingkar di pergelangan tangannya.

Dua jarum jam yang berdetak sunyi menyatakan bahwa telah 2 jam berlalu dari waktu yang ditentukan.

Jemarinya yang telah berhias diri perlahan mengangkat secangkir kopi yang telah kehilangan kehangatan. Cangkir ketiga pada sore itu.

Cairan hitam pekat itu hanya dia pandangi, seakan mencari warna lain di dalamnya. Tak berhasil, ia palingkan wajahnya ke arah kaca yang memisahkannya dengan dunia luar yang sedang hiruk pikuk karena butiran hujan yang turun tanpa peringatan dan basa-basi.

Butiran air yang membasahi kaca di hadapannya menimbulkan 1 pertanyaan di benaknya yang sedari tadi penuh kalimat-kalimat tak beraturan: “Apakah dia akan datang?”

To be continue

View on Path