Cucu Lebah no. 8

Ni cerita terjadinya di jaman dulu kala. Jaman dimana semua mahluk bisa bicara seperti manusia, seperti yang suka kita baca di dongeng2. Tapi ini bukang dongeng, ini cerita.

Pada saat itu, tersebutlah sekumpulan keluarga lebah. Mereka terdiri dari buyut lebah, kakek lebah, nenek lebah, ayah lebah, ibu lebah, lebah, anak lebah, cucu lebah, dan cicit lebah. Banyak sekali jumlah mereka, sampai2 kita gak bisa membedakan mana yg buyut mana cicit, wong mirip2 semua.

Tapi, ada 1 lebah yg berbeda dari yg lain, dia kurus, kepakan sayapnya lemah, dan dia selalu berada di deretan paling belakang bila keluarga lebah tersebut sedang terbang beriringan mencari madu. Ya, dialah si cucu lebah yang ke 8.

Pada awalnya, si cucu lebah sama seperti anggota keluarganya yang lain, penuh semangat, mencari madu di pagi hari, menyapa bunga2 yang baru terbangun, dan kembali ke sarang dengan senyum puas.

Akan tetapi, lama kelamaan si cucu lebah merasa ada yg kurang dengan hidupnya, bila ia lebah sunda dia akan berkata “askur euy” (asa kurang euy)
Dia mulai bosan dengan manisnya madu yg begitu2 saja, rasa yg dulu begitu ia puja sudah menjadi hambar, plain, seperti halnya hubungan asmara yang sudah bertahun2 berjalan tanpa variasi (iki opo toh?)

Mulailah ia mencari manis yg lain, manis yang tidak hambar seperti sekarang. Setiap pagi saat ia mencapai ladang bunga itu, ia akan terbang perlahan, matanya tajam mencari2 bunga yg paling indah diantara bunga yg lain. Dia berpikir, madu terbaik pasti berasal dari bunga terbaik pula.

Hari demi hari terlewati, bulan demi bulan terlampaui, tak juga ia mendapatkan bunga terbaik. Entah sudah berapa ladang bunga yg ia datangi, dia tidak tahu, karena lebah memang tidak bisa berhitung, akan sangat aneh bila mereka bisa, so weird.

Setahun sudah, kuruslah ia sekarang, sayapnya melemah, semua itu karena ia tidak pernah lagi mencicipi madu. Setiap pagi saat dia ke ladang dan memicingkan mata, para bunga memanggil2nya.

“Ayo cucu lebah no. 8, ambillah maduku, isaplah, jangan engkau menjadi seperti ini” *oke adegan ini mirip dolly, saritem, dan sarkem. Tapi maksud gw bukan itu. Serius.

Tapi ia hanya mengganggukan ekornya, ya ekornya, krn lebah gak punya leher, gak mungkin dia menganggukkan kepalanya. Dia tetap pada keyakinan bahwa suatu hari dia akan menemukan bunga yg lain daripada yg lain, bunga paling indah, paling cemerlang, paling manis, yang terbaik.

Sampailah pada pagi hari itu, keluarga lebah memutuskan untuk pergi ke sebuah ladang baru, letaknya agak jauh, kita sebut saja ladang coret. Walau jauh tetapi ladang ini terletak di antara dua bukit hijau, dimana di sela2 bukit tersebut terhampar sungai nan panjang berair jernih. Sangat indah.

Ketika sang cucu lebah sampai di ladang itu, terlambat seperti biasa, matanya membelalak kagum. Wow!! Ujarnya dalam hati, indah sekali, feelingku so good nih, kurasa disinilah aku akan menemukan apa yg kucari.

Dengan semangat ia hilir mudik, diantara bunga2 yang tersenyum, diantara anggota keluarganya yg sedang sibuk menghisap madu. Ia memicingkan matanya ke kiri dan ke kanan, terbang ke atas dan ke bawah, tapi ternyata nihil. Semua bunga ternyata sama saja, tidak ada yg special, tidak ada yg pake telor, just flower.

Putus asa ia mulai terbang keluar dari ladang tersebut, sampai suatu pemandangan membuatnya berhenti. Di pojok ladang itu, ada sebuah pohon yang besar sekali, di bawahnya ada sekuntum bunga yg sedang tertunduk.

Baru sekali ini si cucu lebah no. 8 melihat bunga yang tidak bersemangat, diliputi rasa penasaran ia menghampiri si bunga tunduk (kita sebut saja namanya ini, kalau ada usul boleh japri aja yes)

“Hai kamu” sapa cucu lebah
“Apa yg kamu lakukan di sini? Kenapa kamu tertunduk di sini? Gak gabung sama yg laen?”

Si bunga tunduk hanya tertunduk, dia ingin duduk tapi tak pakai handuk.

“Hai, coba ceritakan, kenapa kamu seperti ini? Baru sekali ini saya melihat bunga selesu kamu, kepo gw nih, cerita dong”

Tidak pernah ada yg mendesak seperti itu sebelumnya kepada si bunga tunduk, dan ia pun menolehkan wajahnya ke arah si cucu bunga. Di hadapannya tampaklah sesosok lebah, yang sangat2 kurus, sayapnya sobek dimana2, dan mata yg penuh oleh rasa penasaran.

“Oke beklaahhh” sambil menghela napas si bunga tunduk akhirnya berkata

Mulailah ia bercerita, bahwa dulu ia adalah bunga yg sama seperti yg lain, ceria pada pagi hari menunggu lebah2 datang, sampai suatu ketika dia merasa bosan dgn lebah yg begitu2 saja, dan ia ingin didatangi lebah terhebat, dan ia pun mulai menolak lebah2 yg lain. Blablabla sampailah ia pada kondisi skrng, sudah lama tak ada lebah yg menghampirinya, sudah lama tidak ada yg menghisap madu dari dirinya. Ia menjadi lesu, tidak menarik lagi. *sebenernya cerita si lebah bisa jg dibikin sependek ini ya.

“Wah, kisah hidupmu mirip dengan diriku. Aku mencari bunga yg terbaik tapi tak kunjung kudapatkan” ujar cucu lebah no. 8.

“Ya, tragis ya, selama ini aku mencari lebah terhebat, tapi sekarang aku merindukan masa2 dulu. Apa boleh buat, skrng semua sudah terlambat, tak ada lagi lebah yang tertarik pada diriku” sahut bunga tunduk sambil tersenyum lemah dan pandangan nanar.

Lebah pun ikutan nanar (bayangin lebah matanya nanar)

“Iya, akupun begitu, gosip tentang diriku yg suka milih2 dah sampai kemana2, skrng gak ada lagi bunga yg mau diambil madunya oleh diriku. Mereka menamakan diriku si lebah somseu”

Lama mereka bernanar2an sebelahan. Sampai si cucu lebah berteriak

“Hei!!! Kenapa kamu tidak memberikan madumu ke diriku saja untuk dihisap? Yah, mungkin untuk terakhir kalinya”

“Wah bener juga kamu bah” jawab si bunga *not bah in bataknese, but bah for lebah.

Merekapun tersenyum, salaman (entah gimana ini caranya, namanya juga cerita) dan si bunga tunduk pun mulai memekarkan helai2 bunganya, perlahan sang lebah mulai menghisap madu yg tersisa dr si bunga tunduk.

Perasaan itu, perasaan yg mereka tunggu selama bertahun lamanya muncul, inilah yg mereka cari selama ini, perasaan bahagia, bahagia yg tidak luar biasa, tapi pada porsi yang tepat. Bukan bahagia yg terbaik, tapi bahagia yg sepantasnya.

Mereka pun tersadar, pencarian akan yg terbaik dan terhebat adalah pencarian semu. Itu semua karena mereka tidak mensyukuri apa yg mereka dapatkan, si cucu lebah tidak bisa berbahagia dengan manisnya madu yg sehari2 didapat, si bunga tunduk tak puas dengan lebah yg biasa2 saja. Mereka pun mengerti, kebahagiaan ditentukan oleh sikap mereka terhadap apa yg dimiliki saat ini. Karena yg mereka miliki saat inilah yg terbaik dan terhebat, dan hanya butuh kesadaran untuk dapat menikmatinya.

Setelah pagi itu, si cucu lebah no. 8 mulai kembali bersemangat menjalani hari2nya, ia tidak pernah lagi memilih2 bunga. Si lebah tunduk pun begitu, ia kembali tersenyum, dan senyumannya itu membuat para lebah berdatangan kembali.

The End

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s